• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Sabtu, Maret 21, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home Deep

Dua Nyawa yang Hilang dan Luka Pelayanan Kesehatan Papua

Desember 30, 2025
in Deep
A A
Dua Nyawa yang Hilang dan Luka Pelayanan Kesehatan Papua

Ilustrasi momen duka di ruang bersalin, menunjukkan kesedihan seorang suami yang kehilangan istrinya, Martha Ngurmetan, dan bayi mereka di Rumah Sakit Marthen Indey, Jayapura. (Foto Ilustrasi Tabooo.id/Dimas P)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Tangisan memecah sunyi sebuah rumah duka di Jayapura. Bukan tangisan bayi yang baru lahir, melainkan isak keluarga yang kehilangan dua nyawa sekaligus. Martha Ngurmetan pergi tanpa sempat mendengar tangis anaknya sendiri. Bayi itu pun tak pernah menyapa dunia.

Ia datang ke rumah sakit dengan harapan paling sederhana yang dimiliki seorang ibu hamil pulang dalam keadaan selamat sambil menggendong kehidupan baru. Pada Jumat pagi, 26 Desember 2025, Martha melangkah masuk ke Rumah Sakit Marthen Indey. Saat itu pagi masih terang, senyum masih terlukis, dan tak satu pun firasat buruk hadir di benak keluarga.

Namun, belasan jam kemudian, harapan itu runtuh dan berganti keheningan yang menyakitkan.

Datang dengan Harapan, Menunggu dalam Sunyi

Sekitar pukul 09.15 WIT, Martha tiba di Unit Gawat Darurat khusus ibu hamil. Petugas menerimanya dengan prosedur standar. Pemeriksaan awal menunjukkan pembukaan satu. Detak jantung janin terdengar normal. Tekanan darah ibu stabil. Tidak ada tanda bahaya yang mencolok.

Beberapa jam berselang, tepatnya sekitar pukul 11.00 WIT, tenaga medis memulai induksi persalinan sesuai rujukan dokter. Proses itu tampak berjalan seperti rutinitas medis pada umumnya. Meski demikian, di balik prosedur yang terlihat rapi, keluarga mulai merasakan keganjilan kecil sesuatu yang kelak menjelma menjadi luka besar.

Seiring induksi berlangsung, Martha mulai merasakan nyeri hebat. Rintihannya terdengar berulang kali. Jam terus bergerak tanpa jeda. Siang beralih ke sore, lalu merambat ke malam. Di tengah waktu yang berjalan panjang itu, satu sosok penting tak kunjung hadir secara fisik: dokter spesialis kandungan.

Keluarga menyaksikan bidan datang dan pergi. Mereka melihat alat medis bekerja. Akan tetapi, mereka juga menyadari satu hal yang absen kehadiran dokter di sisi ranjang pasien.

Belasan Jam, Antara Telepon dan Pesan Singkat

Frans Koromat, perwakilan keluarga, mengenang jam-jam itu dengan suara bergetar. Menurut penuturannya, selama belasan jam dokter hanya memantau kondisi pasien dari jarak jauh. Laporan mengalir lewat sambungan telepon. Keputusan disampaikan melalui pesan singkat.

“Pasien kesakitan dari pagi sampai tengah malam, Namun dokter tidak datang bukan pagi, bukan siang, bukan sore, bahkan bukan malam.” ujar Frans.

RelatedPosts

Kiamat Tidak Menunggu Zona Waktu

Pantai yang Kita Banggakan, atau yang Kita Abaikan?

Bagi keluarga yang awam dunia medis, situasi itu terasa menyesakkan. Mereka berada di ruang perawatan, tetapi tak sepenuhnya memahami apa yang sedang terjadi. Istilah medis terlontar cepat. Risiko disebutkan sekilas. Sayangnya, penjelasan itu tak pernah benar-benar mereka cerna.

Ketika pembicaraan mengenai operasi caesar muncul, kebingungan pun memuncak. Tidak ada penjelasan tatap muka yang menenangkan. Tak ada dialog yang memberi rasa aman untuk mengambil keputusan cepat. Padahal, di ruang bersalin, waktu adalah segalanya. Ironisnya, waktu justru terus berjalan tanpa kepastian.

Dini Hari yang Menjadi Titik Patah

Menjelang pukul 02.00 WIT, keluarga meminta izin agar adik Martha masuk ke ruang perawatan untuk memberi penguatan mental dan spiritual. Petugas menolak permintaan itu dengan alasan observasi medis. Pintu tetap tertutup. Doa hanya bisa dikirim dari balik dinding.

Tak lama kemudian, sekitar setengah jam berselang, ketuban pecah secara spontan. Airnya tampak jernih. Pembukaan hampir lengkap. Dari sisi medis, proses persalinan terlihat mendekati akhir.

Namun pada pukul 02.32 WIT, semuanya runtuh dalam hitungan menit. Martha tiba-tiba berhenti bernapas. Wajahnya membiru. Nadinya melemah. Seketika, ruang bersalin berubah menjadi arena darurat.

Tim medis bergerak cepat. Mereka melakukan resusitasi jantung paru, memasang oksigen, dan memberikan obat-obatan darurat. Meski begitu, dokter spesialis baru tiba sekitar pukul 03.17 WIT. Saat itu, waktu sudah terlalu jauh tertinggal.

Akhirnya, pada pukul 03.55 WIT, Martha dinyatakan meninggal dunia. Bayi dalam kandungannya ikut pergi bersamanya.

Penjelasan Medis dan Jarak Emosi

Pihak rumah sakit kemudian menyampaikan versi medis atas peristiwa tersebut. Dokter menyebut penyebab kematian diduga emboli air ketuban komplikasi persalinan yang langka, terjadi sangat cepat, dan sering kali berujung fatal. Secara teori, penjelasan itu terdengar masuk akal. Dari sudut pandang medis, kondisi ini memang sulit dicegah.

Namun bagi keluarga, jawaban itu belum menutup satu pertanyaan mendasar apakah kehadiran dokter secara fisik sejak awal bisa mengubah hasil akhir?

Rumah sakit menyatakan telah memantau kondisi ibu dan janin secara berkala. Edukasi mengenai opsi operasi caesar disebut sudah diberikan. Proses induksi pun diklaim berjalan sesuai tahapan.

Di atas kertas, prosedur tampak rapi. Akan tetapi, di ruang duka, yang tertinggal justru perasaan ditinggalkan.

Yang Hilang dari Sistem: Kehadiran

Kasus Martha bukan semata soal komplikasi medis. Tragedi ini membuka kembali luka lama dalam sistem layanan kesehatan jarak antara prosedur dan kemanusiaan.

Dalam situasi kritis, kehadiran dokter bukan sekadar fungsi klinis. Kehadiran itu mencerminkan tanggung jawab, menjadi pengambil keputusan, sekaligus penenang bagi keluarga yang panik.

Sistem mungkin berjalan sesuai standar. Namun sering kali, standar melupakan satu hal mendasar manusia tidak hanya membutuhkan tindakan medis, tetapi juga keyakinan bahwa nyawanya benar-benar dijaga.

Belasan jam tanpa kehadiran dokter secara fisik bukan sekadar persoalan jadwal. Ia menyangkut siapa yang berdiri paling dekat ketika hidup berada di ujung batas.

Langkah Hukum dan Luka yang Tak Bisa Pulih

Atas peristiwa ini, keluarga Martha memilih menempuh jalur hukum. Mereka tidak mencari sensasi. Yang mereka cari adalah keadilan jawaban yang lebih dari sekadar istilah medis.

Bagi keluarga, kehilangan ini tak akan pernah tergantikan. Meski begitu, mereka berharap tragedi ini tidak berubah menjadi rutinitas yang terulang tanpa koreksi.

Martha bukan satu-satunya. Di banyak daerah, ibu hamil masih harus berhadapan dengan sistem kesehatan yang kewalahan, hierarkis, dan kerap absen secara manusiawi.

Pertanyaan yang Tertinggal

Di ruang bersalin, waktu adalah nyawa. Setiap menit memiliki arti. Setiap keputusan menentukan hidup dan mati.

Saat seorang ibu datang dengan harapan pulang membawa kehidupan, siapa seharusnya berdiri paling dekat dengannya?

Jika sistem terlalu sibuk mencatat prosedur, lalu siapa yang memastikan manusia tidak berubah menjadi sekadar angka laporan?

Martha telah pergi. Bayinya ikut senyap.
Yang tersisa kini adalah pertanyaan serta kewajiban moral agar tak ada ibu lain yang menunggu terlalu lama di ruang bersalin, hanya untuk ditinggalkan oleh waktu, sistem, dan kehadiran yang seharusnya ada. @dimas

Tags: Frans KoromatHak PasienibuJayapuraKemanusiaanKematianKesehatanKeselamatanKrisisLayananMarthaMedisMelahirkanpapuaRumah Sakit Marthen Indey
Next Post
Resident Evil Requiem: Hotel Tua, Teror Baru, Trauma Lama

Resident Evil Requiem: Hotel Tua, Teror Baru, Trauma Lama

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

6 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • Malam Takbiran: Antara Euforia Perayaan dan Sunyi Refleksi

    Malam Takbiran: Antara Euforia Perayaan dan Sunyi Refleksi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kuta Saat Senja: Ketika Malam Mulai Dibuka untuk Dunia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Lebaran Beda Hari, Antara Ilmu, Ego, dan Toleransi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 7.039 Pemudik Gratis Tiba di Tirtonadi, Mayoritas dari DKI Jakarta

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prabowo Sebut Penyiraman Aktivis KontraS Terorisme, Harus Usut Dalangnya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.