Tabooo.id: Deep – Tangisan memecah sunyi sebuah rumah duka di Jayapura. Bukan tangisan bayi yang baru lahir, melainkan isak keluarga yang kehilangan dua nyawa sekaligus. Martha Ngurmetan pergi tanpa sempat mendengar tangis anaknya sendiri. Bayi itu pun tak pernah menyapa dunia.
Ia datang ke rumah sakit dengan harapan paling sederhana yang dimiliki seorang ibu hamil pulang dalam keadaan selamat sambil menggendong kehidupan baru. Pada Jumat pagi, 26 Desember 2025, Martha melangkah masuk ke Rumah Sakit Marthen Indey. Saat itu pagi masih terang, senyum masih terlukis, dan tak satu pun firasat buruk hadir di benak keluarga.
Namun, belasan jam kemudian, harapan itu runtuh dan berganti keheningan yang menyakitkan.
Datang dengan Harapan, Menunggu dalam Sunyi
Sekitar pukul 09.15 WIT, Martha tiba di Unit Gawat Darurat khusus ibu hamil. Petugas menerimanya dengan prosedur standar. Pemeriksaan awal menunjukkan pembukaan satu. Detak jantung janin terdengar normal. Tekanan darah ibu stabil. Tidak ada tanda bahaya yang mencolok.
Beberapa jam berselang, tepatnya sekitar pukul 11.00 WIT, tenaga medis memulai induksi persalinan sesuai rujukan dokter. Proses itu tampak berjalan seperti rutinitas medis pada umumnya. Meski demikian, di balik prosedur yang terlihat rapi, keluarga mulai merasakan keganjilan kecil sesuatu yang kelak menjelma menjadi luka besar.
Seiring induksi berlangsung, Martha mulai merasakan nyeri hebat. Rintihannya terdengar berulang kali. Jam terus bergerak tanpa jeda. Siang beralih ke sore, lalu merambat ke malam. Di tengah waktu yang berjalan panjang itu, satu sosok penting tak kunjung hadir secara fisik: dokter spesialis kandungan.
Keluarga menyaksikan bidan datang dan pergi. Mereka melihat alat medis bekerja. Akan tetapi, mereka juga menyadari satu hal yang absen kehadiran dokter di sisi ranjang pasien.
Belasan Jam, Antara Telepon dan Pesan Singkat
Frans Koromat, perwakilan keluarga, mengenang jam-jam itu dengan suara bergetar. Menurut penuturannya, selama belasan jam dokter hanya memantau kondisi pasien dari jarak jauh. Laporan mengalir lewat sambungan telepon. Keputusan disampaikan melalui pesan singkat.
“Pasien kesakitan dari pagi sampai tengah malam, Namun dokter tidak datang bukan pagi, bukan siang, bukan sore, bahkan bukan malam.” ujar Frans.
Bagi keluarga yang awam dunia medis, situasi itu terasa menyesakkan. Mereka berada di ruang perawatan, tetapi tak sepenuhnya memahami apa yang sedang terjadi. Istilah medis terlontar cepat. Risiko disebutkan sekilas. Sayangnya, penjelasan itu tak pernah benar-benar mereka cerna.
Ketika pembicaraan mengenai operasi caesar muncul, kebingungan pun memuncak. Tidak ada penjelasan tatap muka yang menenangkan. Tak ada dialog yang memberi rasa aman untuk mengambil keputusan cepat. Padahal, di ruang bersalin, waktu adalah segalanya. Ironisnya, waktu justru terus berjalan tanpa kepastian.
Dini Hari yang Menjadi Titik Patah
Menjelang pukul 02.00 WIT, keluarga meminta izin agar adik Martha masuk ke ruang perawatan untuk memberi penguatan mental dan spiritual. Petugas menolak permintaan itu dengan alasan observasi medis. Pintu tetap tertutup. Doa hanya bisa dikirim dari balik dinding.
Tak lama kemudian, sekitar setengah jam berselang, ketuban pecah secara spontan. Airnya tampak jernih. Pembukaan hampir lengkap. Dari sisi medis, proses persalinan terlihat mendekati akhir.
Namun pada pukul 02.32 WIT, semuanya runtuh dalam hitungan menit. Martha tiba-tiba berhenti bernapas. Wajahnya membiru. Nadinya melemah. Seketika, ruang bersalin berubah menjadi arena darurat.
Tim medis bergerak cepat. Mereka melakukan resusitasi jantung paru, memasang oksigen, dan memberikan obat-obatan darurat. Meski begitu, dokter spesialis baru tiba sekitar pukul 03.17 WIT. Saat itu, waktu sudah terlalu jauh tertinggal.
Akhirnya, pada pukul 03.55 WIT, Martha dinyatakan meninggal dunia. Bayi dalam kandungannya ikut pergi bersamanya.
Penjelasan Medis dan Jarak Emosi
Pihak rumah sakit kemudian menyampaikan versi medis atas peristiwa tersebut. Dokter menyebut penyebab kematian diduga emboli air ketuban komplikasi persalinan yang langka, terjadi sangat cepat, dan sering kali berujung fatal. Secara teori, penjelasan itu terdengar masuk akal. Dari sudut pandang medis, kondisi ini memang sulit dicegah.
Namun bagi keluarga, jawaban itu belum menutup satu pertanyaan mendasar apakah kehadiran dokter secara fisik sejak awal bisa mengubah hasil akhir?
Rumah sakit menyatakan telah memantau kondisi ibu dan janin secara berkala. Edukasi mengenai opsi operasi caesar disebut sudah diberikan. Proses induksi pun diklaim berjalan sesuai tahapan.
Di atas kertas, prosedur tampak rapi. Akan tetapi, di ruang duka, yang tertinggal justru perasaan ditinggalkan.
Yang Hilang dari Sistem: Kehadiran
Kasus Martha bukan semata soal komplikasi medis. Tragedi ini membuka kembali luka lama dalam sistem layanan kesehatan jarak antara prosedur dan kemanusiaan.
Dalam situasi kritis, kehadiran dokter bukan sekadar fungsi klinis. Kehadiran itu mencerminkan tanggung jawab, menjadi pengambil keputusan, sekaligus penenang bagi keluarga yang panik.
Sistem mungkin berjalan sesuai standar. Namun sering kali, standar melupakan satu hal mendasar manusia tidak hanya membutuhkan tindakan medis, tetapi juga keyakinan bahwa nyawanya benar-benar dijaga.
Belasan jam tanpa kehadiran dokter secara fisik bukan sekadar persoalan jadwal. Ia menyangkut siapa yang berdiri paling dekat ketika hidup berada di ujung batas.
Langkah Hukum dan Luka yang Tak Bisa Pulih
Atas peristiwa ini, keluarga Martha memilih menempuh jalur hukum. Mereka tidak mencari sensasi. Yang mereka cari adalah keadilan jawaban yang lebih dari sekadar istilah medis.
Bagi keluarga, kehilangan ini tak akan pernah tergantikan. Meski begitu, mereka berharap tragedi ini tidak berubah menjadi rutinitas yang terulang tanpa koreksi.
Martha bukan satu-satunya. Di banyak daerah, ibu hamil masih harus berhadapan dengan sistem kesehatan yang kewalahan, hierarkis, dan kerap absen secara manusiawi.
Pertanyaan yang Tertinggal
Di ruang bersalin, waktu adalah nyawa. Setiap menit memiliki arti. Setiap keputusan menentukan hidup dan mati.
Saat seorang ibu datang dengan harapan pulang membawa kehidupan, siapa seharusnya berdiri paling dekat dengannya?
Jika sistem terlalu sibuk mencatat prosedur, lalu siapa yang memastikan manusia tidak berubah menjadi sekadar angka laporan?
Martha telah pergi. Bayinya ikut senyap.
Yang tersisa kini adalah pertanyaan serta kewajiban moral agar tak ada ibu lain yang menunggu terlalu lama di ruang bersalin, hanya untuk ditinggalkan oleh waktu, sistem, dan kehadiran yang seharusnya ada. @dimas




