Tabooo.id: Nasional – Suasana Hotel Navator di Surabaya terasa lebih tegang dari biasanya, pada Sabtu (22/11/2025) malam . Puluhan Ketua Pengurus Wilayah NU (PWNU) datang dari berbagai daerah, bukan untuk agenda rutin, tetapi untuk membahas isu yang belakangan bikin jagat NU panas: desakan pemakzulan Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya. Rapat berlangsung tertutup sejak pukul 19.33 hingga lewat tengah malam, namun pesan dari dalam ruang pertemuan akhirnya keluar mayoritas PWNU tak ingin Gus Yahya mundur.
Usai rapat, Gus Yahya muncul dengan wajah yang tampak lebih lega. Ia menyampaikan bahwa para Ketua PWNU justru khawatir dirinya memilih angkat kaki dari posisi ketua umum.
“Mereka tidak mau saya mundur. Mereka memilih saya dan akan kecewa kalau saya mundur. Saya juga tidak pernah berniat mundur, karena tidak ada alasan,” tegasnya.
Dari data kehadiran yang beredar, ada sekitar 20 PWNU yang hadir. Walau tidak mewakili keseluruhan, angka itu cukup menunjukkan bahwa dinamika internal PBNU tidak sesepi apa yang terlihat dari luar.
Penjelasan, Isu Pemakzulan, dan Konsolidasi Baru
Gus Yahya menjelaskan bahwa ia memanfaatkan forum itu untuk memaparkan apa saja yang terjadi dalam beberapa hari terakhir termasuk isu pemakzulan yang muncul lewat dokumen Risalah Rapat Harian Syuriyah PBNU tertanggal 20 November 2025. Dokumen itu ditandatangani Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan disebut dihadiri 37 dari 53 pengurus Syuriyah. Namun hingga kini, keabsahannya masih belum terkonfirmasi.
Menurut Gus Yahya, para PWNU mendengarkan penjelasannya dan mengaku memperoleh gambaran lebih utuh. Setelah itu, para perwakilan daerah memutuskan akan melakukan konsolidasi lanjutan secara independen. Gus Yahya memilih tidak ikut campur.
“Silakan mereka menyusun kesepakatan sendiri. Mereka akan bekerja secara mandiri,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa NU bukan organisasi milik segelintir elit PBNU. Pengurus daerah, menurutnya, memiliki hak dan tanggung jawab untuk menentukan arah organisasi. Apalagi jika masalah yang muncul berpotensi berdampak nasional.
Masalah NU adalah Masalah Indonesia
Dalam beberapa pernyataannya, Gus Yahya berulang kali menyelipkan pesan bahwa NU memegang pengaruh besar dalam kehidupan sosial dan politik Indonesia.
“Separuh wajah Indonesia ini adalah NU. Kalau NU tidak baik, wajah Indonesia bisa ikut tidak baik,” katanya.
Pernyataan itu bukan lebay. Dengan basis massa terbesar di Indonesia, konflik internal PBNU bukan sekadar urusan elite ormas ini soal stabilitas sosial, bahkan politik.
Karena itu, sikap PWNU menjadi penting. Jika daerah mulai bergerak, geserannya bisa terasa hingga tingkat nasional. Sebaliknya, jika pengurus daerah tetap solid, isu pemakzulan bisa selesai sebelum sempat menjalar menjadi perpecahan terbuka.
Siapa Diuntungkan, Siapa Dirugikan?
Di tengah kisruh ini, pihak yang paling diuntungkan adalah kelompok daerah yang ingin menjaga kestabilan NU. Mereka berkepentingan agar organisasi tetap berjalan tanpa drama berkepanjangan. Selain itu, kepemimpinan Gus Yahya yang masih memiliki dukungan kuat di PWNU membuat sebagian pihak merasa lebih aman setidaknya untuk saat ini.
Di sisi lain, kelompok yang mendorong perubahan cepat di PBNU jelas tidak diuntungkan. Isu pemakzulan yang seharusnya menjadi momentum mereka kini justru terbentur konsolidasi PWNU. Jika dokumen risalah terbukti tidak kuat atau tidak bulat, dorongan memakzulkan ketua umum bisa kehilangan pijakan.
Yang paling dirugikan? Masyarakat NU di akar rumput. Mereka bukan pengusung agenda pemakzulan, bukan pula bagian dari lobi-lobi elit. Tetapi di lapangan, mereka adalah kelompok yang akan terkena imbas paling cepat jika konflik ini melebar ketidakpastian organisasi, perpecahan antar-kiai, hingga terganggunya kegiatan sosial-keagamaan.
NU dan Jalan Keluar yang Dicari-Cari
Gus Yahya mengaku tidak akan berhenti mencari solusi. Ia yakin pengalaman panjang NU yang sudah melewati berbagai badai akan membantu organisasi menemukan jalan pulang.
“Insyaallah akan ada jalan keluar untuk kemaslahatan bersama,” ujarnya.
NU pernah menghadapi konflik yang jauh lebih keras di masa lalu termasuk dualisme kepemimpinan dan tarik-menarik politik nasional. Namun ia tetap bertahan. Pertanyaannya kini apakah NU kembali bisa melewati badai ini tanpa retak besar?
Kisruh pemakzulan ini membuka satu kenyataan penting: semakin besar sebuah organisasi, semakin besar pula godaan politik internalnya. Dan kalau NU memang separuh wajah Indonesia seperti kata Gus Yahya, mungkin sudah saatnya semua pihak sadar jangan sampai wajah itu ikut kusut hanya karena soal kursi.
Karena kalau urusan kursi membuat bangsa ini ribut terus, bukankah lebih baik sekalian cari kursi baru saja? @dimas





