Senin, Oktober 19, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

DPR di Ruang Sidang: Pengawasan atau Intervensi?

by dimas
Februari 27, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Deep – Jaksa berdiri tegak di ruang sidang Pengadilan Negeri Batam. Suaranya memotong keheningan. “Serahkan perkara ini kepada majelis hakim.” Kalimat itu terdengar seperti pagar yang ingin menutup ruang perdebatan. Namun di luar gedung, suara lain sudah lebih dulu menggema: anggota DPR, tokoh masyarakat, dan publik ikut berbicara.

Negara ini mengaku menjunjung supremasi hukum. Namun setiap kali wakil rakyat menyentuh perkara yang masih berjalan, publik langsung bertanya: apakah DPR sedang menjalankan fungsi pengawasan, atau sedang mendorong palu hakim dari balik meja politik?

Dua Ton Sabu dan Satu Nama di Ujung Rantai

Aparat menangkap kapal Sea Dragon di Tanjung Balai Karimun pada Mei 2025. Mereka menemukan hampir dua ton sabu 1.995.130 gram di dalamnya. Jaksa kemudian menuntut hukuman mati terhadap para terdakwa, termasuk seorang anak buah kapal bernama Fandi Ramadhan.

Negara melihat angka, berat barang bukti, dan ancaman maksimal undang-undang. Namun keluarga Fandi melihat anak yang baru tiga hari bekerja di kapal itu. Ia menerima pekerjaan tersebut untuk membantu orangtuanya dan membiayai sekolah adiknya. Ia mengaku tidak mengetahui adanya muatan narkotika.

Di titik ini, hukum berdiri berhadapan dengan realitas sosial.

Ini Belum Selesai

BBM Tersendat, ASN WFH Jadi Jawaban: Bagaimana dengan Akar Masalahnya?

Prabowo Bertemu Guterres di Hambalang: Diplomasi Akrab, Hasilnya Harus Terukur

DPR Turun Tangan, Batas Konstitusi Mengencang

Komisi III DPR RI ikut menyoroti perkara ini. Ketua Komisi III, Habiburokhman, meminta Jaksa Agung Muda Bidang Pengawasan menegur jaksa yang dalam repliknya menyiratkan tudingan bahwa DPR dan masyarakat mengintervensi perkara. Ia menegaskan DPR menjalankan fungsi pengawasan, bukan mencampuri teknis peradilan.

Pernyataan itu langsung memicu perdebatan. Sebagian publik memuji langkah DPR karena berani mengawal rasa keadilan. Namun sebagian lain khawatir DPR melampaui batas dan memasuki wilayah yang seharusnya hanya disentuh hakim.

Ketua Komisi Kejaksaan RI, Pujiyono Suwadi, memandang kehadiran DPR sebagai respons atas kelemahan struktural hukum acara pidana. Ia menilai sistem pembuktian sering membebani pihak lemah. Untuk membantah tudingan niat jahat, terdakwa kerap harus menghadirkan ahli. Sementara itu, tidak semua ahli bersedia membantu tanpa bayaran. Akibatnya, orang miskin sering kalah sebelum benar-benar bertarung.

Di sisi lain, pakar hukum pidana Albert Aries mengingatkan batas konstitusional. Ia menegaskan Pasal 24 UUD 1945 memberi hakim kekuasaan yang merdeka. DPR boleh mengawasi pelaksanaan undang-undang, tetapi tidak boleh mengarahkan pertimbangan hakim dalam perkara konkret.

Semua pihak berbicara tentang keadilan. Namun masing-masing berdiri di garis yang berbeda.

Politik dan Hukum: Siapa Mengawasi Siapa?

Kita tidak bisa memisahkan politik dari hukum begitu saja. Keduanya tumbuh dalam ruang kekuasaan yang sama. Ketika DPR menyuarakan sikap atas satu perkara, publik sulit mengabaikan dimensi politik di baliknya.

Sorotan DPR bisa melindungi terdakwa dari kesewenang-wenangan. Sorotan itu juga bisa mendorong aparat bekerja lebih transparan. Namun sorotan yang sama dapat berubah menjadi tekanan, apalagi jika publik membaca pernyataan politik sebagai sinyal kepada hakim.

Pertanyaan paling penting bukan hanya “boleh atau tidak”, melainkan “untuk siapa”.

Apakah DPR benar-benar ingin memperbaiki akses keadilan bagi kelompok rentan? Ataukah DPR memanfaatkan momentum untuk membangun citra sebagai pembela rakyat kecil?

Wajah Ibu dan Bayang Hukuman Mati

Di luar perdebatan konstitusi, ada orangtua yang menunggu putusan dengan napas tertahan. Sulaiman dan Nirwana tidak memegang kitab hukum. Mereka hanya memegang keyakinan bahwa anaknya tidak mengetahui isi kapal yang ia tumpangi.

Negara menuntut hukuman mati demi efek jera. Negara ingin mengirim pesan keras kepada jaringan narkotika. Namun jaringan besar jarang berdiri di ruang sidang sebagai terdakwa utama. Rantai itu sering berakhir pada pekerja lapangan yang mudah digantikan.

Jika Fandi benar tidak mengetahui muatan kapal, maka sistem telah menyeret orang yang paling lemah dalam rantai kejahatan. Namun jika ia mengetahui dan tetap terlibat, maka hukum berhak menjatuhkan sanksi tegas. Proses pembuktianlah yang harus menjawabnya bukan opini, bukan tekanan, bukan simpati.

Reformasi atau Drama Berkala?

Kasus ini menyingkap persoalan yang lebih besar dari satu nama. Hukum acara pidana kita masih menyisakan jurang akses keadilan. Bantuan hukum belum merata. Pembuktian sering menuntut biaya tinggi. Kelompok miskin kerap menghadapi sistem yang terasa asing dan mahal.

Jika DPR benar ingin memperbaiki keadaan, maka DPR harus mendorong reformasi struktural: memperkuat bantuan hukum, memperjelas standar pembuktian, dan memastikan setiap terdakwa mendapat pembelaan setara. Tanpa langkah itu, keterlibatan DPR hanya menjadi respons sporadis terhadap kasus yang ramai diperbincangkan.

Keadilan tidak boleh bergantung pada seberapa keras sorotan kamera atau seberapa sering nama terdakwa disebut di ruang rapat.

Demokrasi di Ujung Palu

Ketika hakim mengetuk palu nanti, putusan itu akan berbicara lebih keras daripada semua pernyataan politik. Putusan itu akan menguji apakah sistem peradilan mampu berdiri tegak tanpa tekanan, sekaligus tetap peka terhadap ketimpangan sosial.

Demokrasi yang sehat membutuhkan DPR yang berani mengawasi. Demokrasi juga membutuhkan hakim yang bebas dari bayang-bayang politik. Keduanya harus berjalan beriringan, bukan saling menekan.

Di negeri yang sering menggaungkan keadilan, pertanyaan paling tajam justru datang dari mereka yang tidak memiliki kuasa: apakah hukum benar-benar melindungi yang lemah, atau hanya terlihat tegas ketika berdiri di hadapan mereka?

Dan di sanalah, di antara suara jaksa, pernyataan DPR, dan doa orangtua, demokrasi kita sedang diuji bukan oleh retorika, tetapi oleh keberanian menegakkan keadilan tanpa takut dan tanpa pilih kasih. @dimas

Tags: AksesDPRHakimHukumanKasusKeadilanKomisi IIIKriminal & HukumMatiPeradilanPolitik IndonesiaReformasiSupremasi

Kamu Melewatkan Ini

Jokowi Tak Lagi Bicara Dua Periode: Sinyal Politik atau Sekadar Menahan Diri?

Jokowi Tak Lagi Bicara Dua Periode: Sinyal Politik atau Sekadar Menahan Diri?

by dimas
Oktober 10, 2026

Jokowi tak lagi menegaskan dukungan dua periode untuk Prabowo-Gibran. Sinyal politik menuju Pilpres 2029 atau sekadar sikap hati-hati? Tabooo.id -...

Panggung Politik: Ketika Perhatian Mengalahkan Pertanggungjawaban

Panggung Politik: Ketika Perhatian Mengalahkan Pertanggungjawaban

by dimas
Oktober 8, 2026

Panggung politik kerap mengejar perhatian publik. Namun, di balik sorotan, pertanggungjawaban, kebijakan, dan suara warga tetap harus diuji. Tabooo.id -...

Bupati Siak Menangis Lihat Guru dan Siswa di Pelosok: Kekayaan Migas ke Mana?

Bupati Siak Menangis Lihat Guru dan Siswa di Pelosok: Kekayaan Migas ke Mana?

by teguh
Oktober 5, 2026

Bupati Siak Afni Zulkifli menangis saat melihat kondisi guru dan siswa di Dusun Mungkal, Kabupaten Siak, Riau, Jumat, 02/10/2026. Tabooo.id:...

Next Post
Ko Erwin Dicegat Saat Kabur, Bareskrim Usut Setoran Rp 2,8 Miliar

Jejak Uang di Balik Gagalnya Pelarian Ko Erwin

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id