Rabu, Juni 10, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Jejak Uang di Balik Gagalnya Pelarian Ko Erwin

by dimas
Februari 27, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Angin laut Pematang Silo siang itu tidak hanya membawa bau asin, tetapi juga kepanikan. Sebuah kapal kayu melaju pelan menuju batas perairan. Di atas geladaknya, pria 57 tahun itu menatap garis samar yang memisahkan Indonesia dan Malaysia. Ia paham risikonya: keberhasilan menyeberang akan mengubah arah cerita, sedangkan kegagalan membuka jejak uang yang selama ini tersembunyi.

Pria tersebut bernama Erwin bin Iskandar, yang publik kenal sebagai Ko Erwin.

Pada Kamis, 26 Februari 2026 pukul 13.30 WIB, tim gabungan Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri memotong laju kapal sebelum memasuki wilayah hukum Malaysia. Polisi bergerak cepat dan menutup peluang pelarian. Ombak tak sempat membawa kapal itu lebih jauh.

Penangkapan tersebut bukan akhir. Peristiwa itu justru menjadi pintu masuk untuk membongkar dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) dalam jaringan narkotika yang lebih luas.

Di Indonesia, aparat sering menyita barang bukti narkoba. Namun, penegak hukum kerap berhenti sebelum menelusuri aliran dananya sampai ke sumber utama.

Ini Belum Selesai

UU Polri Baru: Reformasi, Regenerasi, atau Konsolidasi Kekuasaan?

Pusaka Milik Raja atau Dinasti? Konflik Lama Karaton Solo yang Tak Pernah Selesai

Dari Laut ke Ruang Forensik

Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Brigjen Pol Eko Hadi Santoso, segera memerintahkan pengembangan perkara. Ia meminta tim tidak terpaku pada penangkapan fisik. Penyidik lalu memetakan arus transaksi, menganalisis data keuangan, dan menelusuri dugaan pencucian uang.

Sehari berselang, Eko menginstruksikan pemeriksaan digital forensik terhadap ponsel yang disita. Penyidik juga menggelar perkara untuk menyusun konstruksi hukum yang menyeluruh serta memperluas pencarian jaringan.

Tim menyita uang tunai Rp 4,8 juta, 20.000 ringgit Malaysia, satu jam tangan mewah merek TAG Heuer, dan satu telepon genggam Samsung dari tangan Ko Erwin. Nominal tersebut memang tidak mencerminkan isu setoran miliaran rupiah yang beredar. Meski begitu, data dalam ponsel berpotensi mengungkap hubungan dan aliran dana yang lebih besar.

Awal perkara ini berasal dari pengembangan kasus AKP Malaungi di wilayah Polda NTB. Dalam pemeriksaan lanjutan, penyidik menemukan indikasi keterlibatan sejumlah pihak dalam sindikat narkotika. Dari rangkaian temuan itu, nama Ko Erwin muncul sebagai sosok yang diduga memegang peran strategis.

Kepingan informasi kemudian mengarah pada dugaan aliran dana besar untuk membeli perlindungan agar peredaran narkotika di Bima Kota berjalan tanpa gangguan.

Retaknya Integritas

Pengusutan kasus ini mengguncang internal kepolisian. Pemeriksaan meluas hingga jajaran pimpinan Polres Bima Kota dan berujung pada penonaktifan serta pemberhentian AKBP Didik Putra Kuncoro dari jabatan Kapolres.

Apabila penyidik membuktikan aliran dana tersebut, persoalan ini tidak lagi sebatas upaya pelarian seorang bandar. Kasus ini akan menunjukkan celah serius dalam sistem penegakan hukum.

Bisnis narkotika tidak hanya menjual zat terlarang. Praktik ini membangun pengaruh, membeli keheningan, dan menciptakan jaringan perlindungan. Selama keuntungan besar tersedia, sindikat terus mencari titik lemah sistem.

Pertanyaan mendasarnya jelas: siapa yang mengawasi para penjaga hukum?

Uang yang mengalir untuk perlindungan tidak hanya menguntungkan bandar. Oknum penerima ikut menikmati hasilnya. Pada saat yang sama, masyarakat menanggung kerugian sosial mulai dari generasi muda yang terjerat hingga turunnya kepercayaan publik terhadap institusi.

Membongkar Akar Masalah

Di lapangan, jaringan narkotika tidak hanya melibatkan aktor besar. Kurir, sopir, hingga nelayan kerap terseret karena tekanan ekonomi. Kebutuhan hidup mendorong mereka mengambil risiko tinggi.

Sementara itu, pengendali utama sering mengatur operasi dari jarak aman. Mereka memanfaatkan teknologi dan menyamarkan transaksi melalui skema pencucian uang yang rapi.

Karena itulah, penelusuran TPPU menjadi langkah krusial. Tanpa membongkar arus dana, aparat hanya memutus satu mata rantai dan membiarkan akar persoalan tetap tumbuh.

Ujian Konsistensi

Kini Ko Erwin menjalani pemeriksaan intensif di Dittipidnarkoba Bareskrim Polri. Penyidik memeriksa transaksi, menelusuri komunikasi, dan menyusun berkas perkara. Publik menunggu kelanjutan proses ini dengan harapan yang jelas.

Apakah aparat akan menuntaskan penelusuran hingga ke penerima dana terakhir? Ataukah kasus ini berhenti pada satu nama?

Laut Pematang Silo sudah kembali tenang, tetapi gelombang pertanyaan belum mereda. Integritas penegakan hukum berada dalam sorotan.

Negara dapat menunjukkan ketegasannya bukan hanya dengan menangkap pelaku, melainkan dengan membongkar sistem yang memungkinkan kejahatan itu tumbuh. Jika hukum ditegakkan tanpa kompromi, kepercayaan publik akan pulih. Sebaliknya, pembiaran hanya memperkuat keyakinan bahwa uang masih lebih berpengaruh daripada undang-undang. @dimas

Tags: AparatBareskrimDanaIntegritasInvestigasiKasusKriminalKriminal & HukumnarkobaNarkotikaPenegakanPolri

Kamu Melewatkan Ini

UU Polri Baru: Reformasi, Regenerasi, atau Konsolidasi Kekuasaan?

UU Polri Baru: Reformasi, Regenerasi, atau Konsolidasi Kekuasaan?

by Tabooo
Juni 10, 2026

UU Polri baru tidak hanya mengubah batas usia pensiun. Aturan ini juga membuka pertanyaan besar soal regenerasi, kewenangan digital, ruang...

DPR Sahkan RUU Polri, Pengawasan dan Netralitas Jadi Taruhan

DPR Sahkan RUU Polri, Pengawasan dan Netralitas Jadi Taruhan

by Tabooo
Juni 10, 2026

DPR RI resmi sahkan RUU Polri menjadi undang-undang dalam rapat paripurna. DPR menyebut aturan baru ini memperkuat transformasi, pengawasan, netralitas,...

Agus Salim: Ketika Kecerdasan Tidak Berujung pada Kekayaan

Agus Salim: Ketika Kecerdasan Tidak Berujung pada Kekayaan

by teguh
Juni 9, 2026

"Agus Salim, Orang tua yang sangat pintar ini seorang jenius dalam bidang bahasa, bicara, dan menulis dengan sempurna, paling sedikit...

Next Post
22 Tahun, Wisudawan Terbaik: Rahasia Zufa Menjadi Satu-satunya IPK 4,00

22 Tahun, Wisudawan Terbaik: Rahasia Zufa Menjadi Satu-satunya IPK 4,00

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id