Gotong royong adalah modal sosial yang membangun kepercayaan dan ketahanan komunitas. Mengapa nilainya kini semakin memudar?
Tabooo.id – Matahari belum benar-benar tinggi ketika suara cangkul memecah pagi di sebuah desa di Jawa. Sejumlah laki-laki mengangkat bambu untuk panggung kesenian. Di sudut lain, ibu-ibu menyalakan tungku dapur umum, sementara anak-anak berlarian tanpa memikirkan waktu. Tidak ada kontrak kerja, tidak ada upah, tidak ada target produktivitas.
Bukan uang yang menggerakkan semua itu.
Rasa saling memiliki yang membuat setiap orang rela datang dan bekerja bersama.
Pemandangan seperti itu masih muncul setiap kali tradisi Bersih Desa digelar. Namun, di luar momen tahunan tersebut, kebiasaan bergotong royong semakin sulit ditemukan. Perlahan, gotong royong berubah dari budaya hidup menjadi slogan yang lebih sering diucapkan daripada dipraktikkan.
Persoalannya bukan lagi apakah masyarakat masih mengenal istilah gotong royong.
Persoalan sesungguhnya adalah apakah kita masih menjadikannya bagian dari kehidupan sehari-hari.
Ketika Modal Sosial Lebih Berharga daripada Modal Uang
Melalui bukunya Bowling Alone, Putnam menjelaskan bahwa modal sosial terdiri atas jaringan sosial, norma bersama, dan kepercayaan yang mendorong masyarakat bekerja sama demi kepentingan bersama.
Semakin tinggi kepercayaan, semakin mudah masyarakat membangun kolaborasi.
Sebaliknya, ketika rasa saling percaya memudar, kerja sama ikut melemah dan konflik lebih mudah tumbuh.
Tidak ada proyek pembangunan yang mampu membeli modal sosial. Hubungan itu tumbuh melalui kebiasaan saling membantu, saling mengenal, dan menghadapi persoalan bersama.
Karena itu, gotong royong bukan sekadar tradisi.
Gotong royong merupakan investasi sosial yang menjaga daya hidup sebuah komunitas.
Bersih Desa: Ruang yang Memproduksi Kepercayaan
Padahal, dari sudut pandang modal sosial, tradisi tersebut menjadi ruang yang melahirkan kepercayaan antarsesama.
Saat warga membersihkan lingkungan, memperbaiki jalan, memasak bersama, atau menyiapkan panggung kesenian, mereka tidak sekadar menyelesaikan pekerjaan.
Interaksi itu memperkuat hubungan yang tidak bisa digantikan teknologi.
Setiap percakapan mempererat kedekatan, setiap kerja sama membangun rasa percaya, setiap kebersamaan mengingatkan bahwa persoalan kampung merupakan tanggung jawab seluruh warga.
Putnam menyebut ikatan seperti itu sebagai bonding social capital, yaitu hubungan erat yang memperkuat solidaritas di dalam komunitas.
Di saat yang sama, keterlibatan pemerintah desa, kelompok pemuda, tokoh agama, pelaku UMKM, dan berbagai organisasi juga memperluas jejaring antarkelompok. Kondisi tersebut melahirkan bridging social capital, yaitu jembatan sosial yang menghubungkan berbagai latar belakang.
Artinya, Bersih Desa bukan hanya menjaga tradisi.
Tradisi ini juga memperkuat fondasi kehidupan sosial masyarakat.
Ketika Kepercayaan Menjadi Barang Langka
Modal sosial tidak hilang secara tiba-tiba.
Ia memudar perlahan tanpa banyak orang menyadarinya.
Kesibukan pekerjaan mengurangi ruang perjumpaan. Interaksi berpindah ke layar ponsel. Anak-anak tumbuh bersama algoritma, sedangkan orang dewasa semakin sibuk mengejar produktivitas.
Akibatnya, hubungan sosial berubah menjadi hubungan yang serba fungsional.
Orang saling mengenal karena ada kepentingan.
Bukan karena merasa menjadi bagian dari komunitas yang sama.
Ironisnya, masyarakat modern memiliki ribuan koneksi digital, tetapi semakin sedikit orang yang benar-benar siap membantu ketika masalah datang.
Kepercayaan pun berubah menjadi sesuatu yang langka.
Padahal, tanpa rasa percaya, kerja sama hanya berubah menjadi transaksi.
Ketangguhan Komunitas Berawal dari Hubungan Antarmanusia
Ketangguhan itu tidak hanya bergantung pada besarnya anggaran atau kecanggihan teknologi.
Hubungan antarmanusia justru menjadi penentu utamanya.
Komunitas yang memiliki modal sosial kuat biasanya lebih cepat pulih setelah bencana. Warga lebih mudah menyelesaikan konflik, saling membantu, dan melindungi kelompok yang paling rentan.
Sebaliknya, masyarakat yang kehilangan rasa percaya lebih mudah terpecah oleh konflik politik, disinformasi, maupun tekanan ekonomi.
Karena itu, pembangunan desa seharusnya tidak hanya menghitung panjang jalan atau jumlah bangunan baru.
Pemerintah juga perlu mengukur kualitas hubungan sosial yang masih terjaga di tengah masyarakat.
Modernisasi Tidak Harus Menghapus Gotong Royong
Sebagian orang menganggap modernisasi menjadi penyebab utama memudarnya gotong royong.
Anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat.
Perubahan zaman memang mengubah cara hidup, tetapi tidak harus menghilangkan solidaritas.
Yang berubah sebenarnya hanyalah ruang pertemuannya.
Tantangan hari ini bukan memilih antara tradisi atau teknologi.
Tantangan sesungguhnya ialah memanfaatkan teknologi untuk memperkuat kebersamaan, bukan menggantikannya.
Banyak desa sudah membuktikannya. Media sosial kini membantu mengajak warga pulang kampung, menggalang partisipasi, mempromosikan budaya lokal, sekaligus memperkenalkan potensi desa kepada masyarakat yang lebih luas.
Teknologi hanyalah alat.
Manusialah yang menentukan apakah alat itu memperkuat atau justru melemahkan ikatan sosial.
Ketika Gotong Royong Tinggal Menjadi Kenangan
Ancaman terbesar terhadap gotong royong bukan sekadar hilangnya sebuah tradisi.
Ancaman terbesar justru muncul ketika masyarakat kehilangan kebiasaan untuk saling hadir.
Komunitas yang kehilangan modal sosial memang tidak langsung runtuh.
Namun, rasa percaya perlahan menghilang.
Kepedulian ikut memudar.
Kemampuan bekerja bersama akhirnya melemah.
Pada titik itu, yang hilang bukan hanya sebuah tradisi, melainkan daya tahan masyarakat itu sendiri.
Bersih Desa mengingatkan bahwa membangun desa tidak selalu dimulai dari beton, jalan, atau proyek bernilai miliaran rupiah.
Sering kali, fondasi pembangunan justru lahir dari tindakan yang paling sederhana.
Duduk bersama.
Bekerja bersama.
Menjaga rasa percaya.
Sebab masa depan sebuah desa tidak pernah lahir dari satu orang, melainkan dari banyak tangan yang masih bersedia saling mengulurkan bantuan. @dimas






