Kamis, Juni 25, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Disabilitas Bukan Batas: Perjuangan Bariah Raih Pendidikan dan Karier

by dimas
Februari 2, 2026
in Life
A A
Home Life
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Life – Matahari baru saja menembus langit Tangerang Selatan ketika Bariah melangkah keluar dari Universitas Terbuka Convention Center (UTCC). Jas wisuda menempel rapi di tubuhnya, tapi tatapannya menahan cerita panjang yang sulit diungkapkan dengan kata.

“Ya tadi kan diremehkan. Sekarang saya bisa buktikan, saya bisa bergelar sarjana S1,” ujarnya.

Di balik senyum itu, tersimpan perjuangan yang dimulai dari kampung kecil di Palembang, seorang gadis penyandang disabilitas daksa yang dulu hanya bisa bermimpi di sela-sela kerja sebagai asisten rumah tangga (ART).

Awal Perjalanan: Sekolah dengan Uang Receh dan Gorengan

Bariah lahir dan tumbuh tanpa orang tua, menyisakan beasiswa sebagai satu-satunya jalan untuk mendapatkan pendidikan dasar. Bahkan saat masuk SMA, keterbatasan finansial nyaris membuatnya berhenti.

“Alhamdulillah lancar sekolah, cuman dapet beasiswa juga karena ga ada orang tua. Itu kendala biaya,” tambahnya.

Ini Belum Selesai

Persaudaraan sebagai Modal Sosial di Tengah Masyarakat Modern

Piagam Ada, Kursi Hilang: Siapa yang Kalah di Jalur Prestasi SMP Mojokerto?

Demi bertahan, ia menjajakan gorengan di jam istirahat, berkeliling di antara teman-teman sekolahnya, belajar mandiri sejak dini.

Merantau dan Bekerja: Dari Rp 600 Ribu ke Rp 1 Juta

Usai lulus SMA, Bariah kembali bekerja sebagai ART di kampungnya. Ia masih ingat gaji pertamanya Rp 600 ribu.

“Itu sudah senang banget. Karena saya berdoa, akhirnya ada orang yang menerima saya kerja, pas bulan Ramadan,” ujarnya.

Tidak puas, Bariah merantau ke Depok, berharap gaji lebih layak. Di kota itu, ia bekerja sebagai ART dengan Rp 1 juta, dan pelan-pelan meniti jalan baru: pekerjaan di Lembaga Sertifikasi Profesi Teknologi Digital (LSPTD), yang memberinya lingkungan lebih mendukung.

Tantangan dan Dukungan: Bos sebagai Pendorong

Mimpi kuliah datang ketika Bariah memutuskan mendaftar di Universitas Terbuka. Tekadnya awalnya disepelekan, bahkan oleh orang terdekat. Namun, bosnya menjadi kunci mendorongnya ikut pelatihan komputer, menyediakan subsidi kuliah, dan memberi akses ke peluang yang sebelumnya terasa mustahil.

“UT itu fleksibel banget. Bisa kuliah sambil kerja. Kalau kampus lain, saya nggak sanggup,” jelasnya.

Sistem jarak jauh tak hanya memudahkan, tapi juga memberi ruang aman bagi Bariah yang pernah mengalami bullying.

Kuliah dan Perubahan Pola Pikir

Setiap tugas, setiap modul, menjadi pelajaran lebih dari sekadar akademik. Pendidikan merombak pola pikir Bariah.

“Dulu kalau ada masalah, emosi. Sekarang lebih tenang, bisa mikir solusi,” pungkasnya.

Dari ART yang bekerja dengan tangan, kini ia menapaki jalur profesional sebagai pekerja kantoran. Lulus S1 bukan hanya gelar ini tiket untuk promosi sebagai asesor sertifikasi, peningkatan karier, dan otonomi hidup yang lebih besar.

Refleksi Tabooo: Disabilitas Bukan Batasan

Kisah Bariah lebih dari inspirasi ia mencerminkan paradoks sosial. Sistem pendidikan dan pekerjaan seringkali mengabaikan penyandang disabilitas, tapi dukungan yang tepat bisa membuka ruang berkembang. Tabooo melihat ini sebagai pengingat ketekunan dan kesempatan berjalan beriringan. Tidak ada kata terlambat untuk belajar, dan disabilitas bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Dalam kota yang ramai dan keras, Bariah menunjukkan bahwa keberanian menembus stigma bisa mengubah hidup.

Kini, Bariah menatap masa depan dengan mata penuh harap dan senyum yang percaya diri.

Ia menegaskan, “Nggak ada kata terlambat buat belajar. Disabilitas bukan alasan berhenti berkembang.” tegasnya.

Kisahnya meninggalkan pertanyaan yang menggantung berapa banyak mimpi yang gagal hanya karena tak ada yang mau memberi kesempatan? Dan berapa banyak potensi yang masih tersembunyi di balik keterbatasan yang kita pandang remeh? @dimas

Tags: ARTDisabilitasInspiratifKampusPendidikanPerjuangan

Kamu Melewatkan Ini

Prestasi Tinggi, Data Ter-hidden: Hak Anak Nyaris Tersingkir dari SMP Negeri

Prestasi Tinggi, Data Ter-hidden: Hak Anak Nyaris Tersingkir dari SMP Negeri

by teguh
Juni 23, 2026

Sistem SPMB Palembang sempat menghalangi seorang siswa berprestasi masuk SMP negeri. Sistem tidak menampilkan data pendaftaran siswa itu pada daftar...

Di Tengah Budaya Hujatan, Seorang Ayah Masih Menulis “Pangapunten”

Di Tengah Budaya Hujatan, Seorang Ayah Masih Menulis “Pangapunten”

by teguh
Juni 18, 2026

Media sosial sering mengabadikan kesalahan lebih lama daripada kebaikan. Satu unggahan bisa berubah menjadi ruang sidang publik dalam hitungan menit....

Ketika Biaya Sekolah Lebih Menakutkan dari Ancaman Penjara

Ketika Biaya Sekolah Lebih Menakutkan dari Ancaman Penjara

by teguh
Juni 16, 2026

Lampu toko kelontong itu tetap menyala seperti biasa. Aktivitas warga berjalan normal. Namun di balik malam yang tampak tenang, seorang...

Next Post
Semeru Meletus Lagi, Semburan Material Vulkanik Capai 1.000 Meter

Semeru Meletus Lagi, Semburan Material Vulkanik Capai 1.000 Meter

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id