Tabooo.id: Edge – Bayangkan kamu lagi rebahan, scroll timeline, lalu muncul notifikasi “Kami sepenuhnya siap untuk segala bentuk perang.”Bukan dari mantan.
Bukan dari grup keluarga. Melainkan dari panggung kongres partai lima tahunan.
Absurd? Lumayan. Mengejutkan? Tidak juga.
Kongres, Kursi, dan Kekuatan Nuklir
Dalam kongres nasional di Pyongyang, Partai Buruh Korea kembali memilih Kim Jong Un sebagai sekretaris jenderal. Bersamaan dengan itu, partai tersebut menegaskan kesiapan menghadapi “segala bentuk perang.”
Tak berhenti di sana, mereka juga mengklaim telah meningkatkan kekuatan nuklir secara “radikal.” Artinya, bukan sekadar pemeliharaan rutin, tetapi lonjakan strategi pertahanan.
Dalam pernyataan resmi, partai memuji Kim karena memimpin transformasi Tentara Rakyat Korea menjadi kekuatan elit. Mereka menyebutnya sebagai poros pertahanan nasional sekaligus penjaga perdamaian.
Di sinilah paradoksnya muncul. Sebab di panggung geopolitik, istilah “penjaga perdamaian” sering berjalan berdampingan dengan demonstrasi kekuatan militer. Retorika damai tampil berdampingan dengan rudal balistik.
Dari Kekhawatiran ke Ancaman Nyata
Beberapa tahun lalu, banyak pihak menyebut program nuklir Korea Utara sebagai sumber kekhawatiran global. Kini, sejumlah analis menilai situasinya telah berkembang menjadi ancaman konkret.
Korea Utara terus menggelar uji coba rudal. Sementara itu, Jepang dan Korea Selatan meningkatkan kewaspadaan. Di sisi lain, Amerika Serikat tetap memantau dengan kombinasi diplomasi dan tekanan strategis.
Namun, Pyongyang memandang latihan militer gabungan Korea Selatan–AS sebagai simulasi invasi. Karena itulah, mereka merasa perlu memperkuat pertahanan.
Dengan demikian, lahirlah siklus ketegangan. Ketika satu pihak berlatih, pihak lain meningkatkan kesiagaan. Ketika satu pihak mengeluarkan pernyataan keras, pihak lain merespons dengan peringatan serupa.
Situasi ini berulang. Dunia pun menyaksikan episode yang hampir familiar.
Ketegangan sebagai Narasi Politik
Setiap lima tahun, kongres partai membahas perkembangan pertahanan dan ekonomi. Akan tetapi, perhatian global hampir selalu tertuju pada isu nuklir. Fokus itu bukan kebetulan.
Dalam sistem politik tertentu, kekuatan militer berfungsi bukan hanya sebagai alat pertahanan. Ia juga menjadi simbol legitimasi. Selain itu, ia memperkuat citra kepemimpinan yang tegas dan tak tergoyahkan.
Ketegangan pun memiliki nilai strategis. Rasa ancaman bisa menyatukan barisan internal. Di saat yang sama, narasi “kita versus mereka” membangun solidaritas domestik.
Akibatnya, retorika keras kerap muncul pada momen-momen penting politik. Terlebih lagi, isu keamanan nasional sulit diperdebatkan secara terbuka karena menyangkut keselamatan negara.
Drama Permanen di Panggung Global
Setiap uji coba rudal memicu kecaman internasional. Setelah itu, kecaman memperkuat narasi ancaman. Lalu, narasi tersebut kembali mendorong peningkatan pertahanan.
Siklus ini bergerak cepat dan hampir algoritmik. Publik global pun mengikuti perkembangannya seperti menonton serial yang tak pernah tamat.
Sementara itu, rakyat biasa di berbagai negara menghadapi persoalan ekonomi, harga kebutuhan pokok, dan stabilitas sosial. Namun demikian, panggung utama tetap menyoroti rudal dan pernyataan politik.
Pada akhirnya, dunia modern yang sudah memasuki era AI dan digitalisasi tetap berkutat pada logika lama: siapa yang memiliki daya gentar paling besar.
Punchline: Dunia yang Terlalu Siaga
Pernyataan “siap untuk segala bentuk perang” terdengar heroik. Akan tetapi, dunia modern seharusnya juga siap untuk segala bentuk dialog.
Semakin banyak negara menegaskan kesiapan tempur, semakin jarang terdengar kesiapan untuk meredakan ketegangan. Padahal, stabilitas global tidak lahir dari tombol siaga, melainkan dari kepercayaan.
Jadi, pertanyaannya sederhana:
Apakah dunia benar-benar ingin perang?
Atau kita hanya terlalu terbiasa hidup dalam notifikasi ancamannya? @eko




