Tabooo.id: Life – Suara itu meluncur pelan, jernih, seperti air yang menetes dari sela batu. Di sudut musala Sekolah Luar Biasa Yayasan Kesejahteraan Tunanetra Islam (Yaketunis), dua anak muda duduk bersila. Jari-jemari mereka bergerak cekatan di atas titik-titik timbul. Bukan layar ponsel yang mereka sentuh, melainkan lembaran Alquran braille.
Sementara Yogyakarta bersolek menyambut Ramadan dengan lampu warna-warni dan promo sirup di etalase minimarket, di ruangan sederhana itu suasana terasa lebih hening. Egi Jordi (22), asal Muara Enim, Sumatera Selatan, membaca ayat dengan pelafalan mantap. “Kalau Ramadan enggak pernah mudik karena jauh,” katanya pelan, Sabtu (23/2/2026). Sudah tiga tahun ia menempuh pendidikan di kota ini. Artinya, selama tiga kali Ramadan pula ia menahan rindu pada keluarga.
Meski demikian, nada suaranya tak menyiratkan keluhan. Justru sebaliknya, ada keteguhan yang terdengar.
Titik-Titik yang Menjadi Cahaya
Secara nasional, akses pendidikan bagi penyandang disabilitas netra masih menghadapi banyak tantangan. Fasilitas braille belum tersedia merata. Selain itu, jumlah tenaga pengajar terlatih juga terbatas. Dalam konteks itulah Yaketunis hadir sebagai ruang yang bukan hanya mendidik, tetapi juga menguatkan.
Alquran braille memiliki bentuk fisik jauh lebih besar dibandingkan Alquran biasa. Setiap juz dicetak terpisah sehingga lebih tebal dan berat. Bahkan, jika seluruh 30 juz dikumpulkan, ukurannya bisa memenuhi satu dus mie instan. Namun bagi Egi, bobot itu tak pernah menjadi beban. Sebaliknya, setiap jilid justru terasa seperti pintu yang membuka pemahaman baru.
Awalnya, ia sempat terlambat masuk sekolah luar biasa. Akan tetapi, keterlambatan itu tidak membuatnya mundur. Ia mengejar pelajaran, mempelajari huruf braille dari dasar, lalu berlatih menyimak dengan disiplin. Seiring waktu, kemampuannya berkembang pesat. Hingga akhirnya, tongkat estafet pengajaran berpindah ke tangannya.
Dulu, alumni yang memimpin kelas mengaji. Kini, kepercayaan itu jatuh kepada Egi dan beberapa temannya.
Mengajar Tanpa Melihat, Memimpin dengan Keyakinan
Mengajar Alquran braille menuntut konsentrasi berlapis. Egi menggunakan dua pendekatan: menulis dan menyimak. Dalam satu waktu, ia bisa menghadapi belasan siswa dengan tingkat iqro berbeda. Ada yang baru mengenal huruf, ada pula yang sudah memasuki jilid lebih tinggi.
Pada awalnya, situasi itu membuatnya kewalahan. Tanpa guru pendamping, ia harus menyiapkan berbagai jilid sekaligus sambil memastikan setiap siswa tetap fokus. Jika satu anak maju ke iqro 3, maka ia harus segera menyesuaikan materi. Sementara itu, siswa lain mungkin masih berada di tahap awal.
Namun perlahan, ia belajar mengatur ritme. Ia membagi perhatian dengan cermat. Ia mengandalkan pendengaran untuk menangkap kesalahan bacaan. Bahkan lebih dari itu, ia memimpin kelas dengan ketenangan yang jarang dimiliki orang seusianya.
Di sinilah letak paradoksnya. Masyarakat kerap memosisikan tunanetra sebagai pihak yang perlu dibimbing terus-menerus. Akan tetapi, di ruang kecil tersebut, Egi justru menjadi pembimbing.
Fajar Kustiyono hadir sebagai guru pendamping. Ia fokus membimbing siswa yang benar-benar awam, mulai dari iqro 1 hingga 6. Dengan sabar, ia memastikan fondasi huruf braille kuat sebelum siswa naik tingkat. Menurutnya, setiap anak memiliki tempo belajar berbeda. Oleh karena itu, pendekatan personal menjadi kunci.
Di tengah dunia yang serba cepat, mereka memilih proses yang perlahan namun pasti. Dan justru karena itu, maknanya terasa lebih dalam.
Ramadan Tanpa Mudik, Mimpi Tanpa Batas
Bagi sebagian orang, Ramadan identik dengan perjalanan pulang kampung, meja makan penuh hidangan, serta tawa keluarga. Namun bagi Egi, bulan suci berarti bertahan di perantauan. Jarak dan biaya membuatnya tetap di Yogyakarta. Meski demikian, ia tidak menjadikan kondisi itu alasan untuk berhenti berkembang.
Sebaliknya, ia mengisi hari-harinya dengan belajar dan mengajar. Di sela-sela aktivitas tersebut, ia menanam mimpi yang jauh lebih besar dari ruang musala tempatnya duduk.
Kini, ia dan Fajar yang duduk di kelas 12 tengah bersiap melanjutkan studi. Menariknya, keduanya mengincar kampus yang sama: Universitas Brawijaya di Malang. Egi ingin mendalami ilmu hukum atau politik. Ia ingin memahami sistem yang membentuk masyarakat. Sementara itu, Fajar membidik jurusan sosiologi agar dapat membaca dinamika sosial dengan perspektif kritis.
Pilihan mereka bukan kebetulan. Kota Malang bagi keduanya melambangkan kemungkinan sebuah ruang baru untuk membuktikan bahwa keterbatasan penglihatan tidak membatasi cakrawala berpikir.
Kita yang Melihat, Mereka yang Memahami
Di era digital, standar keberhasilan sering kali diukur dari apa yang tampak. Feed media sosial menampilkan definisi bahagia versi visual: senyum, perjalanan, pencapaian. Namun kisah Egi dan Fajar menghadirkan perspektif berbeda. Mereka mungkin tidak melihat warna langit senja, tetapi mereka memahami makna kesabaran dengan sangat konkret.
Tentu saja, cerita ini bukan untuk meromantisasi disabilitas. Akses pendidikan yang belum merata tetap menjadi pekerjaan rumah besar. Fasilitas terbatas dan kebijakan yang belum inklusif masih menjadi realitas. Namun di balik itu semua, ada manusia-manusia yang menolak didefinisikan oleh kekurangan.
Egi tidak ingin dikasihani. Ia ingin berdebat di ruang kuliah tentang hukum dan keadilan. Fajar tidak sekadar ingin disebut sabar. Ia ingin menjadi sosiolog yang mampu menjelaskan ketimpangan sosial secara tajam dan empatik.
Akhirnya, Ramadan akan berlalu seperti tahun-tahun sebelumnya. Takbir akan menggema. Orang-orang akan mudik dan kembali ke rutinitas. Akan tetapi, di musala kecil Yaketunis, dua anak muda tetap duduk bersila, meraba ayat demi ayat, menyusun masa depan mereka dengan keyakinan.
Maka, pertanyaannya sederhana namun menggelitik: di tengah dunia yang begitu visual, apakah kita sungguh-sungguh melihat? @eko





