Kamis, Juli 30, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Di Balik Terpilihnya Kim: Politik Ketegangan yang Tak Pernah Libur

by eko
Februari 23, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Edge – Bayangkan kamu lagi rebahan, scroll timeline, lalu muncul notifikasi “Kami sepenuhnya siap untuk segala bentuk perang.”Bukan dari mantan.
Bukan dari grup keluarga. Melainkan dari panggung kongres partai lima tahunan.

Absurd? Lumayan. Mengejutkan? Tidak juga.

Kongres, Kursi, dan Kekuatan Nuklir

Dalam kongres nasional di Pyongyang, Partai Buruh Korea kembali memilih Kim Jong Un sebagai sekretaris jenderal. Bersamaan dengan itu, partai tersebut menegaskan kesiapan menghadapi “segala bentuk perang.”

Tak berhenti di sana, mereka juga mengklaim telah meningkatkan kekuatan nuklir secara “radikal.” Artinya, bukan sekadar pemeliharaan rutin, tetapi lonjakan strategi pertahanan.

Dalam pernyataan resmi, partai memuji Kim karena memimpin transformasi Tentara Rakyat Korea menjadi kekuatan elit. Mereka menyebutnya sebagai poros pertahanan nasional sekaligus penjaga perdamaian.

Ini Belum Selesai

Kopdes Merah Putih Siap Salurkan Bansos, Efektif atau Berisiko?

Kota Wisata, Tapi Sampah Masih Jadi Musuh Utama

Di sinilah paradoksnya muncul. Sebab di panggung geopolitik, istilah “penjaga perdamaian” sering berjalan berdampingan dengan demonstrasi kekuatan militer. Retorika damai tampil berdampingan dengan rudal balistik.

Dari Kekhawatiran ke Ancaman Nyata

Beberapa tahun lalu, banyak pihak menyebut program nuklir Korea Utara sebagai sumber kekhawatiran global. Kini, sejumlah analis menilai situasinya telah berkembang menjadi ancaman konkret.

Korea Utara terus menggelar uji coba rudal. Sementara itu, Jepang dan Korea Selatan meningkatkan kewaspadaan. Di sisi lain, Amerika Serikat tetap memantau dengan kombinasi diplomasi dan tekanan strategis.

Namun, Pyongyang memandang latihan militer gabungan Korea Selatan–AS sebagai simulasi invasi. Karena itulah, mereka merasa perlu memperkuat pertahanan.

Dengan demikian, lahirlah siklus ketegangan. Ketika satu pihak berlatih, pihak lain meningkatkan kesiagaan. Ketika satu pihak mengeluarkan pernyataan keras, pihak lain merespons dengan peringatan serupa.

Situasi ini berulang. Dunia pun menyaksikan episode yang hampir familiar.

Ketegangan sebagai Narasi Politik

Setiap lima tahun, kongres partai membahas perkembangan pertahanan dan ekonomi. Akan tetapi, perhatian global hampir selalu tertuju pada isu nuklir. Fokus itu bukan kebetulan.

Dalam sistem politik tertentu, kekuatan militer berfungsi bukan hanya sebagai alat pertahanan. Ia juga menjadi simbol legitimasi. Selain itu, ia memperkuat citra kepemimpinan yang tegas dan tak tergoyahkan.

Ketegangan pun memiliki nilai strategis. Rasa ancaman bisa menyatukan barisan internal. Di saat yang sama, narasi “kita versus mereka” membangun solidaritas domestik.

Akibatnya, retorika keras kerap muncul pada momen-momen penting politik. Terlebih lagi, isu keamanan nasional sulit diperdebatkan secara terbuka karena menyangkut keselamatan negara.

Drama Permanen di Panggung Global

Setiap uji coba rudal memicu kecaman internasional. Setelah itu, kecaman memperkuat narasi ancaman. Lalu, narasi tersebut kembali mendorong peningkatan pertahanan.

Siklus ini bergerak cepat dan hampir algoritmik. Publik global pun mengikuti perkembangannya seperti menonton serial yang tak pernah tamat.

Sementara itu, rakyat biasa di berbagai negara menghadapi persoalan ekonomi, harga kebutuhan pokok, dan stabilitas sosial. Namun demikian, panggung utama tetap menyoroti rudal dan pernyataan politik.

Pada akhirnya, dunia modern yang sudah memasuki era AI dan digitalisasi tetap berkutat pada logika lama: siapa yang memiliki daya gentar paling besar.

Punchline: Dunia yang Terlalu Siaga

Pernyataan “siap untuk segala bentuk perang” terdengar heroik. Akan tetapi, dunia modern seharusnya juga siap untuk segala bentuk dialog.

Semakin banyak negara menegaskan kesiapan tempur, semakin jarang terdengar kesiapan untuk meredakan ketegangan. Padahal, stabilitas global tidak lahir dari tombol siaga, melainkan dari kepercayaan.

Jadi, pertanyaannya sederhana:
Apakah dunia benar-benar ingin perang?

Atau kita hanya terlalu terbiasa hidup dalam notifikasi ancamannya? @eko

Tags: EdgeKoreaNuklirPartai BuruhPolitik Indonesia

Kamu Melewatkan Ini

Kudatuli: Ketika Jakarta Bangun dalam Kepungan

Kudatuli: Ketika Jakarta Bangun dalam Kepungan

by Tabooo
Juli 27, 2026

Peristiwa Kudatuli pada 27 Juli 1996 bukan sekadar konflik internal PDI. Penyerbuan di Jalan Diponegoro membuka kekerasan, perburuan aktivis, dan...

Kaesang Nyaleg di Dapil Puan: Politik Simbol atau Elektoral?

Kaesang Nyaleg di Dapil Puan: Politik Simbol atau Elektoral?

by dimas
Juli 27, 2026

Kaesang Pangarep maju sebagai caleg DPR dari Dapil Jawa Tengah V, wilayah yang selama ini menjadi basis Puan Maharani. Apakah...

Budaya Patronase: Jabatan Berganti, Kekuasaan Tetap Tinggal

Budaya Patronase: Jabatan Berganti, Kekuasaan Tetap Tinggal

by dimas
Juli 24, 2026

Pergantian pejabat tak selalu mengakhiri pengaruh. Budaya patronase membuat kekuasaan tetap bertahan melalui loyalitas, relasi personal, dan jaringan yang melampaui...

Next Post
Ketika Keterbatasan Tak Menghalangi Cahaya Alquran

Ketika Keterbatasan Tak Menghalangi Cahaya Alquran

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id