Tabooo.id: Global – Denmark terus meningkatkan kehadiran militernya di Greenland. Pada Senin (19/1/2026), Angkatan Bersenjata Denmark secara resmi mengonfirmasi pengiriman tambahan pasukan tempur ke wilayah Arktik. Media lokal menyebut, pasukan tersebut tiba di Kangerlussuaq pada Senin malam sebagai bagian dari peningkatan kesiapsiagaan militer di wilayah otonom itu.
Langkah ini membuka babak baru ketegangan geopolitik di kawasan Arktik, yang dalam beberapa bulan terakhir kembali menarik perhatian dunia.
Latihan Militer Dipercepat, Arktik Makin Memanas
Sebelumnya, Denmark telah menempatkan sekitar 100 prajurit di ibu kota Greenland, Nuuk. Pemerintah juga mengerahkan jumlah pasukan yang sama ke Kangerlussuaq. Seluruh personel itu kini mengikuti latihan militer Arctic Endurance.
Otoritas Denmark mempercepat dan mengintensifkan latihan tersebut dalam beberapa pekan terakhir. Mereka menyesuaikan skala latihan dengan dinamika keamanan terbaru di kawasan Arktik.
Situasi ini tidak terlepas dari pernyataan kontroversial Presiden Amerika Serikat Donald J Trump. Trump kembali menyuarakan ambisi Washington untuk menguasai Greenland secara penuh. Ia berdalih wilayah itu penting bagi keamanan nasional Amerika Serikat dan stabilitas global.
Gedung Putih bahkan secara terbuka menyebut opsi militer sebagai kemungkinan jika kepentingan Amerika Serikat di Greenland tidak terpenuhi.
Ancaman Tarif, Tekanan Ekonomi ke Sekutu
Washington tidak hanya menekan lewat isu keamanan. Pada Sabtu (17/1/2026), Trump mengancam akan memberlakukan tarif impor sebesar 10 persen terhadap Inggris, Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, dan Finlandia mulai 1 Februari 2026. Ia juga menyatakan tarif itu akan naik menjadi 25 persen pada 1 Juni.
Trump mengaitkan ancaman tersebut dengan penolakan negara-negara Eropa terhadap kontrol Amerika Serikat atas Greenland. Jika kebijakan ini benar-benar berlaku, sektor industri dan perdagangan Eropa terutama negara-negara Nordik akan merasakan dampak langsungnya karena ketergantungan mereka pada pasar AS.
Eropa Merapat, Tolak Tekanan Washington
Menanggapi ancaman tersebut, delapan negara Eropa itu mengeluarkan pernyataan bersama pada Ahad (2/2). Mereka mengecam langkah Amerika Serikat dan menegaskan komitmen bersama untuk menjaga stabilitas serta keamanan kawasan Arktik.
Pernyataan itu menunjukkan konsolidasi politik Eropa di tengah tekanan ekonomi dan militer dari sekutu transatlantiknya sendiri.
Trump Angkat NATO dan Isu “Ancaman Rusia”
Pada hari yang sama, Trump kembali memanaskan situasi melalui unggahan di media sosial Truth Social. Ia menuding Denmark gagal menangani apa yang ia sebut sebagai “ancaman Rusia” di Greenland.
“NATO telah memberi tahu Denmark selama 20 tahun bahwa Anda harus menyingkirkan ancaman Rusia dari Greenland. Sayangnya, Denmark tidak mampu berbuat apa pun. Sekarang saatnya, dan itu akan dilakukan!!!” tulis Trump.
Pernyataan tersebut memicu reaksi luas karena menyiratkan kemungkinan keterlibatan langsung Amerika Serikat di wilayah yang secara hukum berada di bawah kedaulatan Denmark.
NATO Masuk, Ketegangan Arktik Meningkat
Sehari sebelumnya, Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte dan Trump membahas situasi keamanan Greenland dan kawasan Arktik melalui sambungan telepon. Rutte menyatakan NATO dan Amerika Serikat akan terus berkoordinasi menghadapi dinamika keamanan di wilayah tersebut.
Ia juga menyebut rencana pertemuan langsung dengan Trump di sela Forum Ekonomi Dunia di Davos. Banyak pihak memprediksi isu Arktik akan menjadi salah satu agenda penting dalam pertemuan itu.
Greenland, Pulau Strategis yang Diperebutkan
Greenland bukan sekadar pulau es. Wilayah ini menyimpan cadangan mineral strategis, jalur pelayaran potensial, serta posisi geografis krusial di lintasan Arktik. Selain Amerika Serikat, Rusia dan China juga terus meningkatkan aktivitas dan pengaruh mereka di kawasan tersebut.
Kremlin, pekan lalu, menegaskan pengakuan atas status hukum Greenland sebagai bagian dari Kerajaan Denmark. Namun, Rusia tetap menilai situasi terbaru di pulau itu sangat kontroversial.
“Kami berangkat dari pemahaman bahwa Greenland adalah wilayah Kerajaan Denmark,” ujar Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov.
Arktik Tak Lagi Sunyi
Penambahan pasukan Denmark di Greenland menegaskan satu hal Arktik tidak lagi menjadi wilayah sunyi yang jauh dari perebutan kepentingan global. Ketika pulau es berubah menjadi papan catur geopolitik, masyarakat lokal dan stabilitas kawasan ikut menanggung risikonya.
Di tengah salju yang terus mencair, bukan hanya es yang retak melainkan juga keyakinan bahwa sekutu selalu sepakat soal kekuasaan. @dimas




