Rabu, Juli 29, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Dari Venezuela ke Greenland: Peta Ambisi Geopolitik Donald Trump

by dimas
Januari 17, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Donald Trump kembali ke Gedung Putih dengan satu gaya lama yang tak pernah benar-benar berubah berisik, ofensif, dan tanpa basa-basi. Kali ini, sasaran ambisinya bukan sekadar rival politik domestik, melainkan peta geopolitik dunia. Setelah menyatakan Amerika Serikat akan mengelola cadangan minyak Venezuela, Trump melangkah lebih jauh menyebut Greenland sebagai wilayah yang “harus dimiliki” Amerika Serikat, apa pun caranya.

Pernyataan itu bukan sekadar retorika kampanye. Ia datang setelah sebuah operasi militer yang menggetarkan Amerika Latin.

Operasi Caracas dan Pesan Kekuasaan

Pada 3 Januari 2026, Amerika Serikat melancarkan operasi militer langsung di Caracas. Targetnya jelas: Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Pasukan AS menangkap Maduro beserta istrinya, lalu membawanya ke Amerika Serikat untuk diadili dengan tuduhan berat, mulai dari narko-terorisme hingga konspirasi kepemilikan senjata.

Tak lama setelah penangkapan itu, Trump berbicara di hadapan publik. Ia menyatakan bahwa Washington akan mengelola cadangan minyak Venezuela sekaligus “mengatur ulang” pemerintahan negara tersebut. Pernyataan ini secara terbuka merendahkan Venezuela sebagai negara berdaulat. Dengan kata lain, Trump tak lagi menyamarkan logika lama imperium siapa kuat, dia kuasai.

Namun, Venezuela ternyata bukan akhir cerita.

Ini Belum Selesai

Kabinet Bayangan: Alarm Demokrasi di Tengah Minimnya Oposisi

MBG Dilarang Pakai Subsidi, Siapa Menanggung Selisih Biayanya?

Greenland Masuk Radar Gedung Putih

Pada 9 Januari 2026, di depan Gedung Putih, Trump menyampaikan pernyataan yang langsung memicu kegelisahan internasional. Amerika Serikat, katanya, harus memiliki Greenland. Alasannya terdengar sederhana, nyaris klise mencegah Rusia atau China mengambil alih wilayah tersebut.

“Kita harus melakukan sesuatu terhadap Greenland, entah mereka suka atau tidak,” ujar Trump.

Pernyataan itu segera menuai penolakan. Pemerintah Greenland dan Denmark anggota NATO menegaskan bahwa pulau tersebut tidak untuk dijual dan tidak untuk diambil alih. Namun, bagi Trump, penolakan sering kali hanya dianggap sebagai gangguan kecil.

Mengapa Greenland Begitu Menggoda?

Di balik pernyataan Trump, tersimpan kalkulasi yang dingin dan sangat strategis. Laporan Center for Strategic and International Studies (CSIS) pada 8 Januari 2026 menyebut Greenland sebagai salah satu wilayah terkaya sumber daya alam di dunia.

Pulau ini menyimpan bijih besi, grafit, tungsten, paladium, vanadium, seng, emas, uranium, tembaga, minyak, dan yang paling krusial unsur tanah jarang (rare earth elements/REE). Greenland menempati peringkat kedelapan dunia dalam cadangan REE, dengan sekitar 1,5 juta ton, serta memiliki dua deposit terbesar di dunia Kvanefjeld dan Tanbreez.

Bagi Washington, REE bukan sekadar komoditas tambang. Material ini menjadi tulang punggung industri pertahanan, teknologi tinggi, hingga kendaraan listrik. Ketergantungan Barat pada rantai pasok global yang sebagian besar dikuasai China membuat isu ini semakin sensitif.

Iklim, Es, dan Peluang Baru

Selama ini, iklim Arktik menghambat eksploitasi sumber daya Greenland. Hanya sekitar 20 persen wilayahnya yang bebas es, dengan suhu ekstrem yang bisa menembus minus 40 derajat Fahrenheit. Namun, pemanasan global mengubah segalanya.

Mencairnya lapisan es membuka akses baru ke mineral yang sebelumnya terkunci. Selain itu, rute pelayaran baru di Arktik mulai terbentuk. Bagi kekuatan besar, perubahan iklim bukan hanya krisis, melainkan juga peluang strategis.

Bukan Hanya Amerika yang Mengintai

Meski Trump berbicara seolah Amerika berlomba sendirian, kenyataannya tidak demikian. Selama tujuh tahun terakhir, China secara konsisten memperluas pengaruhnya di Arktik. Beijing mengirim ekspedisi ilmiah, menanam investasi infrastruktur, dan mengincar akuisisi sumber daya alam.

Langkah China itu tidak luput dari perhatian Washington. Trump berulang kali menyebut Rusia dan China sebagai ancaman, seakan ingin meyakinkan publik bahwa ambisinya semata-mata demi keamanan nasional.

Namun, di balik narasi keamanan, kepentingan ekonomi tetap menjadi motor utama.

Posisi Strategis yang Tak Tergantikan

Greenland bukan hanya soal mineral. Secara geografis, pulau seluas 2,2 juta kilometer persegi ini terletak di titik strategis antara Amerika Utara dan Arktik. Lokasi ini sangat ideal untuk sistem peringatan dini serangan rudal dan pemantauan jalur laut.

Amerika Serikat telah lama memanfaatkan posisi tersebut. Sejak Perang Dunia II, Washington mengoperasikan Pangkalan Antariksa Pituffik dulu dikenal sebagai Pangkalan Udara Thule yang hingga kini berfungsi memantau aktivitas rudal. Pada puncak Perang Dingin, AS bahkan sempat merencanakan penempatan senjata nuklir di Greenland, meski akhirnya batal karena kendala teknis dan penolakan Denmark.

Ambisi Lama yang Kembali Bangkit

Ketertarikan Trump pada Greenland bukan cerita baru. Pada 2019, ia sempat mengajukan ide membeli pulau itu, sebelum ditolak mentah-mentah. Setelah kembali berkuasa pada Januari 2025, ambisi tersebut muncul lagi ke permukaan.

Wakil Presiden JD Vance mengunjungi Greenland pada Maret 2025 dan secara terbuka menuding Denmark lalai melindungi wilayah itu. Menjelang akhir 2025, Trump bahkan menunjuk utusan khusus untuk Greenland, Jeff Landry, yang secara terang-terangan berbicara soal integrasi pulau tersebut ke Amerika Serikat.

Secara publik, Trump mengklaim bahwa isu Greenland bukan soal sumber daya alam, melainkan keamanan nasional. Namun, pernyataan mantan penasihat keamanan nasionalnya, Mike Waltz, justru membuka tabir lain. Dalam wawancara dengan Fox News pada Januari 2024, Waltz menegaskan bahwa fokus utama Trump adalah mineral krusial dan sumber daya alam.

Dunia di Persimpangan Kekuasaan

Dari Caracas hingga Arktik, pola kebijakan Trump tampak konsisten kekuatan militer membuka jalan, sumber daya menjadi tujuan, dan kedaulatan negara lain sering kali dianggap variabel sekunder.

Di tengah dunia yang mengklaim menjunjung hukum internasional, langkah-langkah ini menimbulkan pertanyaan besar apakah abad ke-21 benar-benar meninggalkan logika kolonial, atau hanya menggantinya dengan istilah yang lebih modern?

Trump, tampaknya, sudah memilih jawabannya. @dimas

Tags: ArktikchinaDonald TrumpEnergiGeopolitikGlobalGreenlandInternasionalKeamanan NegaraPolitik IndonesiaRusia

Kamu Melewatkan Ini

QRIS Tembus China: Jembatan Baru Diplomasi Ekonomi Asia

QRIS Tembus China: Jembatan Baru Diplomasi Ekonomi Asia

by dimas
Juli 27, 2026

QRIS kini dapat digunakan di seluruh daratan China. Langkah ini memperkuat diplomasi ekonomi Indonesia, memperluas konektivitas pembayaran digital, dan mempertegas...

Kudatuli: Ketika Jakarta Bangun dalam Kepungan

Kudatuli: Ketika Jakarta Bangun dalam Kepungan

by Tabooo
Juli 27, 2026

Peristiwa Kudatuli pada 27 Juli 1996 bukan sekadar konflik internal PDI. Penyerbuan di Jalan Diponegoro membuka kekerasan, perburuan aktivis, dan...

Kaesang Nyaleg di Dapil Puan: Politik Simbol atau Elektoral?

Kaesang Nyaleg di Dapil Puan: Politik Simbol atau Elektoral?

by dimas
Juli 27, 2026

Kaesang Pangarep maju sebagai caleg DPR dari Dapil Jawa Tengah V, wilayah yang selama ini menjadi basis Puan Maharani. Apakah...

Next Post
Hoaks! Video Purbaya Tuduh Kades Kaya karena Dana Desa

Hoaks! Video Purbaya Tuduh Kades Kaya karena Dana Desa

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id