• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Sabtu, Maret 21, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home News

Dari Riuh ke Hening: Malam Pengerupukan di Legian Jadi Gerbang Nyepi

Maret 19, 2026
in News, Regional
A A
Dari Riuh ke Hening: Malam Pengerupukan di Legian Jadi Gerbang Nyepi

Arak arakan Ogoh-ogoh di desa adat Legian, Rabu (18/3/26) malam. (Foto: Je/Tabooo)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Regional – Malam Pengerupukan di Desa Adat Legian, Rabu (18/3/2026), berubah jadi panggung budaya raksasa. Kurang lebih belasasan ogoh-ogoh dari tiga banjar adat diarak menyusuri jalan utama, menyedot ribuan pasang mata warga lokal hingga wisatawan asing yang memadati kawasan Jalan Raya Legian.

Dentuman gamelan, tarian tradisional, dan sorak penonton menciptakan satu hal: Bali belum tidur setidaknya untuk malam terakhir sebelum sunyi total.

Namun di balik gegap gempita itu, ada satu tujuan yang jauh lebih dalam.

Simbol Raksasa, Energi yang Diredam

Ogoh-ogoh bukan sekadar boneka raksasa untuk parade Instagram. Ia adalah representasi Bhuta Kala energi negatif yang harus dinetralisir sebelum memasuki Hari Suci Nyepi.

Kelian Adat Banjar Legian Kulod, I Nyoman Sumanata, menegaskan bahwa tradisi ini adalah bentuk “pembersihan” spiritual kolektif.

“Ogoh-ogoh ini wujud kreativitas pemuda dalam menggambarkan Bhuta Kala. Tujuannya untuk menyomya atau menetralisir energi tersebut, agar keesokan harinya umat bisa menjalankan Nyepi dengan khusyuk.” ujarnya.

Artinya sederhana: sebelum hening, Bali harus “berisik” dulu mengusir hal-hal yang tak kasat mata.

Siapa yang Paling Terdampak?

Tradisi ini bukan cuma ritual sakral. Dampaknya terasa nyata, terutama bagi:

RelatedPosts

7.039 Pemudik Gratis Tiba di Tirtonadi, Mayoritas dari DKI Jakarta

Prabowo Sebut Penyiraman Aktivis KontraS Terorisme, Harus Usut Dalangnya

  • Pelaku pariwisata: Hotel, restoran, hingga transportasi di kawasan Kuta harus bersiap berhenti total saat Nyepi. Tidak ada check-in ramai, tidak ada pesta, bahkan Bandara Ngurah Rai ikut tutup.
  • Wisatawan: Mereka harus beradaptasi dengan aturan ketat tidak keluar hotel, minim aktivitas, bahkan lampu dibatasi.
  • Warga lokal: Di satu sisi, mereka jadi aktor utama budaya. Di sisi lain, mereka juga menjalani disiplin penuh selama 24 jam tanpa aktivitas.

Bali mendadak berubah dari destinasi paling hidup jadi pulau paling sunyi.

Dari Melasti ke Tawur Kesanga: Rangkaian yang Tak Terpisah

Sebelum Pengerupukan, umat Hindu lebih dulu menjalani ritual Melasti penyucian simbol suci di laut atau sumber air. Lalu dilanjutkan Tawur Kesanga, sebagai upaya menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan kekuatan spiritual.

Pengerupukan adalah klimaksnya. Setelah itu? Sunyi total.

Catur Brata Penyepian: 24 Jam Tanpa Kompromi

Saat Nyepi tiba, Bali menjalankan empat larangan utama:

  • Amati Gni (tanpa api/lampu)
  • Amati Karya (tanpa kerja)
  • Amati Lelungan (tanpa bepergian)
  • Amati Lelanguan (tanpa hiburan)

Tidak ada kendaraan. Tidak ada kebisingan. Bahkan internet dan siaran bisa ikut dibatasi di beberapa wilayah.

Di dunia yang makin bising, Bali justru memilih diam.

“Libur” untuk Bumi

Menariknya, Nyepi kini tak hanya dibaca sebagai ritual keagamaan. Banyak pihak melihatnya sebagai eksperimen ekologis tahunan.

Selama 24 jam tanpa aktivitas manusia:

  • Emisi turun drastis
  • Kualitas udara membaik
  • Langit jadi lebih bersih
  • Suara alam kembali dominan

Dalam skala global, ini seperti simulasi kecil: bagaimana jika manusia benar-benar berhenti sejenak?

Antara Tradisi dan Tamparan Halus

Pengerupukan di Legian menunjukkan satu hal tradisi tidak pernah sekadar masa lalu. Ia hidup, berdenyut, dan bahkan memengaruhi ekonomi hingga ekologi.

Dan mungkin, di tengah dunia yang tak pernah berhenti bergerak, Bali sedang memberi pesan sederhana:
kadang yang paling kita butuhkan bukan percepatan, tapi keberanian untuk berhenti. @eko

Tags: adat banjarbalibanjar legian kulodhari raya nyepiLegianNyepiOgoh-ogoh
Next Post
Bus Sugeng Rahayu Hantam Jembatan Jurug, Pemudik Alami Detik Mencekam

Bus Sugeng Rahayu Hantam Jembatan Jurug, Pemudik Alami Detik Mencekam

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

5 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • Kabar Duka: Bos Djarum Bambang Hartono Meninggal Dunia di Singapura

    Kabar Duka: Bos Djarum Bambang Hartono Meninggal Dunia di Singapura

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Empat Prajurit TNI Terseret Kasus Penyiraman Air Keras Aktivis

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Iran Luncurkan Rudal ke Israel, Timur Tengah Kembali Memanas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Idul Fitri: Kita Kembali ke Diri, atau Sekadar Kembali ke Tradisi?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pantai Kuta Bali: Surga yang Dijual, atau Ilusi yang Disepakati?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.