Tabooo.id: Vibes – Bayangkan Indonesia dua bulan setelah proklamasi. Jalanan belum benar-benar tenang. Euforia bercampur amarah. Bendera merah putih berkibar, tetapi mental bangsa masih compang-camping oleh perang dan propaganda.
Di tengah kegaduhan itu, seorang lelaki kurus dengan kacamata bundar duduk menulis. Namanya Sutan Sjahrir. Ia tidak membawa senapan. Ia membawa pena.
Pamflet tipis itu berjudul Perjuangan Kita. Terbit pada 10 November 1945. Empat hari kemudian, Sjahrir dilantik sebagai perdana menteri pertama Indonesia. Timing-nya terasa seperti adegan film seorang intelektual menulis manifesto, lalu memimpin negara yang bahkan belum sempat bernapas stabil.
Hari ini, namanya jarang jadi meme. Ia tidak punya aura flamboyan seperti Soekarno. Ia juga tak meninggalkan dinasti politik. Partai yang ia dirikan, Partai Sosialis Indonesia, bahkan dibubarkan di era Orde Lama. Warisannya bukan gedung, bukan perusahaan, bukan jaringan kekuasaan. Warisannya adalah cara berpikir.
Dan mungkin, itu yang paling sulit diwariskan.
Antifasisme di Tengah Euforia Kemerdekaan
Sjahrir menulis Perjuangan Kita ketika revolusi sosial mulai pecah di berbagai daerah. Rakyat marah. Tiga setengah tahun pendudukan Jepang meninggalkan mentalitas keras militeristik, hierarkis, dan penuh kecurigaan.
Dalam pamfletnya, ia tidak memaki rakyat. Ia mencoba memahami kegelisahan mereka. Ia menulis bahwa tindakan brutal yang muncul setelah kemerdekaan harus dibaca sebagai gejala, bukan sekadar kejahatan.
Di sinilah Sjahrir berbeda. Ia tidak terpikat euforia. Ia takut republik yang baru lahir justru tumbuh dengan mental fasis. Baginya, kemerdekaan politik tanpa kemerdekaan berpikir hanya akan melahirkan tirani baru.
Ia ingin membersihkan republik dari sisa-sisa mental pendudukan Jepang. Ia ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia bukan negara liar yang lahir dari amuk massa, melainkan republik rasional yang mengerti diplomasi.
Sejarawan Benedict Anderson bahkan menyebut Perjuangan Kita sebagai satu-satunya manifesto revolusi yang secara sistematis menganalisis kekuatan domestik dan internasional saat itu. Sebuah teks kecil dengan ambisi global.
Bangsawan yang Melawan Feodalisme
Ada ironi menarik dalam diri Sjahrir. Ia lahir dari keluarga bangsawan Minangkabau. Ayahnya seorang jaksa bergelar Maharadja Sutan. Namun ia justru menolak feodalisme.
Sjahrir tidak pernah mengedepankan darah birunya. Ia memilih egalitarianisme. Ia berteman lintas suku dan ras. Ia membangun tradisi diskusi, bukan tradisi komando.
Dalam pandangannya, feodalisme dan fasisme sama-sama berbahaya. Keduanya menciptakan mental tunduk. Keduanya mematikan nalar kritis. Dan keduanya, menurutnya, bisa menjadi pintu masuk imperialisme modern.
Ia membayangkan republik yang berdiri di atas kesadaran warga, bukan ketakutan warga.
Di era ketika banyak tokoh memobilisasi massa dengan retorika heroik, Sjahrir justru berbicara tentang disiplin berpikir. Tentang argumentasi. Tentang reason.
Tidak terlalu seksi untuk poster revolusi. Tapi sangat penting untuk membangun negara.
Pemuda, Tapi Bukan yang Sekadar Bisa Baris-Berbaris
Sjahrir juga berbicara tentang pemuda. Namun ia tidak memuja mereka secara romantis.
Ia mengkritik generasi muda yang hanya terlatih baris-berbaris dan menyerbu tanpa refleksi. Ia melihat banyak pemuda saat itu sebagai produk sistem militer Jepang patuh, berani, tetapi tidak kritis.
Yang ia inginkan berbeda: pemuda yang mampu berpikir, mempertanyakan, dan memimpin dengan akal sehat.
Bayangkan jika ia hidup di era TikTok. Mungkin ia akan lebih tertarik pada thread panjang dan diskusi ruang publik ketimbang tren viral 30 detik.
PSI, Partai Kecil dengan Ambisi Intelektual
Partai Sosialis Indonesia (PSI) yang ia dirikan memang kecil. Ia menyebutnya partai kader. Tidak perlu besar. Tidak perlu gaduh. Yang penting berkualitas.
Partai itu akhirnya dibubarkan. Secara elektoral, ia kalah. Secara kekuasaan, ia tersingkir.
Namun secara gagasan, ia meninggalkan jejak panjang. Perjuangan Kita bahkan masuk daftar 100 catatan yang membentuk Indonesia versi Majalah Tempo.
Kadang sejarah memang kejam pada politisi, tetapi lembut pada pemikir.
Sjahrir di Era Digital: Masih Relevan?
Hari ini kita hidup di era algoritma. Opini bergerak lebih cepat daripada fakta. Polarisasi terasa seperti menu harian. Dalam lanskap seperti ini, gagasan Sjahrir tentang antifasisme dan antifeodalisme terdengar kembali relevan.
Ia mengingatkan bahwa kemerdekaan bukan hanya soal lepas dari penjajah. Ia juga soal membebaskan diri dari mental tunduk dan hasrat menguasai.
Ia percaya republik harus berdiri di atas rasionalitas publik. Di atas debat sehat. Di atas kritik.
Mungkin karena itu namanya tidak sering dijadikan slogan. Ia terlalu reflektif untuk jadi poster.
Namun di tengah dunia yang kembali mudah marah dan cepat menghakimi, pamflet tipis itu seperti cermin lama yang belum retak.
Sjahrir tidak meninggalkan harta. Ia tidak membangun dinasti. Ia bahkan tidak mempertahankan partainya.
Ia hanya meninggalkan satu hal yang sulit ditiru: keberanian untuk berpikir jernih di tengah kebisingan.
Dan mungkin, dalam republik yang terus berisik ini, kita masih membutuhkan lebih banyak Sjahrir meski hanya dalam bentuk ide. @dimas




