Rabu, Mei 13, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Doomscrolling Bikin Cemas dan Sulit Konsentrasi?

by dimas
Februari 28, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Talk – Katanya Generasi Z adalah generasi paling cerdas sepanjang sejarah. Mereka lahir saat internet sudah stabil, tumbuh bersama smartphone, dan memasuki masa remaja ditemani kecerdasan buatan. Multitasking? Jago. Edit video? Sat-set. Cari informasi? Tinggal ketik.

Namun ada kabar yang membuat kita perlu berhenti sejenak.

Sejumlah studi terbaru menunjukkan tren yang tidak nyaman. Generasi Z mereka yang lahir pada akhir 1990-an hingga awal 2010-an berpotensi menjadi generasi pertama yang mencatat skor lebih rendah dalam ukuran kognitif inti dibanding orang tua mereka dari generasi Milenial. Penurunan itu menyentuh perhatian, memori, kemampuan memecahkan masalah, bahkan IQ secara keseluruhan.

Ini bukan sekadar opini warung kopi. Dalam kesaksiannya di hadapan Komite Senat Amerika Serikat pada 2026, ahli saraf dan pendidik Jared Cooney Horvath menegaskan bahwa selama dua dekade terakhir literasi, numerasi, perhatian, dan penalaran tingkat tinggi di banyak negara maju tidak menunjukkan kemajuan berarti bahkan cenderung menurun.

Pertanyaannya sederhana: apakah kita benar-benar makin pintar, atau hanya makin cepat menemukan jawaban?

Ini Belum Selesai

Nobar Film Pesta Babi Dibubarkan, Ada Apa dengan Demokrasi Kita?

Ketika Pembangunan Terlihat Megah, Tapi Rakyat Tetap Gelisah

Layar Menggerus Kedalaman

Mari jujur pada diri sendiri. Kapan terakhir kali kamu membaca buku tebal tanpa mengecek notifikasi? Kapan terakhir kali kamu menuntaskan artikel panjang tanpa berpindah aplikasi?

Data di Amerika Serikat dan Inggris menunjukkan minat membaca untuk kesenangan berada di titik terendah dalam beberapa dekade. Hanya sekitar sepertiga anak usia 8-18 tahun yang menikmati membaca di waktu luang, dan lebih sedikit lagi yang melakukannya setiap hari.

Peneliti juga mencatat kebiasaan membaca harian di AS turun lebih dari 40 persen dalam dua dekade terakhir. Dampaknya langsung terasa. Riset Stanford menemukan banyak siswa sekolah dasar belum mencapai tingkat kelancaran membaca yang diharapkan, terutama di wilayah berpenghasilan rendah.

Kelancaran membaca membentuk fondasi semua pelajaran. Ketika anak kesulitan memahami teks, mereka juga kesulitan mencerna matematika, sains, dan ilmu sosial. Jika fondasi rapuh, bangunan pengetahuan ikut goyah.

Sementara itu, layar menawarkan sensasi instan. Video pendek, headline cepat, konten 30 detik. Kita terus menggulir. Otak jarang berlatih duduk tenang dan mengunyah satu gagasan sampai tuntas.

Doomscrolling dan Pola Pikir Reaktif

Kebiasaan doomscrolling memperparah situasi. Banyak orang menggulir berita negatif tanpa henti hingga larut malam. Kita berkata “sebentar lagi”, tetapi satu jam menghilang begitu saja.

Kebiasaan ini tidak hanya memengaruhi suasana hati. Ia membentuk pola berpikir. Otak terbiasa memindai cepat, bereaksi spontan, dan melewati refleksi mendalam.

Sekolah masih menuntut konsentrasi panjang dan argumen kompleks. Namun ekonomi digital justru memberi hadiah pada distraksi. Algoritma mendorong kita untuk terus kembali, bukan untuk berhenti dan berpikir.

Kita menyebut semua itu kemajuan. Tapi apakah benar begitu?

Jangan Terburu-buru Menyalahkan

Sebelum kita menunjuk Gen Z sebagai biang masalah, mari ajukan pertanyaan yang lebih adil: siapa yang merancang ekosistem ini?

Gen Z tidak menciptakan algoritma adiktif. Mereka juga tidak menetapkan kebijakan pendidikan digital tanpa perencanaan matang. Generasi sebelumnya mengambil banyak keputusan strategis tentang teknologi dan pendidikan.

Kita juga harus mengakui satu hal: kecerdasan hari ini tampil dalam bentuk berbeda. Generasi muda menunjukkan kelincahan digital, kreativitas lintas platform, dan kemampuan adaptasi tinggi. Mereka belajar coding dari video daring, membangun bisnis lewat media sosial, dan berjejaring lintas negara dalam hitungan detik.

Masalahnya bukan pada generasinya. Masalahnya terletak pada keseimbangan. Ketika mesin selalu menyediakan jawaban instan, manusia harus tetap melatih proses berpikirnya.

Jika semua soal kamu serahkan pada mesin, kapan otakmu bekerja?

Pendidikan Harus Bergerak

Para pakar menekankan bahwa kecerdasan tumbuh melalui latihan. Seseorang mengasah daya pikirnya lewat pemecahan masalah, diskusi, dan pembacaan mendalam bukan sekadar konsumsi cepat.

Karena itu, kita perlu mendesain ulang sistem belajar. Sekolah harus mengajarkan cara membaca secara kritis, bukan hanya mengejar penyelesaian materi. Literasi digital perlu berjalan berdampingan dengan literasi mendalam.

Kita juga perlu membangun disiplin penggunaan layar. Teknologi harus mendukung proses berpikir, bukan menggantikannya.

Ini bukan alarm untuk panik. Ini ajakan untuk bertindak dengan sadar.

Semua Terlibat, Semua Bertanggung Jawab

Isu ini tidak berhenti pada Gen Z. Kita semua hidup dalam arus yang sama. Kita semua tergoda untuk mencari jawaban tercepat.

Pada akhirnya, ini bukan soal siapa lebih pintar. Ini soal siapa yang masih mau melatih pikirannya.

Di tengah banjir informasi, apakah kamu masih menyediakan waktu untuk membaca pelan dan merenung? Atau kamu merasa cukup dengan ringkasan 30 detik?

Kita mungkin menjadi generasi yang paling cepat tahu. Tetapi apakah kita juga menjadi generasi yang paling dalam memahami?

Sekarang pertanyaannya kembali ke kamu.

Lalu, kamu di kubu mana? @dimas

Tags: BudayaDigitalDoomscrollingGen ZGenerasiKesehatanLiterasimentalOtakPendidikan

Kamu Melewatkan Ini

Berani Speak Up di Depan Juri: Sikap Kritis atau Tanda Mental Anak Makin Sehat?

Berani Speak Up di Depan Juri: Sikap Kritis atau Tanda Mental Anak Makin Sehat?

by teguh
Mei 13, 2026

Sebuah video membuat publik berhenti scroll. Bukan karena keributan. Bukan juga karena drama panggung lomba. Publik justru menyorot keberanian seorang...

Seblak Pedas Ternyata Membungkam Overthinking

Seblak Pedas Ternyata Membungkam Overthinking

by Anisa
Mei 11, 2026

Seblak pedas kini bukan lagi sekadar tren jajanan kaki lima. Di tengah ledakan budaya kuliner pedas Indonesia, ia perlahan berubah...

Dulu Outfit Buat Pamer, Sekarang Buat Apa?

Dulu Outfit Buat Pamer, Sekarang Buat Apa?

by Naysa
Mei 9, 2026

Dulu orang membeli outfit buat pamer di depan orang lain. Supaya terlihat keren. Sekarang, banyak orang membeli pakaian untuk merasa...

Next Post
Dari Teheran ke Abu Dhabi: Eskalasi yang Melebar

Dari Teheran ke Abu Dhabi: Eskalasi yang Melebar

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Mei 12, 2026

Rupiah Anjlok ke Rp 17.500 per Dolar AS, Investor Mulai Kehilangan Kepercayaan

Mei 12, 2026

Kuota Tanpa Batas? Nyaman Buat Kamu, Tapi Jaringan Bisa Kewalahan

Mei 8, 2026

Sekolah Rakyat di Kupang: Jalan Baru Anak Miskin Keluar dari Batas Pendidikan?

Mei 12, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id