Tabooo.id: Life – Siang itu, matahari Semarang menggantung rendah seperti lampu panggung yang sengaja diarahkan pada sebuah kampung kecil bernama Kampoeng Djadhoel. Lorong sempitnya berbau kayu tua dan adonan kue pasar yang baru matang. Seorang ibu tua menepuk-nepuk loyang bolu jadul sambil berkata lirih “Dulu kampung ini kayak kubangan, Nak. Sekarang lihat, orang-orang datang buat nostalgia.”
Di tengah suasana itu, Puan Maharani melangkah masuk. Syal batik merah yang melingkari lehernya bergoyang pelan terkena angin. Warga menyapanya, beberapa anak kecil mengintip dari balik tembok yang penuh lukisan motif Jawa. Ada semacam kehangatan yang tak dibuat-buat, seperti kampung ini sudah lama menunggu seseorang untuk mendengar kisah mereka secara utuh.
Kampoeng Djadhoel, desa wisata unggulan yang lahir dari bekas kampung kumuh, hidup bukan karena cat warna-warni di dinding, tetapi karena cerita yang tertinggal di setiap sudut.
Kampung yang Menolak Menyerah
Menurut catatan pemerintah daerah, Kampoeng Djadhoel tumbuh dari program kampung tematik tahun 2017. Tidak semua kampung tematik bertahan, tetapi Kampoeng Djadhoel memilih melawan nasib. Warganya mengubah lorong yang dulu dipenuhi sampah menjadi galeri batik terbuka. Mereka merangkai ulang sejarah melalui ukiran kayu, lukisan dinding, dan workshop membatik yang kini menjadi magnet utama wisatawan.
UMKM menjadi jantung ekonomi mereka. Dari gerobak angkringan hingga pajangan batik, semua bergerak serempak. Data kelurahan menyebutkan kunjungan wisata meningkat drastis tiap akhir pekan, memacu pendapatan warga hingga dua kali lipat di beberapa titik jualan.
Di dalam saung kecil, Puan duduk melingkar bersama para pedagang. Rohmana dan Dina, dua penjual jajanan pasar, meminta pelatihan UMKM. “Bahan jadul makin susah, Bu. Kalau bisa, promosinya dibantu,” kata Dina.
Puan menanggapi dengan nada hangat. “Sesuatu yang jadul itu mahal. Nilainya justru di cerita yang kalian punya. Itu harus dikuatkan.”
Sisi Lain dari Sebuah Kampung Cantik
Di balik warna-warni tembok kampung, tersimpan ironi kecil yang tidak dituturkan keras-keras.
Kampung yang dulu dicap kumuh kini menjadi destinasi wisata. Namun beberapa warganya masih bergulat dengan persoalan klasik: modal usaha, akses pasar, dan regenerasi pengrajin.
Di beberapa galeri batik, para ibu mengaku kesulitan menarik minat anak muda untuk belajar membatik. “Mereka lebih pilih kerja yang cepat kelihatan hasilnya,” ujar seorang pengrajin senior. Padahal, untuk menjaga identitas Kampoeng Djadhoel, tangan-tangan muda sangat dibutuhkan.
Dan seperti banyak desa wisata lain, kesejahteraan belum merata. Mereka yang tinggal di lorong utama mendapat limpahan pengunjung, sementara warga di ujung kampung masih bertanya-tanya kapan giliran mereka menikmati rezeki dari keramaian.
Kampung ini cantik, tapi perjalanannya tidak serampai warna cat di dinding.
Ketika Nostalgia Menjadi Komoditas
Ada paradoks menarik yang tak bisa dihindari: Kampoeng Djadhoel menjual masa lalu untuk masa depan. Wisatawan datang bukan hanya untuk belanja, tetapi mencari rasa “jaman dulu” yang kini semakin langka. Ironisnya, rasa jadul itu justru bertahan karena modernitas pernah gagal menjaga kampung ini tetap manusiawi.
Puan mengingatkan pentingnya promosi. “Harus dikencengin promosinya,” ujarnya. Sebuah kalimat sederhana yang sekaligus mengandung tantangan. Sebab semakin besar promosi, semakin besar pula peluang komodifikasi.
Desa wisata memang menjanjikan, tetapi terlalu banyak cahaya dapat menghilangkan bayangan-bayangan kecil yang sebetulnya membuat tempat ini hidup: percakapan antarwarga, aroma dapur, proses rumit membuat batik, atau kisah rumahan yang tidak pernah masuk brosur wisata.
Sikap Tabooo: Di Balik Keramaian, Ada Ketabahan yang Tak Terlihat
Tabooo melihat Kampoeng Djadhoel bukan hanya sebagai destinasi manis yang dipoles untuk turis, tetapi sebagai contoh kecil bagaimana warga menolak dikubur oleh stigma. Mereka merebut kembali ruangnya, mengubah reruntuhan sosial menjadi wajah baru yang ramah.
Namun perlawanan mereka belum selesai.
Jika negara benar ingin membantu, bukan hanya festival dan kunjungan tokoh yang dibutuhkan. Yang diperlukan adalah:
- pendampingan UMKM jangka panjang
- akses modal yang mudah
- regenerasi pengrajin dan pelatihan teknis
- promosi yang tidak mematikan karakter asli kampung
Karena apa gunanya wajah kampung seribu warna jika warganya masih tersandung di baliknya.
Kunjungan Puan memberi dorongan moral dan membuka pintu diskusi. Tetapi kampung ini tumbuh bukan karena kunjungan pejabat, melainkan karena kerja kolektif warganya yang sudah berjalan bertahun-tahun.
Ketika Puan Mencicipi Lumpia, Warga Mencicipi Harapan
Di salah satu lorong, Puan berhenti di depan pedagang lumpia. Ia melihat prosesnya, mencicipinya, lalu tersenyum. Adegan kecil yang mungkin tampak sederhana, tetapi bagi pedagang itu, bisa jadi momen yang membuka peluang lebih besar.
Di sudut lain, anak-anak membatik dengan tangan kecil yang masih canggung. Mereka menatap Puan dengan mata penuh rasa ingin tahu. Mungkin mereka belum mengerti seluruh cerita kampung mereka, tetapi Puan mengingatkan bahwa sejarah itu harus diceritakan.
“Agar mereka bisa menceritakan ke tamu-tamu yang datang,” katanya.
Kalimat itu bukan sekadar pesan, melainkan tantangan agar anak-anak kampung ini menjadi penjaga cerita yang sedang dituliskan ulang.
Pada Akhirnya, Kampoeng Djadhoel Adalah Tentang Pertarungan Kecil yang Berhasil Menang
Ketika Puan meninggalkan kampung itu sore hari, warga melambaikan tangan, seolah mengirim harapan agar kampung ini terus diperhatikan. Tetapi pertanyaan sesungguhnya muncul setelah keramaian mereda.
Apakah Kampoeng Djadhoel akan terus tumbuh, atau akan memudar ketika tren wisata bergeser?
Waktu yang akan menjawabnya. Namun satu hal pasti: kampung ini pernah dianggap kumuh dan kini berdiri sebagai ruang penuh warna, aroma kue jadul, suara batik yang dilorot, dan tawa anak-anak yang berkejaran.
Ada kampung yang mati oleh modernitas
Ada kampung yang hidup karena melawan
Kampoeng Djadhoel memilih pilihan kedua.
Dan kamu, kalau datang ke sini, datang sebagai turis atau pendengar cerita? @dimas




