• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Selasa, Maret 24, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home Vibes

Dari Langgar ke Layar: Ketika Pesantren Diuji oleh Tayangan Satir

Oktober 15, 2025
in Vibes
A A
Dari Langgar ke Layar: Ketika Pesantren Diuji oleh Tayangan Satir

Masjid Tegalsari (Pesantren Tegalsari) atau Pesantren Gebang Tinatar di Ponorogo disebut sebagai cikal bakal pondok pesantren di tanah Jawa. (Foto: Tabooo)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Vibes – Bayangkan: di satu sisi, pesantren, lembaga pendidikan Islam tertua di Nusantara, berdiri kokoh selama berabad-abad sebagai benteng moral dan ilmu. Di sisi lain, sebuah tayangan televisi nasional, Xpose Uncensored Trans7, menyorot kehidupan santri dengan judul provokatif:

“Santrinya Minum Susu Aja Kudu Jongkok, Emang Gini Kehidupan Pondok? Kiainya yang Kaya Raya, Tapi Umatnya yang Kasih Amplop.”

Seketika, dunia maya meledak. Tagar #BoikotTrans7 melesat ke puncak trending, dan ruang digital berubah jadi majelis perdebatan. Tapi di balik hiruk-pikuk itu, muncul pertanyaan lebih dalam: Apakah kita benar-benar memahami apa itu pesantren, atau hanya melihatnya dari balik layar kaca yang dangkal?

Jejak Panjang Sebuah Tradisi

Sebelum ada kurikulum nasional, lembaga akreditasi, atau istilah “pendidikan karakter”, pesantren sudah lebih dulu mengajarkannya. Dari abad ke-14, para Wali Songo mendirikan pondok-pondok kecil di Jawa, bukan sekadar untuk menghafal kitab, tapi untuk mendidik manusia yang berakal dan berakhlak.

Syaikh Maulana Malik Ibrahim mendirikan pesantren pertama di Gresik, melahirkan murid seperti Sunan Giri, yang kemudian membangun Giri Kedaton, cikal bakal universitas kehidupan di masa itu. Dari sinilah, pesantren menjadi sistem pendidikan paling lokal sekaligus paling berpengaruh di Indonesia.

Para kiai mengajarkan tafaqquh fi al-din (pendalaman agama) dengan dua cara: Sorogan, di mana santri membaca kitab langsung di hadapan guru; dan bandongan, metode kolektif yang menekankan kebersamaan. Tak ada gaji, tak ada biaya mahal, hanya niat belajar dan pengabdian tulus.

Dari Resolusi Jihad ke Revolusi Pendidikan

Pesantren bukan hanya tempat belajar agama, tapi juga tempat lahirnya perlawanan. Pada 1945, KH. Hasyim Asy’ari mengeluarkan Resolusi Jihad, seruan yang membakar semangat arek-arek Surabaya untuk mempertahankan kemerdekaan. Dari pesantren pula lahir para pejuang, intelektual, dan pemimpin moral bangsa.

Kini, ketika pendidikan formal sibuk mengejar akreditasi, pesantren tetap menjaga misi utamanya, mendidik manusia seutuhnya. Ada pelajaran disiplin dari pondok yang sederhana, ada nilai kesabaran dari antrian wudhu, dan ada rasa hormat yang tumbuh ketika seorang santri jongkok di depan kiai. Bukan karena dipaksa, tapi karena ta’dzim, cinta yang berwujud hormat.

Ketika Layar Salah Membaca Adab

Sayangnya, nilai-nilai itu sering gagal diterjemahkan oleh media. Tayangan Xpose Uncensored memotong realitas spiritual pesantren menjadi satire sosial, seolah penghormatan adalah feodalisme, pengabdian adalah kemiskinan, dan kesederhanaan adalah kebodohan.

Media lupa bahwa pesantren bukan sekadar ruang belajar, tapi ruang jiwa. Di sanalah ribuan anak muda tumbuh dengan nilai kemandirian, kesetiaan, dan kesadaran sosial yang nyaris tak diajarkan di sekolah-sekolah elite.

Bagi santri, mencium tangan kiai bukan ritual feodal, tapi simbol kerendahan hati. Mereka tidak “ngesot” untuk mencari belas kasihan, tapi untuk menanggalkan ego. Tradisi yang lahir dari cinta, bukan dari ketundukan.

RelatedPosts

Legian: Ketika Malam Tidak Pernah Tidur

Pantai Kuta Bali: Surga yang Dijual, atau Ilusi yang Disepakati?

Pesantren Hari Ini: Antara Masa Lalu dan Masa Scroll

Di era digital, pesantren tak lagi terpaku pada kitab kuning. Ada laboratorium komputer di samping surau, startup di bawah naungan kiai muda, dan ribuan santri yang kini belajar coding setelah mengaji tafsir.

Menurut data Kemenag (Oktober 2025), ada 42.391 pesantren di Indonesia dengan lebih dari 1,3 juta santri aktif. Di tengah dunia yang makin terfragmentasi, pesantren justru menjadi ruang kolektif terakhir yang masih mempraktikkan kebersamaan: tidur bersama, makan bersama, belajar bersama, dan saling menguatkan dalam dunia yang makin individualistis.

Kritik Boleh, Tapi Pahami Dulu

Kritik terhadap pesantren tentu sah, selama dilakukan dengan niat membangun, bukan merendahkan. Dunia pesantren sendiri sudah berevolusi: Dari sistem tradisional menuju pendidikan modern, dari pengajaran kitab ke penguasaan sains dan teknologi.

Namun satu hal yang tak berubah adalah ruh adab, sesuatu yang sering hilang dari layar kaca modern.

Dalam kebisingan televisi dan algoritma, pesantren mengingatkan kita: belajar bukan sekadar soal data, tapi soal cara memperlakukan guru, ilmu, dan manusia lain dengan hormat.

Mungkin tayangan Trans7 itu salah satu potret zaman, di mana media merasa bebas, tapi lupa beradab. Sementara pesantren, yang dianggap “kolot” justru menjaga moral yang kini kerap hilang di kota-kota.

Pesantren tidak butuh pembelaan, karena sejarah sudah membuktikan keteguhannya. Tapi publik butuh diingatkan, jangan menertawakan apa yang belum dipahami.

Pesantren sudah melewati penjajah, revolusi, dan reformasi. Mereka tak runtuh oleh peluru, apalagi oleh tayangan satir berdurasi 30 menit. Yang perlu runtuh adalah kesombongan, di layar kaca dan di hati kita sendiri. @tabooo

Tags: Boikot Trans7PesantrenSejarahTrans7Vibes
Next Post
Mortal Kombat II Belum Rilis, Warner Bros Sudah Garap Mortal Kombat III

Mortal Kombat II Belum Rilis, Warner Bros Sudah Garap Mortal Kombat III

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

6 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • SSD Lebih Awet dari HDD? Atau Kita yang Makin Takut Kehilangan Data?

    SSD Lebih Awet dari HDD? Atau Kita yang Makin Takut Kehilangan Data?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kuta Not Crime: Kenapa Muncul di Tembok Poppies?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Harga Bitcoin Melemah di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • KPK Buka Peluang Tahanan Rumah, Kasus Yaqut Jadi Sorotan Publik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Trump Beri Ultimatum 48 Jam ke Iran untuk Buka Selat Hormuz

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.