Tabooo.id: Vibes – Bayangkan: di satu sisi, pesantren, lembaga pendidikan Islam tertua di Nusantara, berdiri kokoh selama berabad-abad sebagai benteng moral dan ilmu. Di sisi lain, sebuah tayangan televisi nasional, Xpose Uncensored Trans7, menyorot kehidupan santri dengan judul provokatif:
“Santrinya Minum Susu Aja Kudu Jongkok, Emang Gini Kehidupan Pondok? Kiainya yang Kaya Raya, Tapi Umatnya yang Kasih Amplop.”
Seketika, dunia maya meledak. Tagar #BoikotTrans7 melesat ke puncak trending, dan ruang digital berubah jadi majelis perdebatan. Tapi di balik hiruk-pikuk itu, muncul pertanyaan lebih dalam: Apakah kita benar-benar memahami apa itu pesantren, atau hanya melihatnya dari balik layar kaca yang dangkal?
Jejak Panjang Sebuah Tradisi
Sebelum ada kurikulum nasional, lembaga akreditasi, atau istilah “pendidikan karakter”, pesantren sudah lebih dulu mengajarkannya. Dari abad ke-14, para Wali Songo mendirikan pondok-pondok kecil di Jawa, bukan sekadar untuk menghafal kitab, tapi untuk mendidik manusia yang berakal dan berakhlak.
Syaikh Maulana Malik Ibrahim mendirikan pesantren pertama di Gresik, melahirkan murid seperti Sunan Giri, yang kemudian membangun Giri Kedaton, cikal bakal universitas kehidupan di masa itu. Dari sinilah, pesantren menjadi sistem pendidikan paling lokal sekaligus paling berpengaruh di Indonesia.
Para kiai mengajarkan tafaqquh fi al-din (pendalaman agama) dengan dua cara: Sorogan, di mana santri membaca kitab langsung di hadapan guru; dan bandongan, metode kolektif yang menekankan kebersamaan. Tak ada gaji, tak ada biaya mahal, hanya niat belajar dan pengabdian tulus.
Dari Resolusi Jihad ke Revolusi Pendidikan
Pesantren bukan hanya tempat belajar agama, tapi juga tempat lahirnya perlawanan. Pada 1945, KH. Hasyim Asy’ari mengeluarkan Resolusi Jihad, seruan yang membakar semangat arek-arek Surabaya untuk mempertahankan kemerdekaan. Dari pesantren pula lahir para pejuang, intelektual, dan pemimpin moral bangsa.
Kini, ketika pendidikan formal sibuk mengejar akreditasi, pesantren tetap menjaga misi utamanya, mendidik manusia seutuhnya. Ada pelajaran disiplin dari pondok yang sederhana, ada nilai kesabaran dari antrian wudhu, dan ada rasa hormat yang tumbuh ketika seorang santri jongkok di depan kiai. Bukan karena dipaksa, tapi karena ta’dzim, cinta yang berwujud hormat.
Ketika Layar Salah Membaca Adab
Sayangnya, nilai-nilai itu sering gagal diterjemahkan oleh media. Tayangan Xpose Uncensored memotong realitas spiritual pesantren menjadi satire sosial, seolah penghormatan adalah feodalisme, pengabdian adalah kemiskinan, dan kesederhanaan adalah kebodohan.
Media lupa bahwa pesantren bukan sekadar ruang belajar, tapi ruang jiwa. Di sanalah ribuan anak muda tumbuh dengan nilai kemandirian, kesetiaan, dan kesadaran sosial yang nyaris tak diajarkan di sekolah-sekolah elite.
Bagi santri, mencium tangan kiai bukan ritual feodal, tapi simbol kerendahan hati. Mereka tidak “ngesot” untuk mencari belas kasihan, tapi untuk menanggalkan ego. Tradisi yang lahir dari cinta, bukan dari ketundukan.
Pesantren Hari Ini: Antara Masa Lalu dan Masa Scroll
Di era digital, pesantren tak lagi terpaku pada kitab kuning. Ada laboratorium komputer di samping surau, startup di bawah naungan kiai muda, dan ribuan santri yang kini belajar coding setelah mengaji tafsir.
Menurut data Kemenag (Oktober 2025), ada 42.391 pesantren di Indonesia dengan lebih dari 1,3 juta santri aktif. Di tengah dunia yang makin terfragmentasi, pesantren justru menjadi ruang kolektif terakhir yang masih mempraktikkan kebersamaan: tidur bersama, makan bersama, belajar bersama, dan saling menguatkan dalam dunia yang makin individualistis.
Kritik Boleh, Tapi Pahami Dulu
Kritik terhadap pesantren tentu sah, selama dilakukan dengan niat membangun, bukan merendahkan. Dunia pesantren sendiri sudah berevolusi: Dari sistem tradisional menuju pendidikan modern, dari pengajaran kitab ke penguasaan sains dan teknologi.
Namun satu hal yang tak berubah adalah ruh adab, sesuatu yang sering hilang dari layar kaca modern.
Dalam kebisingan televisi dan algoritma, pesantren mengingatkan kita: belajar bukan sekadar soal data, tapi soal cara memperlakukan guru, ilmu, dan manusia lain dengan hormat.
Mungkin tayangan Trans7 itu salah satu potret zaman, di mana media merasa bebas, tapi lupa beradab. Sementara pesantren, yang dianggap “kolot” justru menjaga moral yang kini kerap hilang di kota-kota.
Pesantren tidak butuh pembelaan, karena sejarah sudah membuktikan keteguhannya. Tapi publik butuh diingatkan, jangan menertawakan apa yang belum dipahami.
Pesantren sudah melewati penjajah, revolusi, dan reformasi. Mereka tak runtuh oleh peluru, apalagi oleh tayangan satir berdurasi 30 menit. Yang perlu runtuh adalah kesombongan, di layar kaca dan di hati kita sendiri. @tabooo




