Sabtu, Juni 27, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Dari Langgar ke Layar: Ketika Pesantren Diuji oleh Tayangan Satir

by Tabooo
Oktober 15, 2025
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Vibes – Bayangkan: di satu sisi, pesantren, lembaga pendidikan Islam tertua di Nusantara, berdiri kokoh selama berabad-abad sebagai benteng moral dan ilmu. Di sisi lain, sebuah tayangan televisi nasional, Xpose Uncensored Trans7, menyorot kehidupan santri dengan judul provokatif:

“Santrinya Minum Susu Aja Kudu Jongkok, Emang Gini Kehidupan Pondok? Kiainya yang Kaya Raya, Tapi Umatnya yang Kasih Amplop.”

Seketika, dunia maya meledak. Tagar #BoikotTrans7 melesat ke puncak trending, dan ruang digital berubah jadi majelis perdebatan. Tapi di balik hiruk-pikuk itu, muncul pertanyaan lebih dalam: Apakah kita benar-benar memahami apa itu pesantren, atau hanya melihatnya dari balik layar kaca yang dangkal?

Jejak Panjang Sebuah Tradisi

Sebelum ada kurikulum nasional, lembaga akreditasi, atau istilah “pendidikan karakter”, pesantren sudah lebih dulu mengajarkannya. Dari abad ke-14, para Wali Songo mendirikan pondok-pondok kecil di Jawa, bukan sekadar untuk menghafal kitab, tapi untuk mendidik manusia yang berakal dan berakhlak.

Syaikh Maulana Malik Ibrahim mendirikan pesantren pertama di Gresik, melahirkan murid seperti Sunan Giri, yang kemudian membangun Giri Kedaton, cikal bakal universitas kehidupan di masa itu. Dari sinilah, pesantren menjadi sistem pendidikan paling lokal sekaligus paling berpengaruh di Indonesia.

Ini Belum Selesai

Kirab Pusaka PSHW-TM: Langkah Sunyi yang Menyatukan Persaudaraan

Bento, Bongkar, dan Generasi yang Masih Marah: Mengapa SWAMI Tak Pernah Usang?

Para kiai mengajarkan tafaqquh fi al-din (pendalaman agama) dengan dua cara: Sorogan, di mana santri membaca kitab langsung di hadapan guru; dan bandongan, metode kolektif yang menekankan kebersamaan. Tak ada gaji, tak ada biaya mahal, hanya niat belajar dan pengabdian tulus.

Dari Resolusi Jihad ke Revolusi Pendidikan

Pesantren bukan hanya tempat belajar agama, tapi juga tempat lahirnya perlawanan. Pada 1945, KH. Hasyim Asy’ari mengeluarkan Resolusi Jihad, seruan yang membakar semangat arek-arek Surabaya untuk mempertahankan kemerdekaan. Dari pesantren pula lahir para pejuang, intelektual, dan pemimpin moral bangsa.

Kini, ketika pendidikan formal sibuk mengejar akreditasi, pesantren tetap menjaga misi utamanya, mendidik manusia seutuhnya. Ada pelajaran disiplin dari pondok yang sederhana, ada nilai kesabaran dari antrian wudhu, dan ada rasa hormat yang tumbuh ketika seorang santri jongkok di depan kiai. Bukan karena dipaksa, tapi karena ta’dzim, cinta yang berwujud hormat.

Ketika Layar Salah Membaca Adab

Sayangnya, nilai-nilai itu sering gagal diterjemahkan oleh media. Tayangan Xpose Uncensored memotong realitas spiritual pesantren menjadi satire sosial, seolah penghormatan adalah feodalisme, pengabdian adalah kemiskinan, dan kesederhanaan adalah kebodohan.

Media lupa bahwa pesantren bukan sekadar ruang belajar, tapi ruang jiwa. Di sanalah ribuan anak muda tumbuh dengan nilai kemandirian, kesetiaan, dan kesadaran sosial yang nyaris tak diajarkan di sekolah-sekolah elite.

Bagi santri, mencium tangan kiai bukan ritual feodal, tapi simbol kerendahan hati. Mereka tidak “ngesot” untuk mencari belas kasihan, tapi untuk menanggalkan ego. Tradisi yang lahir dari cinta, bukan dari ketundukan.

Pesantren Hari Ini: Antara Masa Lalu dan Masa Scroll

Di era digital, pesantren tak lagi terpaku pada kitab kuning. Ada laboratorium komputer di samping surau, startup di bawah naungan kiai muda, dan ribuan santri yang kini belajar coding setelah mengaji tafsir.

Menurut data Kemenag (Oktober 2025), ada 42.391 pesantren di Indonesia dengan lebih dari 1,3 juta santri aktif. Di tengah dunia yang makin terfragmentasi, pesantren justru menjadi ruang kolektif terakhir yang masih mempraktikkan kebersamaan: tidur bersama, makan bersama, belajar bersama, dan saling menguatkan dalam dunia yang makin individualistis.

Kritik Boleh, Tapi Pahami Dulu

Kritik terhadap pesantren tentu sah, selama dilakukan dengan niat membangun, bukan merendahkan. Dunia pesantren sendiri sudah berevolusi: Dari sistem tradisional menuju pendidikan modern, dari pengajaran kitab ke penguasaan sains dan teknologi.

Namun satu hal yang tak berubah adalah ruh adab, sesuatu yang sering hilang dari layar kaca modern.

Dalam kebisingan televisi dan algoritma, pesantren mengingatkan kita: belajar bukan sekadar soal data, tapi soal cara memperlakukan guru, ilmu, dan manusia lain dengan hormat.

Mungkin tayangan Trans7 itu salah satu potret zaman, di mana media merasa bebas, tapi lupa beradab. Sementara pesantren, yang dianggap “kolot” justru menjaga moral yang kini kerap hilang di kota-kota.

Pesantren tidak butuh pembelaan, karena sejarah sudah membuktikan keteguhannya. Tapi publik butuh diingatkan, jangan menertawakan apa yang belum dipahami.

Pesantren sudah melewati penjajah, revolusi, dan reformasi. Mereka tak runtuh oleh peluru, apalagi oleh tayangan satir berdurasi 30 menit. Yang perlu runtuh adalah kesombongan, di layar kaca dan di hati kita sendiri. @tabooo

Tags: Boikot Trans7PesantrenSejarah

Kamu Melewatkan Ini

Ki Ngabehi Soerodiwirjo dan Rahasia di Balik Lahirnya Setia Hati

Ki Ngabehi Soerodiwirjo dan Rahasia di Balik Lahirnya Setia Hati

by dimas
Juni 21, 2026

Ki Ngabehi Soerodiwirjo menempuh perjalanan panjang melintasi Nusantara untuk mencari jati diri. Dari pencarian itulah lahir Persaudaraan Setia Hati, warisan...

Bersih Desa: Tradisi Jawa yang Lahir dari Wabah, Kehilangan, dan Harapan

Bersih Desa: Tradisi Jawa yang Lahir dari Wabah, Kehilangan, dan Harapan

by dimas
Juni 14, 2026

Tradisi Bersih Desa ternyata berakar dari legenda wabah Kerajaan Gilingaya, kisah kehilangan seorang ibu, dan harapan yang menyatukan masyarakat Jawa....

Malam 1 Suro dan Jejak Sultan Agung Menyatukan Peradaban Jawa

Malam 1 Suro dan Jejak Sultan Agung Menyatukan Peradaban Jawa

by dimas
Juni 13, 2026

Malam 1 Suro bukan sekadar kisah mistis. Di baliknya tersimpan sejarah Sultan Agung menyatukan Jawa melalui budaya, tradisi, dan kalender...

Next Post
Mortal Kombat II Belum Rilis, Warner Bros Sudah Garap Mortal Kombat III

Mortal Kombat II Belum Rilis, Warner Bros Sudah Garap Mortal Kombat III

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id