Tabooo.id: Entertainment – Pernah kepikiran kalau memperbaiki hubungan itu lebih susah daripada menamatkan game? Nah, gimana kalau dua hal itu digabung jadi satu pengalaman? Itulah yang terjadi di It Takes Two game yang bukan cuma soal lompat-lompat platforming, tapi juga tentang pernikahan yang hampir bubar.
Game Co-op yang Ratingnya Bikin AAA Minder
Game petualangan kooperatif ini digarap oleh Hazelight Studios di bawah arahan kreator eksentrik Josef Fares. Bahkan sebelum resmi rilis, judul ini sudah mencetak prestasi yang bikin industri menoleh.
Di situs meta-review besar seperti Metacritic dan OpenCritic, skor It Takes Two berkisar 86–90% tergantung platform, dengan rata-rata 88% di OpenCritic. Angka itu langsung menempatkannya di jajaran game dengan rating tertinggi tahun rilisnya.
Yang lebih menarik? Ia berhasil “menyalip” game AAA populer seperti Hitman 3, Nioh 2 Complete Edition, bahkan Monster Hunter Rise di beberapa metrik penilaian. Bukan skor sempurna memang. Tapi jelas cukup untuk membuktikan satu hal: konsep sederhana bisa mengalahkan budget raksasa.
Suami Istri Jadi Boneka, Tapi Drama Tetap Nyata
Premisnya absurd tapi relate. Sepasang suami istri yang hubungannya retak berubah menjadi boneka kecil buatan anak mereka. Untuk kembali ke dunia nyata, mereka harus bekerja sama melewati berbagai tantangan.
Artinya? Kalau salah satu egois, ya game over. Gameplay co-op di sini bukan sekadar fitur tambahan. Ia menjadi inti pengalaman. Setiap level memaksa dua pemain berkomunikasi, berbagi peran, dan saling percaya. Mau jago sendirian? Maaf, tidak berlaku.
Game ini tersedia di PS4, PS5, Xbox One, Xbox Series X/S, dan PC. Tapi platform sebenarnya bukan konsol melainkan hubungan antar manusia.
Kenapa Game Ini Terasa “Kena Banget”?
Di era digital sekarang, banyak hubungan rusak bukan karena masalah besar. Justru karena komunikasi kecil yang hilang.
Ironisnya, kita bisa berjam-jam mabar dengan teman online, tapi ngobrol serius dengan pasangan saja terasa berat. It Takes Two seperti menyindir pelan: kerja sama itu bukan bakat, melainkan pilihan sadar.
Di sinilah kekuatan hiburan modern terasa nyata. Game bukan cuma pelarian dari stres. Ia bisa menjadi cermin kehidupan. Bahkan mungkin terapi murah.
Hiburan yang Diam-Diam Mengajarkan Empati
Kesuksesan It Takes Two menunjukkan bahwa pemain sebenarnya haus pengalaman emosional, bukan hanya grafis realistis atau dunia open-world raksasa.
Orang ingin merasa terhubung. Baik dengan karakter maupun dengan orang di sebelah mereka di sofa.
Jadi mungkin pertanyaannya bukan lagi: “Game ini seru nggak?”
Tapi: “Siapa yang mau kamu ajak main?” Karena kadang, memperbaiki hubungan memang harus dimulai dari satu tombol: Start. @eko




