Sabtu, Mei 16, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Dari Kolonial ke Modern: Jejak Sekolah Rakyat

by dimas
Desember 13, 2025
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Vibes – Bayangkan lorong asrama yang panjang. Tawa anak-anak dari keluarga miskin ekstrem berpadu dengan bunyi papan tulis, ketikan laptop, dan langkah guru yang lalu-lalang. Di lorong inilah program Sekolah Rakyat berjalan pendidikan gratis berasrama yang pemerintah gadang-gadang sebagai solusi ketimpangan akses pendidikan.

Ambisi itu terdengar mulia. Namun satu pertanyaan tetap mengemuka mampukah niat baik menembus realitas birokrasi dan keterbatasan sistem pendidikan nasional?

Jejak Panjang Pendidikan untuk Rakyat

Gagasan Sekolah Rakyat tidak lahir hari ini. Pada era kolonial, pemerintah Hindia Belanda membuka volkschool bagi bumiputera, meski tetap memungut biaya. Pemerintah pendudukan Jepang kemudian menghadirkan pendidikan gratis, namun membungkusnya dengan indoktrinasi dan disiplin militer.

Setelah kemerdekaan, pemerintah Indonesia memperluas Sekolah Rakyat menjadi fondasi sekolah dasar modern. Negara memperpanjang masa belajar, memperluas akses, dan perlahan menggratiskan biaya. Sejarah ini menunjukkan satu pola: kebijakan pendidikan rakyat selalu lahir dari ambisi politik dan diuji oleh kapasitas negara.

Bab Baru di Era Prabowo

Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, pemerintah membuka bab baru. Negara meluncurkan dua model sekolah berasrama SMA Unggulan Garuda dan Sekolah Rakyat.

Ini Belum Selesai

Soeharto Mundur dan Jakarta yang Pernah Menjadi Neraka Terbuka

Anak Muda yang Belum Selesai Menjadi Manusia

SMA Garuda menyasar siswa berprestasi dan memadukan kurikulum nasional dengan International Baccalaureate (IB). Sementara itu, Sekolah Rakyat menargetkan anak-anak miskin ekstrem dengan fokus pada pendidikan karakter, kepemimpinan, nasionalisme, serta penguatan matematika dan coding.

Pemerintah mengusung satu narasi besar pemerataan kesempatan.

Guru, Asrama, dan Persiapan yang Terbatas

Namun ambisi besar ini langsung berhadapan dengan persoalan mendasar. Ketua Advokasi P2G, Iman Zanatul Haeri, menyoroti kesiapan pemerintah, terutama dalam manajemen guru.

Pemerintah terus mengubah skema perekrutan, mulai dari ASN, PPPK yang gagal lolos passing grade, lulusan baru PPG, hingga sistem kontrak terbuka. Menurut Iman, pendidikan berasrama menuntut lebih dari sekadar ketersediaan ruang kelas.

“Pendidikan berasrama membutuhkan manajemen matang, dari guru, pengasuhan, hingga sistem pendukung. Pemerintah harus memastikan semuanya siap karena waktu persiapannya sangat singkat,” ujarnya.

Tumpang Tindih Antar-Kementerian

Persoalan lain muncul dari tata kelola. Kemendiktisaintek mengelola SMA Garuda. Kemendikdasmen dan Kementerian Agama menangani sekolah reguler. Kementerian Sosial mengelola Sekolah Rakyat.

Empat kementerian bergerak dalam satu sistem pendidikan nasional. Struktur ini membuka ruang kebingungan kebijakan dan potensi konflik kewenangan sejak awal.

Risiko Segregasi Sosial

Pemerintah juga perlu mempertimbangkan dampak sosialnya. Pemusatan anak-anak miskin ekstrem dalam sekolah homogen berasrama berpotensi menimbulkan alienasi.

Sejarah memang mencatat bahwa Sekolah Rakyat melayani kelompok ekonomi bawah. Namun pendidikan modern idealnya mempertemukan anak-anak dari berbagai latar belakang, bukan memisahkan mereka berdasarkan status ekonomi.

Paradoks Pendidikan Gratis

Pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa pendidikan gratis selalu menghadapi tantangan akses, fasilitas, dan kualitas guru. Sekolah Rakyat versi modern berisiko mengulang paradoks lama negara menjanjikan gratis, tetapi sistem belum sepenuhnya siap.

Program baru yang berdiri di atas persoalan lama justru berpotensi menambah kerumitan.

Pendidikan sebagai Cermin Negara

Pada akhirnya, Sekolah Rakyat mencerminkan arah kebijakan sosial negara. Pendidikan tidak hanya berbicara tentang kurikulum atau biaya, tetapi juga tentang siapa yang memperoleh kesempatan dan siapa yang tertinggal.

Program ini dapat menjadi jembatan keadilan sosial. Namun, tanpa pengelolaan matang, ia juga bisa melahirkan kasta baru dalam dunia pendidikan.

Lorong Asrama: Mimpi atau Kenyataan?

Sekolah Rakyat bukan sekadar proyek pendidikan. Ia menjadi pertanyaan terbuka: apakah negara benar-benar membangun pendidikan untuk semua, atau hanya untuk mereka yang lolos klasifikasi birokrasi?

Jawaban itu kelak muncul bukan dari dokumen kebijakan, melainkan dari lorong-lorong asrama dari tawa, harapan, dan masa depan anak-anak yang hari ini negara janjikan pendidikan gratis. @dimas

Tags: Sejarah pendidikanSekolah Rakyat

Kamu Melewatkan Ini

Sekolah Rakyat: Solusi Pendidikan atau Program Populis yang Sulit Bertahan?

Sekolah Rakyat: Solusi Pendidikan atau Program Populis yang Sulit Bertahan?

by teguh
Mei 15, 2026

Kalau sekolah gratis benar-benar jadi jawaban, kenapa jutaan anak Indonesia masih tertinggal pendidikan?. Tapi pemerintah kembali datang lewat program sekolah...

Sekolah Rakyat dan Mimpi Anak Miskin: Pendidikan Putus Rantai Kemiskinan?

Sekolah Rakyat dan Mimpi Anak Miskin: Pendidikan Putus Rantai Kemiskinan?

by teguh
Mei 13, 2026

Di banyak sudut Nusa Tenggara Timur (NTT), sekolah tidak selalu terasa dekat dengan mimpi. Bagi sebagian anak, ruang kelas justru...

Sekolah Rakyat di Kupang: Jalan Baru Anak Miskin Keluar dari Batas Pendidikan?

Sekolah Rakyat di Kupang: Jalan Baru Anak Miskin Keluar dari Batas Pendidikan?

by teguh
Mei 12, 2026

Bagi banyak keluarga miskin, sekolah sering terasa seperti mimpi mahal. Namun, Sekolah Rakyat di Kota Kupang mulai membuka pintu baru...

Next Post
Diponegoro, Raden Saleh, dan Jejak Diplomasi yang Tak Pernah Hilang

Raden Saleh, Diponegoro, dan Catatan Diplomasi yang Mengubah Sejarah

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Jurnalis Kalteng Diteror Usai Ajakan Nobar “Pesta Babi”, Diancam Disiram Air Keras

Jurnalis Kalteng Diteror Usai Ajakan Nobar “Pesta Babi”, Diancam Disiram Air Keras

Mei 15, 2026

Disekap dan Diperkosa: Ironi Mahasiswi Makassar Saat Mencari Pekerjaan

Mei 15, 2026

“Sepatu Kekecilan” dan Tragedi Siswa SMK Samarinda yang Mengguncang Publik

Mei 15, 2026

300 Rumah Terendam Saat Warga Tidur: Banjir Lumajang Datang dari Hulu

Mei 15, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id