Kamis, Mei 14, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Raden Saleh, Diponegoro, dan Catatan Diplomasi yang Mengubah Sejarah

by dimas
Desember 13, 2025
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Vibes – Bayangkan sebuah lukisan besar menggantung di dinding galeri Pangeran Diponegoro ditangkap Belanda, wajahnya tegang, tangan terikat, sementara pasukan kolonial berdiri di sekelilingnya. Raden Saleh menorehkan momen ini dengan detail dramatis senjata, ekspresi, dan bayangan Perang Jawa yang berkecamuk di latar belakang. Lukisan ini bukan sekadar karya seni, melainkan simbol perlawanan, kepahlawanan, dan tipu muslihat kolonial. Ia mengingatkan bahwa sejarah Indonesia pernah berdenyut penuh perlawanan, bukan sekadar tanggal dalam buku pelajaran.

Diponegoro, Perang Jawa, dan Biaya Mahal Kolonialisme

Perang Jawa (1825-1830) yang dipimpin Pangeran Diponegoro bukan konflik biasa. Perlawanan ini menguras kas Belanda dan menelan banyak korban di pihak kolonial. Perang yang berlangsung lima tahun itu memaksa pemerintah kolonial memusatkan tenaga, dana, dan perhatian ke Jawa. Pada akhirnya, Belanda hanya mampu mengakhiri perang melalui tipu muslihat: mengundang Diponegoro ke perundingan, lalu menahannya.

Ketika Jawa Bergolak, Belgia Menyelinap Merdeka

Dampak Perang Jawa ternyata melampaui Nusantara. Konsentrasi Belanda di Jawa membuat perhatian mereka di Eropa melemah. Kekosongan itulah yang ikut membuka jalan bagi Revolusi Belgia. Pada 4 Oktober 1830, Belgia memproklamasikan kemerdekaannya dari Kerajaan Belanda. Sebuah efek domino sejarah perlawanan di Jawa ikut mengguncang peta politik Eropa.

Raden Saleh dan Jejak Belgia dalam Kanvas Nusantara

Lukisan Penangkapan Diponegoro juga membuka cerita lain hubungan Indonesia-Belgia melalui seni. Raden Saleh, maestro pelukis Indonesia, menimba ilmu dari pelukis Belgia Antoine Auguste Joseph Payen. Pengaruh seni Belgia turut membentuk teknik dan gaya Raden Saleh, terutama dalam penguasaan perspektif, anatomi, dan dramatika cahaya.

Seni, Arsip, dan Pengakuan Kolonial

Jejak Belgia dalam perjalanan Raden Saleh tercatat rapi dalam arsip. Pada 1859, ia ditugaskan secara resmi untuk memperbaiki koleksi potret Gubernur Jenderal di Istana Buitenzorg. Tugas itu disertai honorarium, menandakan pengakuan negara kolonial terhadap kapasitas seninya. Seni bukan hanya ekspresi, tetapi juga ruang negosiasi kekuasaan dan legitimasi.

Ini Belum Selesai

VOC Runtuh karena Korupsi, Kenapa Indonesia Mengulang Pola yang Sama?

Dari Ujung Timur ke Dunia: Papua Tak Lagi Sekadar Pinggiran

Dari Kanvas ke Konsulat: Awal Diplomasi Belgia di Hindia

Hubungan Indonesia-Belgia tidak berhenti di galeri seni. Sejak 1855, Belgia membuka konsulat pertamanya di Batavia. Konsulat serupa kemudian hadir di Semarang, Surabaya, Padang, dan Makassar. Menjelang akhir kolonialisme, arsip bahkan mencatat keberadaan konsulat Belgia di Medan. Kehadiran ini mencerminkan kepentingan ekonomi dan eksistensi komunitas Belgia di Hindia Belanda.

Belgia di Tengah Api Revolusi Indonesia

Pasca-Proklamasi 1945, ketika Belanda berupaya kembali menguasai Indonesia, diplomasi menjadi medan pertempuran baru. Belgia hadir dalam Komisi Tiga Negara (KTN) sebagai wakil Belanda, dengan mandat memfasilitasi perundingan damai. Peran ini berujung pada terlaksananya Perjanjian Renville pada awal 1948 sebuah upaya meredam konflik bersenjata melalui jalur diplomasi.

Pengakuan Dini dan Diplomasi Pasca-Kemerdekaan

Belgia menjadi salah satu negara Eropa pertama yang mengakui kedaulatan Indonesia pada 1949. Ide Anak Agung Gde Agung ditunjuk sebagai duta besar pertama Indonesia untuk Belgia, sementara Paul Vanderstichelen mewakili Belgia di Indonesia. Pengakuan ini menandai babak baru hubungan resmi kedua negara.

Kunjungan Kenegaraan dan Diplomasi yang Berlanjut

Hubungan bilateral terus berlanjut melalui kunjungan kenegaraan. Presiden Soeharto mengunjungi Belgia pada 1972, disusul kunjungan balasan Raja Baudouin dan Ratu Fabiola ke Indonesia pada 1974. Pada 2008, Pangeran Philippe kini Raja Belgia juga menyambangi Indonesia. Setiap kunjungan membawa agenda politik, ekonomi, budaya, hingga pariwisata.

Sejarah yang Menautkan Dua Bangsa

Duta Besar Belgia untuk Indonesia, Frank Felix, menyoroti benang merah sejarah ini dari Perang Diponegoro yang berdampak pada kemerdekaan Belgia, hingga peran Belgia dalam KTN. Hubungan kedua negara memperlihatkan kompleksitas diplomasi, seni, dan ekonomi yang saling bertaut lintas zaman.

Refleksi Tabooo: Seni, Politik, dan Efek Domino Sejarah

Lukisan Raden Saleh dan arsip diplomatik Belgia bukan sekadar dokumen masa lalu. Keduanya menjadi medium refleksi tentang perlawanan, kolaborasi, dan pengakuan. Sejarah mengajarkan bahwa perjuangan lokal dapat memicu dampak global dan sebaliknya, keputusan global dapat membentuk nasib lokal.

Lukisan yang Terus Bertanya

Di galeri ANRI, lukisan Diponegoro menatap kita dalam diam, seolah bertanya apakah kita hanya melihat sejarah, atau sungguh memahaminya? Di balik goresan kuas Raden Saleh dan tinta arsip Belgia, tersimpan cerita tentang keberanian, tipu muslihat, diplomasi, dan pertemuan budaya. Sejarah, seperti lukisan itu sendiri, bukan hanya untuk dipandang melainkan untuk direnungi. @dimas

Tags: Sejarah Indonesia

Kamu Melewatkan Ini

Amir Syarifuddin: Tokoh Komunis yang Membawa Injil saat Eksekusi

Amir Syarifuddin: Tokoh Komunis yang Membawa Injil saat Eksekusi

by Tabooo
Mei 12, 2026

Amir Syarifuddin pernah menjadi Perdana Menteri Republik Indonesia, tetapi namanya lebih sering muncul dalam bayang-bayang PKI dan Peristiwa Madiun 1948....

Tragedi Mei 1998: Ketika Jalanan Lebih Jujur daripada Istana

Tragedi Mei 1998: Ketika Jalanan Lebih Jujur daripada Istana

by Waras
Mei 9, 2026

Asap membakar langit Jakarta pada Mei 1998. Mahasiswa memenuhi jalanan sambil meneriakkan satu kata yang terus memantul dari mulut ke...

Berani Bicara tentang Luka yang Ingin Dilupakan Negara

Luka 1998: Ketika Negara Takut Mengingat Korbannya

by eko
Mei 9, 2026

Luka 1998 tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya dipaksa diam di balik arsip negara, ketakutan korban, dan ingatan publik yang...

Next Post
All Indonesian Final: Alwi vs Ubed Pastikan Emas SEA Games

All Indonesian Final: Alwi vs Ubed Pastikan Emas SEA Games

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Mei 13, 2026

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Mei 13, 2026

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Mei 12, 2026

MBG Bisa Ditolak, Prabowo Persilakan Anak Orang Kaya Mundur

Mei 12, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id