Sabtu, Juli 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Pendidikan Kehilangan Arah: Saat Banyak Kementerian Mengelola Sekolah

by dimas
Juli 12, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter
Pendidikan nasional kehilangan arah ketika banyak kementerian mengelola sekolah. Fragmentasi kewenangan mengancam konsistensi kebijakan.

Tabooo.id – Seorang anak datang ke sekolah hanya dengan satu harapan belajar dan mengubah masa depannya. Ia tidak pernah memikirkan kementerian mana yang mengurus ruang kelasnya. Namun, di balik bangku-bangku sekolah itu, negara justru menjalankan pendidikan melalui banyak tangan. Setiap kementerian membawa kewenangan, kepentingan, dan orientasinya sendiri. Akibatnya, pendidikan nasional kehilangan satu arah yang utuh.

Pertanyaan besarnya sederhana. Mengapa negara menyerahkan urusan pendidikan kepada begitu banyak kementerian, padahal sudah memiliki kementerian yang memang dibentuk untuk mengelola pendidikan?

Di sinilah kegaduhan itu bermula.

Kegaduhan tersebut tidak selalu tampak dalam rapat kabinet atau perdebatan politik. Sebaliknya, ia tumbuh perlahan melalui kebijakan yang saling bertumpuk, kurikulum yang berubah, serta orientasi pendidikan yang bergerak ke berbagai arah. Lama-kelamaan, sistem kehilangan konsistensi, sementara generasi muda harus menanggung dampaknya.

Sekolah Rakyat Membuka Kotak Pandora

Program Sekolah Rakyat lahir dengan tujuan yang sulit dibantah. Pemerintah ingin membuka akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin desil 1 dan 2 yang belum pernah sekolah atau terpaksa putus sekolah. Secara moral, langkah itu patut diapresiasi.

Ini Belum Selesai

Canting Kuning: Ketika Batik Tulis Berjuang Melawan Zaman

Supersemar: Ketika Selembar Surat Mengubah Arah Republik

Saat ini, pemerintah telah mengoperasikan 166 Sekolah Rakyat di 34 provinsi dan 131 kabupaten/kota. Program tersebut melayani 15.954 siswa dengan dukungan 2.218 guru.

Namun, angka-angka itu justru memunculkan pertanyaan yang lebih mendasar.

Mengapa Kementerian Sosial menjadi pengelola utama sekolah formal?

Pertanyaan tersebut bukan bertujuan meragukan niat baik pemerintah. Sebaliknya, pertanyaan itu menguji konsistensi tata kelola pendidikan nasional.

Hari ini, Indonesia memiliki sedikitnya lima kementerian yang mengelola institusi pendidikan. Kemendikdasmen membina pendidikan dasar hingga menengah. Kemdiktisaintek mengelola perguruan tinggi. Kementerian Agama menangani pendidikan keagamaan. Kementerian Pertahanan mengelola Universitas Pertahanan. Kini, Kementerian Sosial juga menyelenggarakan Sekolah Rakyat.

Semua kebijakan itu mungkin memiliki dasar hukum. Namun, legalitas belum tentu menghadirkan keselarasan.

Pendidikan Tidak Bisa Berjalan dengan Banyak Kompas

Persoalan utamanya bukan terletak pada siapa yang membangun sekolah. Persoalan sesungguhnya berada pada arah pendidikan nasional.

Setiap kementerian memiliki target, budaya birokrasi, indikator keberhasilan, serta kepentingan organisasi yang berbeda. Karena itu, setiap lembaga secara alami akan menyusun kebijakan sesuai mandatnya sendiri.

Kementerian Sosial berorientasi pada perlindungan sosial, Kementerian Pertahanan menyiapkan sumber daya pertahanan negara, Kementerian Agama mengembangkan pendidikan berbasis nilai keagamaan. Sementara itu, kementerian pendidikan bertugas membangun proses belajar, mengembangkan kualitas guru, menyusun kurikulum, dan membentuk ekosistem pendidikan nasional.

Ketika semua kementerian menjalankan fungsi pendidikan secara bersamaan, orientasi itu pun terpecah.

Akibatnya, pendidikan tidak lagi bergerak sebagai satu sistem nasional. Sebaliknya, ia berubah menjadi kumpulan program yang berjalan sendiri-sendiri.

Lebih jauh lagi, fragmentasi tersebut membuka ruang lahirnya ego sektoral. Setiap institusi terdorong menciptakan inovasi versinya sendiri, meskipun belum tentu saling terhubung.

Padahal, bahkan ketika pendidikan masih berada di bawah satu kementerian, Indonesia belum berhasil menyelesaikan persoalan kualitas guru, ketimpangan akses, serta rendahnya capaian literasi. Karena itu, membagi kewenangan justru berpotensi memperumit masalah yang belum selesai.

Kurikulum Terus Berganti, Murid Terus Menyesuaikan

Persoalan berikutnya muncul pada kurikulum.

Sekolah Rakyat menggunakan Kurikulum Merdeka dari Kemendikdasmen sekaligus menerapkan pendekatan tailor made, multi-entry, dan multi-exit yang dirancang Kementerian Sosial.

Konsep tersebut memang terdengar inovatif. Akan tetapi, inovasi tidak otomatis menghasilkan kualitas.

Sebaliknya, publik berhak mempertanyakan dasar akademik yang melandasi penyusunan kurikulum tersebut. Pendidikan bukan ruang eksperimen jangka pendek. Setiap perubahan akan memengaruhi cara jutaan anak belajar.

Ironisnya, Indonesia sudah lama menghadapi persoalan serupa.

Setiap pergantian menteri hampir selalu melahirkan kurikulum baru. Guru kembali mengikuti pelatihan. Buku kembali disusun. Sistem penilaian kembali berubah. Pada akhirnya, sekolah terus beradaptasi tanpa sempat mencapai kestabilan.

Sebaliknya, Finlandia hanya mengevaluasi kurikulum secara berkala dalam rentang waktu panjang. Singapura juga lebih memilih menyempurnakan implementasi dibanding terus mengganti fondasi pendidikan.

Indonesia justru sering mengejar warisan politik daripada keberlanjutan kebijakan.

Akibatnya, ruang kelas berubah menjadi laboratorium eksperimen yang tidak pernah selesai.

Pendidikan Tidak Boleh Menjadi Arena Kekuasaan

Semakin banyak lembaga yang mengendalikan pendidikan, semakin besar pula kemungkinan lahirnya kebijakan yang saling bertabrakan.

Buku Noise karya Daniel Kahneman, Olivier Sibony, dan Cass R. Sunstein menjelaskan bahwa semakin banyak aktor yang mengambil keputusan dengan standar berbeda, semakin besar pula peluang munculnya inkonsistensi hasil.

Gagasan tersebut sangat relevan untuk membaca wajah pendidikan Indonesia.

Banyak pengambil keputusan memang dapat memperkaya perspektif. Namun, tanpa koordinasi yang kuat, keberagaman justru melahirkan kebisingan.

Di titik itulah pendidikan kehilangan arah.

Lebih berbahaya lagi, masyarakat perlahan menganggap situasi tersebut sebagai sesuatu yang normal. Padahal, pendidikan memerlukan stabilitas, bukan kompetisi antarlembaga.

Yang Dipertaruhkan Adalah Masa Depan Generasi

Pada akhirnya, anak-anak tidak pernah memilih kementerian mana yang mengelola sekolah mereka. Mereka hanya berharap memperoleh pendidikan yang bermutu.

Namun, ketika negara gagal menyatukan arah kebijakan, mereka harus menanggung konsekuensinya. Mereka belajar dalam sistem yang terus berubah, menghadapi kurikulum yang berganti, serta tumbuh di bawah kebijakan yang belum pernah benar-benar selesai.

Ini bukan sekadar persoalan Sekolah Rakyat. Ini adalah cermin bagaimana negara memandang pendidikan.

Selama pendidikan tersebar ke berbagai kementerian, konsistensi akan sulit diwujudkan. Sebaliknya, apabila negara mengembalikan kendali pendidikan kepada kementerian yang memang memiliki mandat utama di bidang tersebut, sinkronisasi kebijakan akan jauh lebih mudah dibangun.

Transformasi pendidikan tidak selalu dimulai dari gedung baru atau kurikulum baru. Transformasi justru dimulai ketika negara berani menentukan satu kompas, satu arah, dan satu nahkoda.

Sebab, masa depan bangsa tidak bisa dibangun oleh kebijakan yang berjalan sendiri-sendiri. Masa depan hanya lahir dari sistem pendidikan yang memiliki visi yang sama, bergerak dalam satu irama, dan berpihak penuh pada proses belajar manusia. @dimas

Tags: Kebijakan PendidikanKementerian PendidikanKurikulumPendidikan IndonesiaReformasi PendidikanSekolah RakyatTata Kelola Pendidikan

Kamu Melewatkan Ini

Kalau Polisi Harus Membangun Sekolah, Negara Sedang Sibuk Membangun Apa?

Kalau Polisi Harus Membangun Sekolah, Negara Sedang Sibuk Membangun Apa?

by teguh
Juli 17, 2026

Pagi di pelosok Sukabumi selalu datang dengan cara yang sederhana. Kabut turun perlahan, jalanan tanah mulai dipenuhi langkah anak-anak yang...

Kampus Tak Boleh Menjarah Hak Mahasiswa Miskin

Kampus Tak Boleh Menjarah Hak Mahasiswa Miskin

by dimas
Juli 16, 2026

Kampus tak boleh menjarah hak mahasiswa miskin. Dugaan penyimpangan KIP Kuliah menguji integritas pendidikan dan keadilan bagi generasi penerus bangsa....

SMP Negeri Hanya Empat Murid Baru, Kepsek Pilih Kejar Kualitas daripada Menyerah

SMP Negeri Hanya Empat Murid Baru, Kepsek Pilih Kejar Kualitas daripada Menyerah

by teguh
Juli 13, 2026

Empat siswa baru memulai langkah mereka di SMP Negeri 4 Pengasih, Kabupaten Kulon Progo, pada tahun ajaran 2026/2027. Jumlah itu...

Next Post
FOUFO, Film yang Membuat Bahasa Madura Jadi Pemeran Utama

FOUFO, Film yang Membuat Bahasa Madura Jadi Pemeran Utama

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id