Empat siswa baru memulai langkah mereka di SMP Negeri 4 Pengasih, Kabupaten Kulon Progo, pada tahun ajaran 2026/2027. Jumlah itu memang jauh dari ideal bagi sebuah sekolah negeri. Namun, sekolah di lereng Perbukitan Menoreh tersebut memilih tidak menyerah.
Tabooo.id: Mereka justru menjadikan kelas kecil sebagai ruang untuk membangun pendidikan yang lebih personal dan berkualitas. Kepala sekolah SMP Negeri 4 Pengasih sendiri akan memilih mengejar kualitas dari pada menyerah dengan kondisi yang ada.
MPLS Tetap Berjalan Meski Hanya Empat Siswa Baru
Suasana Aula SMP Negeri 4 Pengasih pada Senin (13/07/2026) tampak berbeda dari kebanyakan sekolah. Empat siswa kelas VII mengenakan seragam putih-merah dan duduk di barisan depan. Mereka mengikuti pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Sementara itu, siswa kelas VIII dan IX ikut bergabung dalam kegiatan yang sama.
Sekolah awalnya menerima lima calon peserta didik melalui Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB). Namun, satu calon siswa tidak melakukan daftar ulang. Akibatnya, sekolah hanya memiliki empat murid baru.
Kepala SMP Negeri 4 Pengasih, Rahmi Atiningrum, mengatakan dua siswa berjenis kelamin laki-laki dan dua lainnya perempuan.
“Yang diterima melalui sistem ada lima, tetapi yang daftar ulang sampai hari ini ada empat siswa. Jadi total siswa baru kami empat orang, terdiri dari dua laki-laki dan dua perempuan,” kata Rahmi, Senin (13/07/2026).
Dengan tambahan empat siswa tersebut, SMP Negeri 4 Pengasih kini memiliki 55 peserta didik. Sebanyak 29 siswa duduk di kelas IX, 22 siswa berada di kelas VIII, dan empat siswa menempati kelas VII.
Dana BOS Menyusut, Guru Justru Lebih Fokus Mengajar
Jumlah murid yang sedikit menghadirkan tantangan nyata bagi sekolah. Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) ikut menurun karena pemerintah menghitung sebagian besar anggaran berdasarkan jumlah peserta didik.
Rahmi mengakui kondisi tersebut memengaruhi pengelolaan sekolah. Selain persoalan anggaran, siswa juga memiliki lebih sedikit teman sebaya untuk berinteraksi setiap hari.
Namun, ia melihat sisi lain yang tidak dimiliki sekolah dengan kelas besar.
Guru dapat mengenali kemampuan setiap siswa lebih cepat. Mereka juga bisa menyesuaikan metode belajar sesuai karakter masing-masing anak.
“Kalau siswanya hanya empat, pembelajarannya seperti les privat sehingga bisa lebih optimal,” ujar Rahmi.
Menurutnya, kelas kecil membuat guru lebih mudah memantau perkembangan akademik maupun karakter peserta didik. Pendampingan menjadi lebih intensif. Kesulitan belajar pun dapat segera diatasi.
Sekolah Memilih Berbenah, Bukan Menyalahkan Keadaan
Rahmi mulai memimpin SMP Negeri 4 Pengasih pada Maret 2026. Sejak awal, ia menjadikan rendahnya jumlah murid sebagai bahan evaluasi.
Ia menilai masyarakat akan mencari sekolah yang benar-benar mampu memberikan kualitas pendidikan terbaik. Karena itu, sekolah harus berani berubah.
“Sekolah memiliki kualitas yang baik, sejauh apa pun biasanya akan dicari masyarakat. Ini menjadi evaluasi bersama tentang apa yang perlu kami benahi agar minat masyarakat meningkat dari tahun ke tahun,” katanya.
Sekolah kemudian mengusung semangat “bukan kuantitas, tetapi kualitas.”
Rahmi tidak ingin hanya mengejar banyaknya murid. Ia ingin menghadirkan alasan yang kuat agar masyarakat percaya pada sekolah tersebut.
Coding Menjadi Program Unggulan
Salah satu inovasi yang disiapkan sekolah ialah menghadirkan mata pelajaran coding sebagai program unggulan.
Rahmi mengatakan belum banyak SMP di Kabupaten Kulon Progo yang memiliki pembelajaran khusus mengenai coding. Program tersebut diharapkan menjadi pembeda sekaligus bekal menghadapi perkembangan teknologi.
“Kami berharap coding bisa menjadi salah satu nilai lebih sekolah ini,” katanya.
Selain memperkuat literasi digital, sekolah juga menggandeng pondok pesantren yang berada tepat di depan sekolah. Kerja sama itu bertujuan memperkuat pendidikan karakter, akhlak, dan nilai keagamaan peserta didik.
Sekolah berharap kombinasi kemampuan digital dan pendidikan karakter mampu menciptakan lulusan yang siap menghadapi perubahan zaman.
Orang Tua Ikut Menjadi Bagian dari Sekolah
Hari pertama MPLS tidak hanya melibatkan siswa. Sekolah juga mengundang seluruh orang tua murid baru.
Rahmi menyebut langkah tersebut sebagai bagian dari konsep MPLS Ramah. Sekolah ingin membangun komunikasi sejak awal dengan keluarga siswa.
“Anaknya memang cuma empat, tetapi orang tuanya juga ingin kami rangkul. Kami ingin mereka merasa senang, bahagia, dan tidak menyesal memilih SMP Negeri 4 Pengasih,” ujarnya.
Selama lima hari, siswa kelas VII mengikuti MPLS. Sementara itu, siswa kelas VIII dan IX menjalani Pekan Berbudaya Ceria. Kedua kegiatan itu mempererat hubungan antarsiswa sekaligus membangun suasana sekolah yang lebih akrab.
Orang Tua Percaya Sekolah Kecil Tetap Bisa Melahirkan Prestasi
Salah seorang wali murid, Sutilah (39), mengaku tidak pernah ragu menyekolahkan putrinya, Jatifa Putri Renjani (13), di SMP Negeri 4 Pengasih.
Ia mempertimbangkan jarak sekolah yang hanya sekitar sepuluh menit berjalan kaki dari rumah. Selain itu, ia percaya kualitas pendidikan tidak selalu bergantung pada jumlah siswa.
“Di sini anak saya bisa jalan kaki,” katanya.
Sutilah berharap masyarakat tidak lagi memandang rendah sekolah yang memiliki murid sedikit.
“Semoga tahun depan muridnya semakin banyak. Jangan takut dan jangan langsung percaya omongan orang di luar. Saya yakin anak-anak di sini juga bisa berkembang,” ujarnya.
Pengamat: Sekolah Perlu Menemukan Identitasnya
Pakar pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta, Prof. Suyanto, dalam seminar pendidikan nasional pada Mei 2025, menilai setiap sekolah harus memiliki keunggulan yang membedakannya dari sekolah lain.
“Sekolah tidak cukup hanya mengandalkan status negeri. Mereka harus menghadirkan inovasi dan kualitas pembelajaran yang membuat masyarakat percaya,” ujarnya.
Pendapat serupa disampaikan pengamat pendidikan Prof. Arief Rachman dalam diskusi pendidikan nasional pada November 2024.
“Ukuran keberhasilan sekolah bukan hanya banyaknya murid. Sekolah harus memastikan setiap anak memperoleh layanan pendidikan terbaik,” katanya.
Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti, saat membuka pelaksanaan MPLS Ramah Tahun Ajaran 2025/2026 pada Juli 2025, menegaskan bahwa sekolah harus menjadi ruang yang aman, inklusif, dan menyenangkan bagi setiap peserta didik.
“Sekolah harus menghadirkan lingkungan belajar yang membuat anak merasa diterima, dihargai, dan mampu berkembang sesuai potensinya,” ujar Abdul Mu’ti.
Budaya Membaca Juga Menentukan Masa Depan Sekolah
Pendiri Komunitas Kembali Membaca Mojokerto, Muhammad Arif Hidayat, saat kegiatan distribusi buku gratis dalam rangka Hari Anak Nasional pada Juli 2026, mengatakan kualitas sekolah tidak hanya ditentukan fasilitas.
Menurutnya, budaya membaca dan kedekatan guru dengan siswa justru menjadi fondasi utama pendidikan.
“Sekolah yang kecil bukan berarti kecil masa depannya. Yang paling penting adalah bagaimana sekolah mampu menumbuhkan rasa ingin tahu anak,” katanya.
Ia menilai sekolah yang mampu membangun budaya literasi akan tetap memiliki masa depan, meski jumlah murid tidak besar.
Di Balik Angka
Empat murid memang terlihat sebagai angka yang kecil. Namun, angka itu justru membuka pertanyaan yang lebih besar.
Mengapa semakin banyak sekolah negeri kehilangan murid? Apakah masyarakat hanya mengejar nama besar sekolah? Ataukah sistem pendidikan belum mampu membangun pemerataan kualitas hingga sekolah-sekolah kecil?
SMP Negeri 4 Pengasih memilih menjawab pertanyaan itu dengan tindakan. Sekolah tersebut memperkuat kualitas pembelajaran, menghadirkan coding sebagai program unggulan, serta melibatkan orang tua sejak hari pertama.
Empat siswa mungkin belum mampu memenuhi satu ruang kelas. Namun, empat siswa itu mengingatkan bahwa pendidikan tidak selalu berbicara tentang banyaknya bangku yang terisi. Pendidikan selalu dimulai dari seberapa besar perhatian yang diberikan kepada setiap anak.
Sebab sekolah yang baik tidak hanya menghitung jumlah murid. Sekolah yang baik menghitung berapa banyak masa depan yang berhasil mereka tumbuhkan. @teguh







