Cum laude kini tak lagi menjamin masa depan. Inflasi IPK membuat nilai akademik kehilangan makna, sementara dunia kerja menuntut kemampuan nyata.
Tabooo – Ruang wisuda itu penuh senyum. Orang tua sibuk memotret. Kamera ponsel menyala dari segala arah. Nama mahasiswa dipanggil satu per satu, lalu tepuk tangan menggema hampir tanpa jeda.
Di tengah ruangan itu, predikat cum laude terdengar berkali-kali.
Terlalu sering.
Sampai kehilangan efek kejutnya.
Dulu, predikat cum laude terasa istimewa. Mahasiswa dengan IPK di atas 3,5 dianggap sosok langka. Mereka rela begadang, menolak liburan, bahkan mengorbankan kehidupan sosial demi nilai sempurna.
Sekarang situasinya berbeda.
Satu baris kursi wisuda kadang dipenuhi lulusan cum laude. Kampus membagikan predikat itu seperti bonus tahunan. Sementara itu, dunia kerja mulai memandangnya dengan cara berbeda.
Ironisnya, semakin banyak mahasiswa menyandang predikat unggul, semakin banyak perusahaan justru meragukan arti keunggulan itu.
Karena ketika semua orang terlihat hebat, kata “hebat” perlahan kehilangan bobotnya.
Inflasi Nilai dan Kampus yang Sibuk Menjual Prestise
Fenomena ini bukan sekadar rasa pesimistis generasi muda. Data Kemendiktisaintek menunjukkan rata-rata IPK mahasiswa Indonesia terus meningkat setelah pandemi Covid-19. Pada 2021, rata-rata IPK sarjana berada di angka 3,18. Dua tahun kemudian, angkanya melonjak menjadi 3,39.
Beberapa kampus ternama mencatat angka lebih tinggi. Universitas Gadjah Mada mencapai rata-rata IPK 3,59 pada 2024. Sementara itu, Universitas Padjadjaran mencatat rata-rata 3,62 sejak 2023.
Artinya sederhana standar yang dulu terasa luar biasa kini berubah menjadi hal biasa.
Masalah muncul ketika kampus lebih sibuk mengejar citra daripada menjaga kualitas makna nilai itu sendiri.
Transkrip mulai berubah menjadi etalase prestasi. Nilai naik hampir di semua jurusan. Predikat cum laude muncul di mana-mana. Brosur kampus pun tampak semakin cantik karena dipenuhi statistik lulusan berprestasi.
“Lihat, kampus kami menghasilkan mahasiswa unggul.”
Kalimat itu terdengar membanggakan. Namun, pertanyaannya tetap sama, unggul untuk siapa?
Sebab di luar pagar kampus, dunia nyata memakai ukuran berbeda.
Dunia Kerja Tidak Lagi Terkesan oleh Angka
Perusahaan kini jarang terpukau hanya karena IPK tinggi. Mereka lebih sering mencari kemampuan komunikasi, pengalaman organisasi, literasi digital, serta kemampuan menyelesaikan masalah nyata.
Karena itu, banyak fresh graduate mengalami benturan keras dengan realitas.
Mereka membawa transkrip nyaris sempurna. Namun, sebagian masih gugup saat presentasi pertama. Sebagian lain bingung menyusun ide sederhana. Ada pula yang kesulitan bekerja dalam tim karena terlalu lama hidup dalam budaya kompetisi individual.
Di titik itu, banyak lulusan mulai sadar, IPK tinggi ternyata tidak otomatis membuat hidup lebih mudah.
Lebih menyakitkan lagi, sebagian mahasiswa menggantungkan harga dirinya pada angka akademik. Selama bertahun-tahun mereka terus mendengar kalimat yang sama:
nilai tinggi berarti masa depan aman.
Padahal hidup tidak sesederhana tabel indeks prestasi.
Kampus memang mengajarkan teori. Namun, kehidupan menuntut hal lain. Dunia kerja meminta mental tahan banting, keberanian menghadapi tekanan, dan kemampuan beradaptasi saat keadaan berubah mendadak.
Sayangnya, banyak mahasiswa justru tumbuh dalam ketakutan terhadap kegagalan.
Mereka takut nilai jelek.
Sebagian memilih menghindari risiko.
Banyak pula yang takut terlihat biasa.
Akibatnya, pendidikan berubah menjadi perlombaan validasi.
Pendidikan yang Sibuk Memproduksi Simbol
Masalah terbesar sebenarnya bukan berada pada mahasiswa cum laude. Banyak dari mereka bekerja keras dan layak mendapat apresiasi.
Masalah utama justru muncul dari sistem yang perlahan mengubah pendidikan menjadi industri simbol keberhasilan.
IPK mengalami inflasi.
Fenomena itu mirip uang yang dicetak terlalu banyak. Jumlahnya naik, tetapi nilainya perlahan turun.
Dulu, IPK 3,8 membuat seseorang tampak menonjol. Sekarang HRD mungkin menerima ratusan CV dengan angka serupa hanya dalam satu minggu.
Karena itu, perusahaan mulai mencari sesuatu yang tidak tercetak di transkrip, cara berpikir, kemampuan berbicara, serta kematangan menghadapi tekanan hidup.
Namun, media sosial justru memperparah ilusi kesempurnaan akademik.
LinkedIn dipenuhi cerita produktivitas. Instagram menampilkan foto toga dan caption perjuangan. TikTok ramai dengan tutorial “cara lulus cum laude.”
Semuanya tampak rapi.
Semuanya tampak berhasil.
Padahal setelah wisuda selesai, banyak lulusan masuk ke fase paling sunyi dalam hidupnya.
Sebagian mengirim puluhan lamaran tanpa balasan. Banyak yang merasa kosong setelah tidak lagi mengejar nilai. Ada juga yang mulai sadar bahwa dunia nyata tidak memberi penghargaan hanya karena seseorang pernah ranking kelas.
Di situlah ironi pendidikan modern terlihat jelas, kita terlalu sibuk mengejar pengakuan akademik sampai lupa belajar menghadapi kehidupan nyata.
Ketika Angka Lebih Dipuja daripada Manusia
Budaya pendidikan hari ini membuat masyarakat semakin memuja simbol.
Orang lebih bangga memamerkan IPK daripada kemampuan mendengar orang lain. Banyak mahasiswa mengejar sertifikat tanpa benar-benar memahami dirinya sendiri.
Sementara itu, kampus ikut menikmati situasi tersebut.
Semakin tinggi rata-rata IPK lulusan, semakin bagus citra institusi.
Namun, kehidupan tidak pernah bertanya:
“Berapa IPK Anda?”
Hidup justru mengajukan pertanyaan yang jauh lebih kejam:
“Kalau semuanya runtuh, apakah kamu mampu berdiri lagi?”
Dan mungkin di situlah letak masalah terbesar pendidikan hari ini.
Kita berhasil mencetak banyak lulusan berprestasi.
Namun, kita belum tentu berhasil membentuk manusia yang siap menghadapi kenyataan. @dimas





