Tabooo.id: Check – Scroll Facebook, lalu muncul postingan yang bikin alis naik sebelah. Postingan itu menyebut Menteri Agama RI Nasaruddin Umar akan memaksimalkan zakat dan wakaf untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Warganet langsung memenuhi kolom komentar dengan kritik dan pertanyaan. Beberapa orang bahkan menulis, “Zakat itu jelas 8 asnaf, kok lari ke MBG?”
Narasi itu terdengar serius dan sensitif. Banyak orang langsung terpancing. Padahal, konteksnya belum tentu seperti yang dibayangkan.
Faktanya Berkata Lain
Nasaruddin Umar justru menegaskan bahwa zakat tidak boleh keluar dari delapan asnaf yang sudah Al-Qur’an tetapkan. Ia mengingatkan publik agar tidak menyalurkan zakat kepada pihak yang tidak berhak menerima. Menurutnya, penggunaan zakat di luar asnaf melanggar ketentuan syariah.
Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kemenag, Thobib Al Asyhar, juga menepis kabar tersebut. Ia memastikan Kementerian Agama tidak mengaitkan penyaluran zakat dengan program MBG. Sampai sekarang, Kemenag tidak mengeluarkan kebijakan apa pun yang mengarah ke sana.
Artinya, unggahan yang menyebut zakat akan dipakai untuk MBG tidak sesuai dengan pernyataan resmi.
Kenapa Narasinya Bisa Melenceng?
Publik sering mencampur dua isu yang berbeda dalam satu waktu. Saat pejabat membahas optimalisasi dana umat dan pemerintah menjalankan program MBG, sebagian orang langsung menghubungkan keduanya. Mereka menyimpulkan sendiri tanpa membaca pernyataan lengkap.
Banyak orang juga hanya membaca judul atau potongan kalimat. Mereka jarang menelusuri sumber asli. Akibatnya, asumsi menyebar lebih cepat daripada klarifikasi.
Di media sosial, satu kalimat bisa berubah menjadi kesimpulan besar dalam hitungan menit. Begitu narasi viral menyebar, orang lain ikut membagikannya tanpa verifikasi.
Jadi, Harus Gimana?
Kita perlu bersikap kritis, tapi juga adil. Jika pejabat sudah menyampaikan klarifikasi tegas, kita juga perlu membaca dan memahaminya secara utuh. Jangan biarkan emosi mengalahkan logika.
Isu zakat menyangkut aturan agama yang jelas. Pemerintah pun tidak bisa mengubahnya sesuka hati. Karena itu, kita perlu memeriksa informasi sebelum ikut menyebarkannya.
Sebelum jempol bergerak, beri waktu otak untuk bekerja. Baca sumbernya. Cek konteksnya. Pastikan informasinya utuh.
Sebelum share, cek dulu—biar gak ikut dosa digital.@eko




