Tabooo.id: Regional – Perjalanan mudik yang seharusnya penuh harap berubah menjadi kepanikan. Bus Sugeng Rahayu yang mengangkut pemudik dari Surabaya menuju Solo mengalami kecelakaan di Jembatan Jurug, perbatasan Solo–Karanganyar, Kamis (19/3/2026) dini hari.
Salah satu penumpang, Anang (50), mengaku sudah merasakan kejanggalan sejak awal keberangkatan. Ia naik bus sekitar pukul 07.15 WIB dari garasi, setelah menunggu cukup lama akibat armada yang dijanjikan tak kunjung tersedia.
“Awalnya dibilang ada bus, tapi rusak. Saya sempat tanya ke petugas, ternyata memang tidak ada. Lalu ada bus jurusan Solo yang seperti dipaksakan berangkat,” ujarnya.
Perjalanan Tak Nyaman Sejak Awal
Kecurigaan Anang terus menguat selama perjalanan. Ia melihat sopir mengemudi dengan emosi dan gaya agresif. Sopir kerap menyalip kendaraan lain tanpa perhitungan matang.
Situasi di dalam bus pun terasa tegang. Beberapa kali bus nyaris menyenggol kendaraan lain. Penumpang mulai gelisah, tetapi perjalanan terus berlanjut tanpa jeda berarti.
Bagi pemudik, kondisi seperti ini bukan sekadar ketidaknyamanan—melainkan ancaman nyata di tengah perjalanan jauh.
Manuver Fatal di Jembatan Jurug
Puncak kejadian terjadi saat bus melaju kencang memasuki kawasan Jembatan Jurug. Sopir menghadapi situasi sempit dengan kendaraan di kedua sisi.
Di kanan terdapat mobil, sementara di kiri ada sepeda motor. Sopir mencoba menghindar, tetapi ruang gerak yang terbatas membuatnya mengambil keputusan cepat.
“Di kanan ada mobil, di kiri ada motor. Mau ambil kiri takut nabrak, akhirnya banting ke kanan,” kata Anang.
Keputusan itu berujung fatal. Bus kehilangan kendali dan langsung menghantam tiang jembatan dengan keras.
Penumpang Terlempar, Korban Berjatuhan
Benturan keras langsung memicu kepanikan di dalam bus. Beberapa penumpang terlempar dari kursinya. Anang yang duduk di bagian depan berusaha menyelamatkan diri di tengah kekacauan.
Ia melihat seorang penumpang lanjut usia terlempar keluar hingga jatuh di trotoar. Ia juga menyaksikan pengendara sepeda motor diduga terserempet bagian belakang bus.
Informasi sementara menyebut sedikitnya empat orang mengalami luka, termasuk sopir, penumpang, dan pengendara motor.
“Saat itu saya tidak mikir yang lain, saya hanya mikir keselamatan saya sendiri,” ujarnya.
Pemudik Jadi Pihak Paling Rentan
Insiden ini kembali menyoroti risiko perjalanan mudik, terutama bagi penumpang transportasi darat. Pemudik seperti Anang menjadi pihak paling rentan ketika keselamatan bergantung pada kondisi armada dan profesionalitas pengemudi.
Di tengah lonjakan mobilitas menjelang Lebaran, pengawasan terhadap operator transportasi menjadi krusial. Kelalaian kecil bisa berubah menjadi bencana dalam hitungan detik.
Perjalanan pulang kampung seharusnya membawa rindu, bukan trauma. Namun ketika keselamatan kalah oleh kelalaian, mudik tak lagi sekadar perjalanan melainkan taruhan yang tak semua orang siap menanggung risikonya. @dimas




