Kamis, Mei 14, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Bukan Sekadar Main HP, Pengadilan AS Sebut Media Sosial Dirancang Bikin Candu

by jeje
Mei 7, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter
Perdebatan soal media sosial kini bergeser. Orang kini tidak lagi hanya memperdebatkan durasi menatap layar, tapi juga cara platform digital merancang sistem mereka sejak awal.

Tabooo.id: Deep – Seorang perempuan muda memenangkan gugatan melawan Meta dan Google di Pengadilan Los Angeles setelah mengalami kecanduan media sosial sejak kecil. Juri menyatakan Meta, pemilik Instagram, Facebook, dan WhatsApp, serta Google sebagai pemilik YouTube, sengaja membangun sistem yang membuat pengguna sulit lepas dari aplikasi.

Penggugat yang dikenal sebagai Kaley mendapat ganti rugi sebesar US$6 juta atau sekitar Rp97 miliar. Putusan itu diprediksi memengaruhi ratusan gugatan serupa di Amerika Serikat.

Platform Adiktif Jadi Sorotan

Kasus ini memicu perdebatan baru tentang desain media sosial modern. Penggugat menilai perusahaan teknologi sengaja menciptakan fitur yang mampu mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin.

Fitur itu meliputi infinite scroll atau konten tanpa akhir, autoplay video otomatis, hingga sistem like dan komentar yang memberi dorongan psikologis instan.

Selain itu, notifikasi push terus memancing pengguna agar kembali membuka aplikasi.

Ini Belum Selesai

Love Scamming di Balik Jeruji: Ketika Penjara Jadi Markas Penipuan Digital

Main Game Saat Bahas Kesehatan: Kelalaian Biasa atau Krisis Empati Politik?

Peneliti bahkan membandingkan mekanisme ini dengan sistem perjudian. Platform terus memberi kombinasi ketidakpastian, hadiah, dan validasi sosial agar pengguna terus kembali.

Masalahnya, anak-anak menjadi kelompok paling rentan terhadap sistem tersebut.

Anak-anak Jadi Target Paling Mudah

Kaley mulai menggunakan media sosial sejak usia enam tahun. Seiring waktu, kebiasaan itu berkembang menjadi penggunaan kompulsif hingga memicu depresi.

Peneliti menyebut otak anak belum memiliki kontrol impuls yang matang. Karena itu, anak-anak lebih mudah terdorong membuka aplikasi secara terus-menerus tanpa sadar.

Meski dunia medis masih memperdebatkan istilah “kecanduan media sosial”, para peneliti kini memakai istilah problematic social media use untuk menggambarkan penggunaan berlebihan yang mengganggu kehidupan sehari-hari.

Gejalanya mirip kecanduan lain. Pengguna terus merasa terdorong membuka aplikasi, mengalami perubahan suasana hati, hingga kesulitan tidur.

Meta dan Google Melawan

Namun Meta dan Google menolak putusan tersebut dan berencana mengajukan banding.

Meta menilai kesehatan mental remaja tidak bisa dikaitkan dengan satu aplikasi saja.

“Kami akan terus membela diri dengan gigih karena setiap kasus berbeda, dan kami tetap yakin dengan rekam jejak kami dalam melindungi remaja secara daring,” kata pihak Meta.

Meski begitu, kasus ini mulai mendorong banyak negara mempertimbangkan aturan lebih ketat terhadap media sosial. Pemerintah di berbagai negara mulai membahas pembatasan usia hingga larangan fitur yang dianggap terlalu adiktif.

Karena sekarang pertanyaannya bukan lagi apakah media sosial berbahaya atau tidak.

Pertanyaannya: sampai sejauh mana platform digital boleh memonetisasi perhatian anak-anak? @jeje

Tags: Anak Muda IndonesiaGenerasi AlphaGenerasi ZMedia SosialNasionalSadar KesehatanTaboooid

Kamu Melewatkan Ini

Kenapa Kota Kita Makin Penuh Coffee Shop Tapi Miskin Ruang Dialog?

Kenapa Kota Kita Makin Penuh Coffee Shop Tapi Miskin Ruang Dialog?

by jeje
Mei 13, 2026

Di banyak kota, aroma kopi kini terasa lebih mudah ditemukan di coffee Shop daripada ruang bicara yang jujur. Sudut jalan...

Profil Dandhy Laksono: Jurnalis yang Memilih Bertanya Saat Banyak Orang Diam

Profil Dandhy Laksono: Jurnalis yang Memilih Bertanya Saat Banyak Orang Diam

by jeje
Mei 12, 2026

Dandhy Laksono kembali jadi sorotan. Bukan karena kontroversi biasa, tetapi karena film dokumenternya, Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita, memicu rasa...

22 Detik Video: Satu Indonesia Mendadak Jadi Penyidik

22 Detik Video: Satu Indonesia Mendadak Jadi Penyidik

by teguh
Mei 9, 2026

;: Cuma 22 detik. Namun video dua petugas Bea Cukai yang masuk ke Warung Madura pada malam hari langsung mengubah...

Next Post
Infinite Scroll dan Otak Anak: Kenapa Generasi Sekarang Sulit Lepas dari HP?

Infinite Scroll dan Otak Anak: Kenapa Generasi Sekarang Sulit Lepas dari HP?

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Mei 13, 2026

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Mei 13, 2026

MBG Bisa Ditolak, Prabowo Persilakan Anak Orang Kaya Mundur

Mei 12, 2026

Film Pesta Babi Kembali Dibubarkan, Kini Terjadi di Ternate

Mei 10, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id