• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Minggu, Maret 22, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home Deep

Bukan Sekadar Angka: Wajah Pendidikan Papua yang Terlupakan

Desember 18, 2025
in Deep
A A
Bukan Sekadar Angka: Wajah Pendidikan Papua yang Terlupakan

Sejumlah anak Papua duduk di bangku kelas dengan seragam sekolah sederhana, menyimak pelajaran di ruang belajar yang terbatas. (Foto istimewa)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – “Anak saya ingin jadi guru.” Kalimat itu meluncur pelan dari seorang ibu di pedalaman Papua. Ia mengucapkannya sambil menatap hutan yang memeluk kampungnya rapat-rapat. Sekolah terdekat berjarak berjam-jam jalan kaki. Cuaca sering berubah cepat. Guru kadang datang, lalu menghilang tanpa kabar. Di tempat seperti ini, mimpi tumbuh pelan. Bahkan, sering patah sebelum sempat bernama.

Belakangan, publik Indonesia diguncang oleh satu angka 700.000 anak Papua disebut tidak bersekolah. Angka itu bergerak cepat, menyebar di media, dan memantik kegelisahan nasional. Perdebatan pun muncul. Benarkah sebanyak itu? Ataukah datanya terlalu kasar untuk dijadikan dasar kebijakan? Sementara diskusi berlangsung di ruang-ruang formal, waktu anak-anak Papua terus berjalan tanpa jeda.

Ketika Angka Menjadi Pusat Perhatian

Wakil Ketua Komisi X DPR dari Fraksi PKB, Lalu Hadrian Irfani, menyebut informasi tersebut sebagai isu serius. Menurutnya, hak pendidikan merupakan hak dasar warga negara yang tidak boleh ditawar. Negara, tegas Ari, wajib memastikan akses pendidikan terpenuhi di seluruh wilayah, termasuk Papua.

RelatedPosts

Kiamat Tidak Menunggu Zona Waktu

Pantai yang Kita Banggakan, atau yang Kita Abaikan?

Namun, ia juga mengingatkan pentingnya kehati-hatian. Pemerintah, kata Ari, perlu mencermati dan memverifikasi data secara menyeluruh agar kebijakan tidak salah arah. Proses cross-check harus melibatkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, pemerintah daerah, serta Badan Pusat Statistik.

Sikap serupa datang dari pemerintah pusat. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menjelaskan bahwa angka 700.000 tersebut berasal dari laporan salah satu kepala daerah dalam rapat percepatan pembangunan Papua di Istana. Presiden Prabowo Subianto langsung merespons dengan meminta verifikasi lanjutan. Data, menurutnya, harus dipastikan kebenarannya sebelum ditindaklanjuti.

Langkah ini terdengar rasional. Negara memang perlu akurat. Namun, di titik ini muncul kegelisahan lain apakah persoalan akan dianggap selesai jika angkanya ternyata lebih kecil?

Jalan Panjang Menuju Ruang Kelas

Di Papua, pendidikan tidak sekadar soal bangku, papan tulis, dan kurikulum. Persoalan ini berlapis dan saling terkait. Jarak tempuh menjadi tantangan utama. Banyak anak harus berjalan berjam-jam, menyeberangi sungai, atau menyusuri hutan hanya untuk sampai ke sekolah dasar.

Selain itu, ketersediaan guru masih timpang. Beberapa sekolah berdiri tanpa tenaga pengajar tetap. Di tempat lain, guru datang silih berganti karena keterbatasan fasilitas dan keamanan. Akibatnya, proses belajar sering terhenti di tengah jalan.

Situasi ini bukan cerita baru. Selama bertahun-tahun, Papua menghadapi persoalan yang sama. Program datang dan pergi. Anggaran mengalir. Namun, perubahan nyata di lapangan bergerak lambat, bahkan nyaris tak terasa.

Negara Hadir, Tapi Seberapa Lama?

Komisi X DPR mendesak pemerintah menjadikan temuan ini sebagai momentum. Pemerintah diminta memperbaiki distribusi guru, memperkuat sarana prasarana, serta membangun sinergi yang lebih kuat antara pusat dan daerah. Prinsip dasarnya sederhana: jika ada anak yang tidak bersekolah, negara harus membuka jalan agar mereka kembali belajar.

Pernyataan itu terdengar menjanjikan. Namun, janji serupa sudah berulang kali terdengar sebelumnya. Di banyak wilayah Papua, kehadiran negara sering terasa sementara. Proyek selesai, laporan dikirim, lalu perhatian berpindah.

Masalah pendidikan di Papua bukan kekurangan gagasan. Yang kerap hilang justru keberlanjutan dan kesabaran.

Yang Tak Pernah Masuk ke Dalam Tabel

Di sinilah persoalan menjadi lebih dalam. Apa yang luput ketika negara terlalu sibuk memverifikasi angka?

Data memang penting. Namun, angka sering gagal menangkap kenyataan hidup. Seorang anak bisa tercatat “tidak bersekolah” karena sekolahnya tutup berbulan-bulan. Anak lain berhenti karena guru tidak pernah hadir. Sebagian terpaksa pindah akibat konflik dan kemiskinan.

Sistem mencatat status. Akan tetapi, sistem kerap abai pada sebab.

Ketika negara berkata “akan diupayakan”, publik berhak bertanya lebih jauh. Upaya seperti apa yang akan dilakukan? Apakah negara hanya membangun gedung tanpa memastikan keberlanjutan? Ataukah mengirim guru tanpa jaminan perlindungan dan fasilitas layak?

Anak-Anak, Bukan Sekadar Statistik

Jika angka 700.000 ternyata keliru, persoalan tetap tidak mengecil. Angka bisa berubah menjadi 300.000 atau bahkan jauh lebih kecil. Namun, setiap anak yang tertinggal tetap membawa luka yang sama.

Di kota besar, anak-anak mengeluh soal tugas sekolah dan koneksi internet. Sementara itu, di Papua, sebagian anak justru kehilangan ruang belajar. Kesenjangan ini terlalu nyata untuk disamarkan oleh tabel dan grafik.

Janji Pendidikan yang Masih Tertunda

Presiden telah memberi atensi. DPR telah bersuara. Pemerintah telah menjanjikan verifikasi. Namun, perhatian publik sering pendek. Hari ini isu ini mengemuka. Besok, perhatian bisa berpindah ke persoalan lain.

Tabooo melihat persoalan ini bukan sekadar soal validitas data. Isu ini menyentuh keberanian negara untuk mengakui kegagalan lama. Ia menuntut kesediaan untuk tinggal lebih lama, mendengar lebih dalam, dan bekerja lebih sabar.

Jika negara benar-benar hadir, kehadiran itu harus terasa hingga ke kampung paling jauh. Hingga ke anak yang berjalan pagi-pagi menyusuri hutan. Hingga ke ibu yang berharap anaknya kelak mampu membaca dunia, bukan hanya kampungnya sendiri.

Pertanyaan yang Masih Menggantung

Pada akhirnya, mungkin pertanyaan terpenting bukanlah apakah jumlahnya benar 700.000.
Pertanyaan sesungguhnya adalah berapa lama lagi satu pun anak Papua harus menunggu haknya?

Angka bisa diverifikasi. Data bisa diperbaiki. Namun, masa kecil tidak bisa diulang.
Anak-anak Papua masih menunggu sementara negara masih menghitung. @dimas

Tags: Akses PendidikanAnak PapuaHak AnakIsu PendidikanKeadilan PendidikanKrisis PendidikanNegara HadirPapua Hari IniPendidikan Papua
Next Post
ASN Diizinkan Kerja Fleksibel Jelang Natal 2025 dan Tahun Baru 2026

ASN Diizinkan Kerja Fleksibel Jelang Natal 2025 dan Tahun Baru 2026

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

6 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • Pasar Seni Kuta: Ketika Keramaian Pelan-Pelan Belajar Bernapas Lagi

    Pasar Seni Kuta: Ketika Keramaian Pelan-Pelan Belajar Bernapas Lagi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jalan Santai Bukan Sekadar Jalan: Cara Banjar Legian Kulod Merawat Rasa Jadi “Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 24 Nama Resmi Timnas Indonesia untuk FIFA Series 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Lenovo Y700 Gen 5: Mini Size, Sultan Power

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Legian: Ketika Malam Tidak Pernah Tidur

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.