Tabooo.id: Talk – Coba jujur sebentar. Saat punya uang lebih dan butuh pengobatan serius, ke mana pikiranmu langsung melompat? Rumah sakit dalam negeri, atau diam-diam membuka Google dan mengetik, “rumah sakit terbaik di Malaysia”?
Kalau jawabannya yang kedua, tenang kamu tidak sendirian. Setiap tahun, ribuan warga Indonesia memilih berobat ke luar negeri, terutama ke Malaysia. Fenomena ini bukan sekadar cerita warung kopi, melainkan realitas yang menggerus devisa negara hingga sekitar Rp160 triliun per tahun. Jumlah itu setara dengan membangun ratusan rumah sakit baru atau memperbaiki ribuan puskesmas. Sayangnya, uang tersebut justru mengalir ke negeri seberang.
Maka, pertanyaannya pun menggelitik sebenarnya, yang keliru di mana?
Bukan Soal Pintar Dokternya, Tapi Pengalaman Pasiennya
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono menjawabnya secara lugas. Menurut dia, masalah utama bukan terletak pada kemampuan medis, melainkan pada hospitality cara sistem melayani pasien. Dalam bahasa yang lebih membumi soal rasa.
Di banyak rumah sakit, pasien menghadapi antrean panjang, administrasi berlapis, ruang tunggu panas, serta komunikasi yang terasa kaku. Diagnosis sering terasa menggantung tanpa penjelasan yang menenangkan. Akibatnya, pasien datang membawa rasa sakit, lalu pulang dengan tambahan rasa lelah dan kesal. Padahal, di atas kertas, dokter kita kompeten dan alat medis terus berkembang. Namun, pengalaman buruk itu kerap meninggalkan jejak emosional yang sulit hilang.
Terlebih lagi, di era media sosial, satu cerita negatif bisa menyebar lebih cepat daripada brosur promosi rumah sakit.
Rumah Sakit Penuh, Empati Ikut Menipis
Masalah semakin rumit ketika rumah sakit menjadi muara hampir semua persoalan kesehatan. Fasilitas kesehatan tingkat pertama terus mengirim rujukan. Pada saat yang sama, populasi menua dan penyakit kronis meningkat. Alhasil, ruang tunggu rumah sakit dipenuhi pasien dari berbagai latar belakang.
Dalam kondisi ini, dokter harus berpacu dengan waktu. Tenaga kesehatan bekerja tanpa jeda. Administrasi menumpuk dari pagi hingga sore. Bahkan sebelum namanya dipanggil, pasien sudah kelelahan secara fisik dan mental. Tak heran jika layanan humanis kerap tergerus.
Situasi ini bukan terjadi karena tenaga medis kehilangan empati. Sebaliknya, sistemlah yang memaksa mereka terus berlari tanpa ruang bernapas.
BPJS Kesehatan: Penyelamat yang Sering Dimarahi
Di titik ini, BPJS Kesehatan berdiri di posisi serba salah. Dengan cakupan hampir 98 persen penduduk, BPJS menjadi tulang punggung pembiayaan kesehatan nasional. Namun, ketika proyeksi defisit JKN mencapai Rp58,7 triliun pada 2026, pengendalian biaya menjadi keniscayaan.
BPJS memperketat sistem rujukan, membatasi hari rawat inap, memperjelas kriteria UGD, serta menonaktifkan peserta PBI yang tidak lagi memenuhi syarat. Secara konsep, kebijakan ini terdengar rasional. Namun, di lapangan, dampaknya terasa keras.
Kasus pasien gagal ginjal yang tidak mendapat layanan hemodialisis karena status PBI nonaktif menjadi contoh paling getir. Di sana, regulasi bertemu realitas. Prosedur berjalan, tetapi rasa keadilan tertinggal.
Mengapa Malaysia Terasa Lebih “Manusiawi”?
Bagi kalangan menengah atas dan eksekutif, pengalaman berobat di dalam negeri sering meninggalkan cerita yang tak ingin diulang. Bukan karena dokternya buruk, melainkan karena rasa tidak nyaman yang terus teringat.
Sebaliknya, banyak pasien menggambarkan pengalaman di Malaysia dengan kata-kata sederhana cepat, jelas, dan empatik. Mereka mendapat kepastian biaya, waktu konsultasi yang cukup, serta komunikasi dokter yang terasa hangat. Di sana, pasien merasa diperlakukan sebagai manusia, bukan sekadar nomor antrean.
Pada titik ini, kualitas layanan kesehatan tak lagi soal kecanggihan alat atau gelar akademik, melainkan soal pengalaman utuh pasien.
Akar Masalahnya Lebih Dalam dari Sekadar Rumah Sakit
Lonjakan pasien rumah sakit bukanlah kecelakaan, melainkan masalah struktural. Banyak penyakit yang seharusnya selesai di layanan primer justru naik ke layanan spesialistik. Selama ini, masyarakat masih memandang puskesmas sebagai tempat “penyakit ringan”, bukan pusat kendali penyakit kronis.
Akibatnya, rumah sakit terus menanggung beban berlebih. Selama kondisi ini berlangsung, kualitas layanan termasuk empati akan sulit dijaga. Lingkaran ini pun terus berputar tanpa henti.
Sikap Tabooo: Kritik, Tapi Jangan Kehilangan Empati
Fenomena berobat ke luar negeri, pengetatan BPJS, dan membludaknya rumah sakit mencerminkan tantangan besar sistem kesehatan Indonesia. Tidak adil jika semua kesalahan ditimpakan kepada BPJS. Pada saat yang sama, menyalahkan tenaga kesehatan juga bukan jalan keluar.
Indonesia membutuhkan pendekatan menyeluruh memperkuat layanan primer, meningkatkan kemampuan komunikasi tenaga kesehatan, memangkas birokrasi, serta memanfaatkan teknologi untuk benar-benar mengurangi waktu tunggu bukan sekadar menambah aplikasi.
Pada akhirnya, kualitas layanan kesehatan tidak hanya berbicara soal sembuh atau tidak. Lebih dari itu, kualitas menyangkut rasa aman, keadilan, dan martabat setiap pasien.
Jadi, Kamu di Kubu Mana?
Apakah berobat ke luar negeri sepenuhnya hak individu yang tak boleh diganggu?
Ataukah fenomena ini alarm keras bahwa sistem kesehatan kita butuh pembenahan serius, bukan tambal sulam?
Kalau kamu sakit besok dan punya pilihan, kamu bertahan di sini atau mengemas koper ke seberang?
Lalu, kamu di kubu mana? @dimas





