Kerugian Membengkak, Evaluasi Belum Jelas
Tabooo.id: Bisnis – Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengungkapkan bencana banjir dan longsor di berbagai wilayah Sumatra menimbulkan kerugian besar di hampir semua sektor usaha. Dampaknya merembet dari UMKM, perdagangan lokal, agribisnis, hingga industri pengolahan.
“Terus terang kami belum bisa mengevaluasi sejauh mana dampaknya ke 2026. Saat ini fokus kami masih penanggulangan,” kata Ketua Umum Apindo, Shinta W Kamdani, di Jakarta Selatan.
UMKM Jadi Korban Terbesar
Menurut pemetaan awal, pelaku UMKM menjadi kelompok usaha yang paling terpukul. Banyak dari mereka kehilangan stok, aset, hingga pasar karena kerusakan fisik dan lumpuhnya aktivitas ekonomi.
“Yang paling berdampak adalah UMKM dan perdagangan lokal,” ujar Shinta.
Kondisi ini semakin memperlebar jurang antara usaha besar yang masih punya cadangan modal, dengan usaha kecil yang sekali terkena bencana langsung terlempar dari pasar.
Industri Tercekik Pasokan, Logistik Kacau
Bencana juga mengguncang rantai pasok industri manufaktur dan pengolahan yang bergantung pada bahan baku dari Sumatra. Gangguan listrik, air, dan transportasi membuat biaya operasional melonjak.
Di sektor logistik, jalan dan jembatan putus menyebabkan pengiriman melambat dan ongkos meningkat. Kondisi ini menekan output regional, dan pada akhirnya mempersempit ruang tumbuh perekonomian Sumatra.
Sementara itu, sektor agribisnis ikut porak-poranda. Lahan rusak mencapai 38.878 hektare, dengan 5.570 hektare gagal panen, memicu kerugian petani hingga Rp1,132 triliun.
Dampak Nasional Masih Dipantau
Meski kerugian di tingkat lokal menggunung, Apindo menilai dampaknya pada ekonomi nasional masih perlu dihitung lebih detail. Konsumsi dari daerah terdampak mungkin tidak menggerakkan ekonomi nasional secara signifikan.
Pemerintah sendiri menyiapkan anggaran penanganan bencana yang diperkirakan mencapai puluhan triliun rupiah, sementara dunia usaha masih memetakan sektor strategis yang terputus alurnya.
Faktor Lingkungan Ikut Menyulut Krisis
Wakil Ketua Umum Apindo, Sanny Iskandar, menyoroti bahwa bencana ini bukan hanya soal curah hujan ekstrem. Ia menilai kerusakan lingkungan yang dibiarkan bertahun-tahun memperparah dampak bencana.
“Ini terjadi bukan hanya karena hujan tinggi, tetapi juga karena kurangnya kepedulian terhadap isu ramah lingkungan,” ujarnya.
Korban Jiwa Terus Bertambah
Data BNPB pada Senin (08/12/2025) mencatat 961 korban meninggal, 235 hilang, dan sekitar 5.000 luka-luka. Kabupaten Agam menjadi wilayah dengan korban terbanyak, disusul Aceh Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan.
Tragedi ini mengingatkan bahwa biaya terbesar bukan hanya hitungan rupiah, tetapi nyawa.
Akhirnya…
Sumatra kembali membayar mahal kelalaian manusia dan rapuhnya infrastruktur lingkungan. Dan seperti biasa, UMKM dan petani bukan para pengambil kebijakan yang pertama jatuh dan paling lambat bangkit.@teguh







