Tabooo.id: Musik – Jujur saja, kapan terakhir kali kamu benar-benar mendengarkan lagu nasional bukan karena upacara, bukan karena kewajiban, tetapi karena keinginan? Di era playlist galau, sound TikTok 15 detik, dan musik serba cepat, lagu kebangsaan kerap terasa seperti artefak masa lalu.
Namun, BIP datang membawa kejutan.
Band yang digawangi Pay, Bongky, Indra, dan Ipang ini memilih jalur yang tidak populer. Mereka merilis ulang lagu legendaris “Satu Nusa Satu Bangsa” karya L. Manik. Alih-alih membuat remix EDM atau versi parodi, BIP menghadirkan aransemen yang tetap hormat, sekaligus terasa relevan untuk telinga hari ini.
Lebih dari itu, momentum perilisan ini tidak main-main. BIP melepas lagu tersebut sebagai bagian dari perayaan 80 tahun Indonesia sepuluh windu usia bangsa yang seharusnya cukup dewasa untuk berdamai dengan perbedaan.
Ketika BIP Memilih Tidak Diam
Di tengah industri musik yang sering bermain aman, BIP justru memilih bersuara. Mereka menyadari bahwa musik bukan hanya soal hiburan, tetapi juga sikap.
Melalui pernyataan resminya, BIP menegaskan lagu ini sebagai kontribusi kecil untuk menyejukkan suasana. Mereka ingin mengingatkan kembali pentingnya kebersamaan, rasionalitas, dan semangat berpikir positif sebagai satu bangsa.
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, konteksnya berat.
Saat linimasa dipenuhi polarisasi, debat tanpa ujung, dan saling serang opini, BIP memilih jalur berbeda. Mereka tidak berteriak atau menyudutkan siapa pun. Sebaliknya, mereka mengajak perlahan, lewat nada dan lirik yang sudah hidup puluhan tahun.
Lagu Lama, Rasa Baru
Versi BIP dari “Satu Nusa Satu Bangsa” terdengar lebih segar tanpa kehilangan ruh. Aransemen modern hadir secukupnya, memberi napas baru sekaligus menjaga rasa hormat pada karya asli.
Ini bukan nostalgia murahan. Ini reinterpretasi.
BIP tampak paham bahwa lagu ciptaan L. Manik pada 1947 ini tidak pernah benar-benar usang. Lagu itu lahir saat Indonesia masih mencari bentuk. Ironisnya, hampir delapan dekade kemudian, kita masih bergulat dengan pertanyaan yang sama bagaimana hidup bersama dalam perbedaan.
Dirilis di Ujung Tahun, Sarat Makna
Tanggal rilis 30 Desember juga bukan pilihan acak. BIP sengaja menutup tahun dengan lagu ini. Mereka mengajak publik meninggalkan beban lama konflik, luka sosial, dan rasa saling curiga lalu melangkah ke tahun baru dengan semangat yang lebih utuh.
Pesannya sederhana, tapi kuat: kita boleh berbeda pandangan, tetapi tetap satu bangsa.
Perilisan ini sekaligus menjadi bagian dari album “10 Windu Indonesia”, proyek kebangsaan yang digarap serius. Ahmad Doli Kurnia Tandjung bertindak sebagai eksekutif produser, sementara Pay Burman memimpin sebagai head produser melalui Indonesia Care Music.
Saat Musik Menjadi Cermin Sosial
Pada titik ini, rilisan BIP bukan lagi sekadar lagu. Ini tentang keberanian mengambil posisi di tengah budaya pop yang sering memilih netral dan aman.
Memang, musik tidak bisa langsung menyelesaikan konflik. Namun, musik bisa mengingatkan. Bahwa sebelum menjadi kubu, kita adalah warga negara. Sebelum menjadi avatar di linimasa, kita adalah manusia.
Dan mungkin, di tengah kebisingan digital hari ini, lagu lama dengan pesan sederhana justru terasa paling relevan.
Jadi, masih relevan nggak lagu nasional?
Pertanyaannya kembali ke kita. Apakah lagu nasional hanya pantas diputar saat upacara? Atau justru perlu hadir kembali di ruang pop agar maknanya tidak pudar?
BIP sudah menjawab dengan caranya.
Sekarang giliran kita: mau sekadar mendengar, atau benar-benar mengingat? @dimas





