Rabu, Oktober 21, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

BIP, Lagu Nasional, dan Kerinduan Akan Indonesia yang Utuh

by dimas
Mei 8, 2026
in Culture, Musik
A A
Home Culture
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Musik – Jujur saja, kapan terakhir kali kamu benar-benar mendengarkan lagu nasional bukan karena upacara, bukan karena kewajiban, tetapi karena keinginan? Di era playlist galau, sound TikTok 15 detik, dan musik serba cepat, lagu kebangsaan kerap terasa seperti artefak masa lalu.

Namun, BIP datang membawa kejutan.

Band yang digawangi Pay, Bongky, Indra, dan Ipang ini memilih jalur yang tidak populer. Mereka merilis ulang lagu legendaris “Satu Nusa Satu Bangsa” karya L. Manik. Alih-alih membuat remix EDM atau versi parodi, BIP menghadirkan aransemen yang tetap hormat, sekaligus terasa relevan untuk telinga hari ini.

Lebih dari itu, momentum perilisan ini tidak main-main. BIP melepas lagu tersebut sebagai bagian dari perayaan 80 tahun Indonesia sepuluh windu usia bangsa yang seharusnya cukup dewasa untuk berdamai dengan perbedaan.

Ketika BIP Memilih Tidak Diam

Di tengah industri musik yang sering bermain aman, BIP justru memilih bersuara. Mereka menyadari bahwa musik bukan hanya soal hiburan, tetapi juga sikap.

Ini Belum Selesai

Sembilan Dewa Gitar di Panggung Guns N’ Roses: Rock Indonesia Bukan Sekadar Nostalgia

Tesla Pamerkan Mobil Terbang, Benarkah Siap Meluncur pada 2028?

Melalui pernyataan resminya, BIP menegaskan lagu ini sebagai kontribusi kecil untuk menyejukkan suasana. Mereka ingin mengingatkan kembali pentingnya kebersamaan, rasionalitas, dan semangat berpikir positif sebagai satu bangsa.

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, konteksnya berat.

Saat linimasa dipenuhi polarisasi, debat tanpa ujung, dan saling serang opini, BIP memilih jalur berbeda. Mereka tidak berteriak atau menyudutkan siapa pun. Sebaliknya, mereka mengajak perlahan, lewat nada dan lirik yang sudah hidup puluhan tahun.

Lagu Lama, Rasa Baru

Versi BIP dari “Satu Nusa Satu Bangsa” terdengar lebih segar tanpa kehilangan ruh. Aransemen modern hadir secukupnya, memberi napas baru sekaligus menjaga rasa hormat pada karya asli.

Ini bukan nostalgia murahan. Ini reinterpretasi.

BIP tampak paham bahwa lagu ciptaan L. Manik pada 1947 ini tidak pernah benar-benar usang. Lagu itu lahir saat Indonesia masih mencari bentuk. Ironisnya, hampir delapan dekade kemudian, kita masih bergulat dengan pertanyaan yang sama bagaimana hidup bersama dalam perbedaan.

Dirilis di Ujung Tahun, Sarat Makna

Tanggal rilis 30 Desember juga bukan pilihan acak. BIP sengaja menutup tahun dengan lagu ini. Mereka mengajak publik meninggalkan beban lama konflik, luka sosial, dan rasa saling curiga lalu melangkah ke tahun baru dengan semangat yang lebih utuh.

Pesannya sederhana, tapi kuat: kita boleh berbeda pandangan, tetapi tetap satu bangsa.

Perilisan ini sekaligus menjadi bagian dari album “10 Windu Indonesia”, proyek kebangsaan yang digarap serius. Ahmad Doli Kurnia Tandjung bertindak sebagai eksekutif produser, sementara Pay Burman memimpin sebagai head produser melalui Indonesia Care Music.

Saat Musik Menjadi Cermin Sosial

Pada titik ini, rilisan BIP bukan lagi sekadar lagu. Ini tentang keberanian mengambil posisi di tengah budaya pop yang sering memilih netral dan aman.

Memang, musik tidak bisa langsung menyelesaikan konflik. Namun, musik bisa mengingatkan. Bahwa sebelum menjadi kubu, kita adalah warga negara. Sebelum menjadi avatar di linimasa, kita adalah manusia.

Dan mungkin, di tengah kebisingan digital hari ini, lagu lama dengan pesan sederhana justru terasa paling relevan.

Jadi, masih relevan nggak lagu nasional?

Pertanyaannya kembali ke kita. Apakah lagu nasional hanya pantas diputar saat upacara? Atau justru perlu hadir kembali di ruang pop agar maknanya tidak pudar?

BIP sudah menjawab dengan caranya.

Sekarang giliran kita: mau sekadar mendengar, atau benar-benar mengingat? @dimas

Tags: CultureIdentitasKebangsaanMusikNasionalPop

Kamu Melewatkan Ini

Kemenbud Rilis Lima Jilid Sejarah Indonesia, Siapa yang Menentukan Ingatan Bangsa?

Kemenbud Rilis Lima Jilid Sejarah Indonesia, Siapa yang Menentukan Ingatan Bangsa?

by Tabooo
September 1, 2026

Kementerian Kebudayaan merilis lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Lebih dari 5.000 halaman membawa pembaca dari...

Kericuhan Pejompongan Makan Korban, Seorang Pedagang Cermin Tewas

Kericuhan Pejompongan Makan Korban, Seorang Pedagang Cermin Tewas

by Tabooo
Agustus 28, 2026

Kericuhan di Pejompongan, Jakarta Pusat, menelan korban jiwa. Bambang Setiawan (59), pedagang cermin asal Bendungan Hilir, meninggal setelah dianiaya saat...

Slipi-Palmerah Panas, Pos Polisi Rusak dan Massa Masih Bertahan

Slipi-Palmerah Panas, Pos Polisi Rusak dan Massa Masih Bertahan

by Tabooo
Agustus 28, 2026

Ketegangan belum reda di Slipi-Palmerah hingga Kamis malam. Polisi masih menembakkan gas air mata, sementara massa bertahan dan pos polisi...

Next Post
Buruh Jakarta dan Ilusi Angka Kesejahteraan

Buruh Jakarta dan Ilusi Angka Kesejahteraan

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id