Tabooo.id: Talk – Ada hubungan yang terlihat rapi dari luar, tetapi hancur di dalam.
Namun kisah ini bukan perselingkuhan. Bukan pula cinta terlarang.
Sebaliknya, cerita ini jauh lebih sunyi. Namanya bersatu, tapi tak pernah benar-benar bersama.
Cerita ini datang dari seorang teman. Ia bukan tokoh drama, apalagi penyair patah hati. Ia hanya laki-laki biasa yang masuk ke hidup seseorang beberapa langkah terlambat—dan menyadarinya sejak awal.
Datang dengan Perasaan, Pulang dengan Kesadaran
Sejak awal, ia jatuh cinta pada seorang perempuan dengan talus.
Namun ia tidak melihatnya sebagai cacat. Ia juga tidak menganggapnya sebagai kekurangan. Ia justru melihat keteguhan, kecerdasan, dan kehangatan yang jarang ia temui.
Di sisi lain, waktu sudah lebih dulu berbicara.
Perempuan itu telah bertunangan jauh sebelum mereka saling mengenal.
Karena itu, mereka memilih menjaga jarak.
Mereka menahan diri.
Mereka sadar batas.
Alih-alih bermain rahasia, mereka memilih kejujuran.
Alih-alih memelihara harapan palsu, mereka merawat kesadaran.
Dengan begitu, rasa tetap hidup, tetapi kendali tetap di tangan.
Saat Waktu Menjadi Lawan yang Tak Bisa Dilawan
Pada titik ini, ironi cinta bekerja tanpa ampun.
Masalahnya bukan tentang siapa yang lebih baik.
Masalahnya juga bukan tentang siapa yang paling berjuang.
Sebaliknya, masalahnya sederhana: siapa yang datang lebih dulu.
Teman saya tidak kalah oleh pria lain.
Ia tidak tumbang oleh cinta yang lebih besar.
Ia jatuh oleh kalender dan urutan hidup yang tidak menunggunya siap.
Sementara itu, perempuan itu melangkah ke pernikahan.
Ia tidak memilih karena rasa yang lebih dalam, tetapi karena komitmen yang sudah lebih dulu ia tanam dan ia jaga.
Cinta yang Memilih Mundur, Bukan Menghilang
Di tengah budaya yang memuja perjuangan tanpa batas, kisah seperti ini sering dianggap lemah.
Padahal, justru di sinilah kedewasaan bekerja paling jujur.
Tidak semua cinta perlu dimenangkan.
Tidak semua rasa harus dimiliki.
Kadang, mencintai berarti tahu kapan berhenti.
Kadang pula, mundur menuntut keberanian yang jauh lebih besar daripada bertahan.
Mereka bersatu dalam rasa.
Namun mereka memilih tidak bersama dalam status.
Pilihan itu bukan kekalahan, melainkan bentuk penghormatan terhadap waktu, komitmen, dan diri sendiri.
Pertanyaan yang Tersisa
Memang, tidak semua pertemuan ditakdirkan untuk tinggal.
Namun pertemuan seperti ini tetap meninggalkan bekas. Ia mengingatkan bahwa manusia masih bisa mencintai dengan utuh tanpa merusak siapa pun.
Pada akhirnya, kisah ini bukan tentang mereka.
Sebaliknya, kisah ini tentang kita yang membaca.
Jika kamu berada di posisi itu
apakah kamu akan memelihara rasa, atau berani menghormati waktu yang tidak berpihak? @jeje







