Tabooo.id: Lifestyle – Pernah nggak sih kamu lihat orang diet terus bilang, “Aduh jangan makan buah, nanti gemuk!” seolah-olah buah itu musuh negara? Kita bisa makan croffle topping es krim dengan tenang, tapi tiba-tiba merasa bersalah kalau makan mangga. Ironis banget. Hidup memang sering selucu itu: yang sehat justru ditakuti, sementara yang jelas-jelas bikin kolesterol melonjak malah diperlakukan seperti comfort food.
Namun, ketakutan itu cuma mitos yang entah kenapa masih hidup seperti notifikasi spam yang nggak mau berhenti. Dan semakin banyak orang sadar bahwa rasa takut pada buah hanya bikin diet makin ribet.
Trend Diet Modern dan Ketakutan yang Salah Target
Akhir-akhir ini, banyak orang mulai menekan konsumsi gula. Tujuannya bagus. Sayangnya, banyak yang langsung menaruh semua makanan manis dalam satu keranjang “berbahaya” termasuk buah. Bahkan, beberapa orang sengaja menghapus buah dari menu harian karena merasa buah menjadi penyebab berat badan yang stagnan.
Padahal, pernyataan itu jauh dari fakta. Seorang ahli gastroenterologi, Will Bulsiewicz, muncul dengan kalimat yang cukup tegas: “Buah bikin gemuk itu absurd.”
Ia meminta orang untuk menghentikan kebiasaan lari dari buah dan mulai berlari ke arah buah. Dan pernyataan itu punya dasar kuat.
Salah satu buktinya datang dari penelitian tahun 2020 di National Library of Medicine. Studi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan konsumsi buah dan sayur justru membantu penurunan berat badan pada perempuan. Artinya, semakin rutin mengonsumsi buah, semakin stabil proses penurunan berat badan.
Selain itu, pola makan tinggi serat terbukti membantu tubuh merasa kenyang lebih lama. Nafsu makan lebih terkendali, dan pencernaan berjalan lebih mulus. Dan buah menyediakan semua itu serat tinggi, kalori rendah, serta vitamin dan mineral dalam satu paket lengkap.
Kenapa Buah Jadi Kambing Hitam Padahal Nggak Salah?
Mari kita bahas pelan-pelan.
Pertama, kita hidup di zaman ketika satu video TikTok bisa menyebar lebih cepat daripada penjelasan ilmiah. Banyak orang melihat satu konten viral tentang “buah penuh gula” dan langsung percaya tanpa meninjau konteksnya.
Kedua, diet tren selalu membutuhkan “musuh.” Dulu karbo, lalu lemak, sekarang giliran buah. Narasinya dibuat dramatis agar terlihat meyakinkan, padahal tubuh bekerja jauh lebih kompleks daripada klaim satu menit di media sosial.
Selain itu, banyak dari kita lebih takut pada hal-hal yang tampak “manis” dibanding hal yang jelas-jelas berbahaya. Kita meragukan pisang, tapi tenang saja saat minum kopi susu penuh gula aren. Kita menjauhi semangka, tapi santai saat makan pastry setiap pagi. Buah dianggap masalah, makanan olahan malah dimaafkan.
Padahal, gula alami dalam buah datang bersama serat yang memperlambat penyerapan. Tubuh memprosesnya dengan stabil, bukan seperti gula tambahan yang langsung naik ke otak dan menciptakan drama kadar glukosa.
Buah, Serat, dan Drama Kenyang Lebih Lama
Will Bulsiewicz menjelaskan bahwa buah bekerja efektif untuk membantu penurunan berat badan karena menyediakan dua hal penting rasa kenyang dan nutrisi. Seratnya membuat pencernaan berjalan nyaman, kalori rendahnya membantu mencapai defisit tanpa merasa tersiksa, dan antioksidannya menjaga tubuh tetap sehat.
Buah juga membantu mikrobioma usus berkembang lebih kuat. Ketika mikrobioma bahagia, metabolisme ikut stabil. Dampaknya terasa ke mood juga. Tanpa sadar, buah membantu mengurangi keinginan untuk stress-eating dan meningkatkan mindful eating.
Selain itu, banyak buah punya sifat antioksidan yang mampu menurunkan risiko penyakit jantung dan kanker. Jadi, sungguh tidak adil ketika buah dituduh sebagai penyebab naiknya angka timbangan.
Jadi… Buah itu Teman atau Musuh?
Jawabannya jelas: teman. Buah memberikan dukungan bagi tubuh, membantu metabolisme bekerja lebih baik, dan mempermudah perjalanan diet. Yang perlu kamu waspadai justru persepsi yang salah arah.
Kalau kamu ingin diet lebih manusiawi, masukkan buah ke menu harian. Kamu bisa menikmati smoothie yogurt, salad buah segar, atau menjadikan apel sebagai camilan sore. Proses diet tetap terasa menyenangkan tanpa harus mengorbankan nutrisi.
Apa Dampaknya Buat Kamu?
Sekarang, coba tanya diri sendiri. Apa yang sebenarnya kamu takuti dari buah, Buahnya? Atau wacana diet yang terlalu hype di internet?
Kalau kamu ingin menurunkan berat badan tanpa stres, berdamailah dengan buah. Kamu bisa menikmatinya tanpa rasa bersalah. Kamu bisa menjadikannya teman perjalanan. Dan kamu bisa membangun hubungan yang lebih sehat dengan makanan.
Diet bukan soal menyiksa diri. Diet itu soal memahami kebutuhan tubuh.
Kalau buah bisa membantu, kenapa harus menjauhinya?
Hidup sudah cukup rumit. Masa makan buah saja harus dijadikan drama?. @teguh





