Tabooo.id: Teknologi – Kalau kerja kantoran identik dengan kopi pagi dan macet yang nggak ada jeda, Budi justru memulai harinya dengan hal yang lebih sunyi dan lebih hijau. Tanpa kartu absensi, tanpa atasan yang ngejar deadline. Tapi jangan salah, tekanannya tetap ada. Bedanya, kali ini datang dari cuaca, tanah, dan pasar.
Di tengah tren “kabur dari kota” yang makin ramai di kalangan Gen Z, pilihan hidup seperti yang diambil Ilham Budi Susilo (29) terasa makin relevan. Ia bukan sekadar bertani ia membangun gaya hidup baru agrikultur modern yang dikawinkan dengan teknologi.
Greenhouse: Kantor Baru Tanpa AC, Tapi Lebih ‘Hidup’
Di lahan seluas 1.200 meter persegi di Kecamatan Ngronggo, Kota Kediri, Budi membangun sesuatu yang berbeda. Bukan sawah biasa, tapi greenhouse ruang tanam tertutup yang lebih mirip laboratorium hidup ketimbang ladang tradisional.
Di dalamnya, melon premium tumbuh dengan standar tinggi dari varietas sweet net hingga fujisawa asal Jepang.
“Kalau saya nanamnya memang yang jenis melon premium saja,” ujar Budi saat ditemui di lahannya, Minggu (12/04/2026).
Pilihan itu bukan tanpa alasan. Budi sadar, bertani di era sekarang bukan lagi soal kuantitas, tapi kualitas dan positioning pasar.
Bertani, Tapi Pakai Sistem: Dari Irigasi ke Strategi Digital
Yang bikin cerita ini menarik bukan cuma soal melon. Tapi cara berpikir di baliknya.
Budi mengelola lahannya dengan sistem irigasi modern selang-selang terintegrasi yang bukan cuma mengalirkan air, tapi juga nutrisi. Praktis, efisien, dan minim tenaga manual.
Lebih jauh, ia juga menerapkan prinsip pertanian sehat bebas pestisida kimia. “Untuk pengujian saya lakukan di laboratorium Bogor,” jelasnya.
Hasilnya? Produk lebih kompetitif, bahkan bisa menembus pasar kota besar seperti Jakarta dan Bandung.
Tapi Budi nggak berhenti di situ. Ia masuk ke ranah digital menjual lewat media sosial, membangun branding, bahkan membuka wisata petik melon saat panen tiba.
“Jadi, memang kita harus kreatif untuk bisa bertahan sebagai petani,” katanya.
Back to Nature, Tapi Nggak Ketinggalan Zaman
Fenomena seperti Budi bukan kebetulan. Ini bagian dari tren yang lebih besar “back to nature”, tapi versi Gen Z.
Mereka ingin hidup lebih dekat dengan alam, tapi tetap terkoneksi dengan teknologi. Mereka capek dengan rutinitas kota, tapi bukan berarti mau hidup primitif.
Budi adalah contoh nyata bertani, tapi pakai data menanam, tapi juga jualan online. hidup sederhana, tapi berpikir strategis.
Jatuh Bangun yang Nggak Instagramable
Di balik narasi “hidup santai di desa”, ada realita yang sering disembunyikan gagal panen, biaya tinggi, dan eksperimen tanpa jaminan berhasil.
Budi sudah melewati semua itu sejak mulai mandiri pada 2018. Dari menanam sayur yang kurang memuaskan, hingga akhirnya menemukan ritme di komoditas melon.
Greenhouse-nya bukan cuma tempat produksi, tapi juga ruang belajar.
“Saya masih melakukan penelitian sendiri soal pupuk yang lebih efisien,” ungkapnya.
Ia bahkan mengaku masih merahasiakan hasil risetnya. Bukan pelit ilmu, tapi karena prosesnya belum selesai.
Petani Butuh Literasi, Bukan Sekadar Lahan
Satu hal yang sering dilupakan bertani modern bukan cuma soal fisik, tapi juga pengetahuan.
Budi membekali dirinya dengan pendidikan formal di jurusan Agroteknologi Universitas Jember. Ia juga aktif ikut pelatihan untuk terus update ilmu.
“Semuanya dibutuhkan agar tercipta produk yang berdaya saing,” pungkasnya.
Di titik ini, bertani bukan lagi pekerjaan “pilihan terakhir”, tapi justru jadi profesi yang butuh strategi, riset, dan inovasi.
Closing: Kantor atau Kebun Kamu Pilih yang Mana?
Cerita Budi mungkin terdengar seperti alternatif. Tapi sebenarnya, ini sinyal perubahan. Bahwa sukses nggak harus pakai jas.
Bahwa produktif nggak harus di balik layar laptop. Dan bahwa masa depan bisa tumbuh secara harfiah dari tanah.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi “kerja di mana?”, tapi kamu mau hidup seperti apa?. @teguh






