Tabooo.id: Game – Pernah nggak sih kamu ngerasa, jadi gamer sekarang itu mirip lagi cicil rumah? Belum juga pegang stik, dompet sudah gemetar duluan. Kali ini yang bikin timeline panas bukan trailer, bukan bocoran map, bukan teori konspirasi karakter melainkan harga. Ya, harga. Kabarnya, GTA 6 bisa tembus Rp 2 juta. Dua juta, bestie. Itu bukan game, itu THR.
GTA 6 dan Angka yang Bikin Jantung Drop
Grand Theft Auto VI memang belum punya tanggal rilis resmi. Tapi sebuah retailer digital bernama Loaded.com sudah keburu memajang halaman penjualan lengkap dengan banderolnya.
Pantauan media teknologi pada 23 Februari 2026 menunjukkan versi Xbox Series X/S dipatok Rp 2.119.659. Sementara versi PC lewat Rockstar Games Launcher tercantum Rp 1.436.589.
Langsung ramai.
Ada yang bilang, “Worth it!”
Ada yang terdiam sambil cek saldo.
Ada juga yang mulai mengingat-ingat dosa bajakan masa lalu.
Tapi tahan dulu. Dalam industri game, harga “placeholder” alias harga sementara itu hal biasa. Retailer sering pasang angka estimasi untuk buka sistem pre-order, tes minat pasar, dan siap-siap kalau server meledak saat pengumuman resmi.
Biasanya? Harganya justru dipasang lebih tinggi biar aman. Artinya: Rp 2 juta itu belum tentu harga final. Bisa jadi cuma angka pemanasan.
Mahal? Atau Kita yang Ketinggalan Zaman?
Kalau flashback ke 2013, waktu Grand Theft Auto V pertama rilis, harga standar konsolnya sekitar 59,99 dollar AS. Sekarang? Game AAA generasi baru sudah naik ke 69,99 sampai 79,99 dollar AS.
Inflasi. Biaya produksi naik. Skala game makin gila. Dunia open-world makin realistis. NPC makin “hidup”. Detail makin absurd.
GTA 6 digadang-gadang bakal jadi proyek paling ambisius dalam sejarah Rockstar. Artinya, biaya produksi juga kemungkinan bikin Excel menangis.
Namun tetap saja, angka Rp 2 juta di Indonesia terasa pedas. Karena realitanya, harga game global memang naik, tapi daya beli lokal nggak selalu ikut naik secepat itu.
Industri Hiburan: Semakin Mewah, Semakin Eksklusif?
Di satu sisi, gamer ingin kualitas sinematik, grafis ultra-real, map luas tak berujung, dan cerita yang bikin lupa makan. Di sisi lain, kita juga ingin harga ramah kantong.
Sayangnya, dunia nggak bekerja pakai wishlist. Fenomena ini memperlihatkan satu hal: hiburan makin menjadi barang premium. Bukan cuma konser atau gadget, tapi juga game.
Pertanyaannya bukan lagi “Bagus nggak gamenya?” Melainkan, “Siapa yang mampu membelinya?” Dan di situlah ironi kecil muncul.
Game seperti GTA selalu bercerita tentang kesenjangan sosial, kapitalisme liar, dan dunia yang dikuasai uang. Lucunya, untuk memainkan satir tentang kapitalisme itu, kita mungkin harus merogoh kocek cukup dalam. Meta banget.
Jadi, Panik atau Santai?
Untuk sekarang, santai dulu. Harga itu belum tentu final. Bisa jadi cuma placeholder. Bisa juga ternyata edisi collector dengan bonus peta kain dan steelbook kinclong.
Namun satu hal pasti: industri game sedang memasuki era mahal.
Dan sebagai gamer, kita dihadapkan pada pilihan klasik ikut hype atau menunggu diskon Steam Sale.
Karena pada akhirnya, game tetaplah hiburan. Kalau sampai bikin stres sebelum main, mungkin yang perlu kita upgrade bukan GPU tapi ekspektasi.
Menurut kamu, kalau GTA 6 benar-benar Rp 2 juta, masih auto beli atau auto nunggu diskon? @eko




