Senin, Agustus 24, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Belanja Pindah ke Layar, Nafkah Orang Pasar Ikut Memudar

by eko
Agustus 4, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on Facebook
Share on Twitter
Marketplace membuat belanja semakin mudah. Namun, di balik setiap transaksi digital, ada pekerja pasar yang perlahan kehilangan penghasilan. Kisah para kuli panggul di Pasar Klewer menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu membawa semua orang melangkah dengan kecepatan yang sama.

Tabooo.id – Teknologi telah mengubah cara orang berbelanja. Kini, siapa pun dapat membeli batik, pakaian, atau kebutuhan sehari-hari hanya dengan beberapa sentuhan di layar ponsel. Marketplace menghadirkan kemudahan, memperluas pasar, dan membuka peluang baru bagi pelaku usaha. Namun, di balik setiap transaksi digital yang selesai dalam hitungan menit, ada lorong-lorong pasar tradisional yang semakin lengang dan pekerja informal yang perlahan kehilangan ruang untuk mencari nafkah. Di Pasar Klewer, Solo, perubahan itu tidak hanya terlihat dari berkurangnya pembeli, tetapi juga dari troli para kuli panggul yang semakin jarang bergerak.

Dari Lorong Pasar ke Layar Ponsel

Pagi itu Pasar Klewer tetap membuka hari seperti biasa. Pedagang menggelar kain batik di depan kios. Aroma makanan dari warung kecil mulai memenuhi lorong. Beberapa pembeli datang, tetapi jumlahnya tidak lagi seramai beberapa tahun lalu. Di sudut pasar, Djiman berdiri sambil menggenggam gagang trolinya. Sesekali ia mengamati orang yang melintas. Ia berharap seseorang berhenti dan meminta bantuan mengangkat barang.

Pemandangan itu pernah sangat berbeda. Menjelang sore, lorong Pasar Klewer dipenuhi pembeli. Pedagang sibuk melayani pelanggan yang datang setelah pulang bekerja. Mobil keluar masuk membawa barang. Suara roda troli bersahutan dari satu lorong ke lorong lain. Pada saat itulah para kuli panggul bekerja tanpa henti hingga matahari tenggelam.

Hari ini suasana berubah. Aktivitas pasar mulai melambat sejak tengah hari. Banyak pedagang menutup kios lebih awal karena pembeli terus berkurang. Troli yang dulu hampir tidak pernah berhenti bergerak kini lebih sering terparkir di sudut pasar. Perubahan itu mungkin terlihat biasa bagi sebagian orang, tetapi bagi para pekerja informal, perubahan itu menentukan apakah mereka bisa membawa pulang uang atau tidak.

Digitalisasi Mengubah Cara Orang Berbelanja

Dalam beberapa tahun terakhir, cara masyarakat berbelanja berubah sangat cepat. Marketplace menawarkan kemudahan yang sulit ditolak. Pembeli cukup membuka aplikasi, memilih barang, lalu menyelesaikan pembayaran dalam hitungan menit. Setelah itu, kurir mengantar pesanan langsung ke depan rumah.

Ini Belum Selesai

Di Desa Lauwa, Buku Tak Cuma Mengajari Anak Membaca

81 Tahun Merdeka, Kenapa SDN 3 Kacamarga Masih Berdinding Papan?

Perubahan itu membawa banyak manfaat. Pedagang dapat menjangkau pasar yang lebih luas. Konsumen juga menghemat waktu dan biaya perjalanan. Banyak pelaku usaha berhasil meningkatkan penjualan melalui toko daring. Karena itu, digitalisasi memang membuka peluang baru bagi dunia perdagangan.

Namun, setiap perubahan selalu menghadirkan dua sisi. Ketika transaksi berpindah ke layar ponsel, aktivitas di pasar tradisional ikut berkurang. Semakin sedikit orang datang ke pasar, semakin sedikit pula barang yang harus diangkut. Akibatnya, pekerjaan para kuli panggul ikut menyusut.

Mereka yang Tidak Bisa Memindahkan Pekerjaannya ke Internet

Djiman tidak memahami algoritma marketplace. Ia juga tidak memiliki toko daring. Pekerjaannya tetap sama seperti puluhan tahun lalu, yaitu mengangkat barang milik pedagang dan pembeli.

“Dahulu jam lima sore masih banyak pekerjaan untuk diangkut. Sekarang jam dua belas siang sudah tidak ada barang yang diangkut,” ujarnya.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi maknanya sangat dalam. Djiman tidak sedang membicarakan teknologi. Ia sedang menceritakan perubahan yang benar-benar ia rasakan setiap hari. Ketika pembeli berkurang, kesempatan bekerja ikut menghilang. Ketika pasar kehilangan keramaian, ia kehilangan penghasilan.

Perubahan itu menunjukkan satu kenyataan. Tidak semua pekerjaan dapat mengikuti perkembangan teknologi. Pedagang bisa membuka toko digital. Kurir memperoleh peluang kerja baru. Platform digital terus berkembang. Namun, seorang kuli panggul tetap harus menunggu orang datang ke pasar.

Ketika Kemajuan Tidak Dinikmati Bersama

Setiap revolusi ekonomi melahirkan peluang baru. Namun, setiap revolusi juga meninggalkan kelompok yang sulit mengikuti perubahan. Hal itu pernah terjadi ketika mesin menggantikan banyak pekerjaan manual. Kini, situasi yang sama muncul dalam era digital.

Banyak orang menikmati kemudahan berbelanja tanpa harus keluar rumah. Mereka memperoleh harga yang lebih murah dan pilihan yang lebih banyak. Di sisi lain, pekerja yang menggantungkan hidup pada keramaian pasar kehilangan kesempatan sedikit demi sedikit.

Djiman mengaku penghasilannya jauh menurun dibanding beberapa tahun lalu.

“Kalau zaman dahulu ya cukup untuk kebutuhan. Sekarang turun banyak,” katanya.

Pendapatannya juga tidak pernah pasti.

“Pendapatan ya tidak menentu. Kadang Rp5.000, Rp10.000, ada juga Rp20.000 tergantung barang yang diangkut.”

Nominal itu mungkin terlihat kecil. Namun, bagi pekerja harian seperti Djiman, angka tersebut menentukan apakah kebutuhan keluarga dapat terpenuhi pada hari itu.

Ekonomi Tidak Hanya Soal Angka

Pertumbuhan ekonomi sering diukur melalui angka. Nilai transaksi digital terus meningkat. Jumlah pengguna marketplace juga bertambah setiap tahun. Data tersebut menunjukkan perkembangan yang positif.

Namun, angka tidak selalu mampu menjelaskan kehidupan di baliknya. Tidak ada grafik yang mencatat berapa lama seorang kuli panggul menunggu pekerjaan. Tidak ada laporan yang menghitung berapa kali mereka pulang hanya membawa Rp5.000. Padahal, kenyataan itu berlangsung setiap hari di banyak pasar tradisional.

Ekonomi bukan hanya soal transaksi. Ekonomi juga berbicara tentang manusia yang menggantungkan hidup pada setiap transaksi tersebut. Ketika aktivitas pasar melemah, dampaknya menjalar kepada pedagang, tukang parkir, buruh bongkar muat, penjual makanan, hingga kuli panggul. Mereka mungkin tidak muncul dalam laporan pertumbuhan ekonomi, tetapi mereka merasakan dampaknya lebih dulu.

Pasar Adalah Ekosistem Kehidupan

Banyak orang melihat pasar hanya sebagai tempat jual beli. Padahal, pasar merupakan ruang yang menghidupi banyak profesi sekaligus. Setiap pembeli yang datang tidak hanya membeli barang. Kehadirannya ikut menggerakkan roda ekonomi bagi banyak orang.

Karena itu, ketika pembeli berkurang, persoalannya tidak berhenti pada turunnya omzet pedagang. Dampaknya menjalar ke seluruh ekosistem pasar. Para pekerja informal menjadi kelompok yang paling rentan karena mereka tidak memiliki gaji tetap, pesangon, maupun jaminan pendapatan.

Djiman memahami kenyataan itu. Meski begitu, ia tetap datang setiap pagi dengan membawa trolinya. Ia berharap Pasar Klewer kembali ramai. Ia juga berharap pemerintah menghadirkan solusi agar aktivitas pasar tradisional kembali hidup.

Harapan itu bukan berarti menolak teknologi. Harapan itu mengingatkan bahwa kemajuan seharusnya memberi ruang bagi semua orang untuk tetap bekerja dengan layak.

Kemajuan Tidak Boleh Meninggalkan Orang-Orang Kecil

Teknologi akan terus berkembang. Marketplace juga akan terus menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Tidak ada alasan untuk menolak perubahan. Namun, perubahan yang baik tidak hanya menghadirkan kemudahan bagi konsumen. Perubahan juga harus menjaga agar pekerja yang selama ini menopang ekonomi rakyat tidak kehilangan tempat.

Para kuli panggul tidak meminta belas kasihan. Mereka hanya ingin tetap memiliki kesempatan untuk bekerja. Mereka ingin pulang dengan penghasilan yang cukup setelah seharian mengandalkan tenaga sendiri.

Mungkin itulah pertanyaan yang perlu kita renungkan ketika menikmati kemudahan berbelanja dari layar ponsel. Jika teknologi berhasil mempermudah hidup kita, apakah teknologi juga sudah membantu mereka yang selama puluhan tahun menghidupi denyut pasar tradisional?

Sebab ukuran kemajuan bukan hanya seberapa cepat barang sampai ke depan rumah. Ukuran kemajuan juga terlihat dari seberapa banyak orang yang masih bisa pulang dengan membawa nafkah hasil kerja mereka sendiri.

Tags: Kuli PanggulPasarPasar KlewerSurakarta

Kamu Melewatkan Ini

Keris Tak Pernah Diam: Di Museum Keris Ini, Ingatan Masih Dijaga

Keris Tak Pernah Diam: Di Museum Keris Ini, Ingatan Masih Dijaga

by teguh
Agustus 23, 2026

Di balik 1.012 pusaka yang menurut pengelola Museum keris telah teregistrasi, ada pekerjaan sunyi untuk merawat benda, menjaga cerita, dan...

Gamelan Kraton Ditabuh, Sekaten 2026 Dimulai

Gamelan Kraton Ditabuh, Sekaten 2026 Dimulai

by eko
Agustus 19, 2026

Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menggelar Miyosaken Gongsa Sekati dan mulai menabuh dua gamelan pusaka untuk membuka rangkaian Sekaten 2026. Tabooo.id...

Viral Pasangan di Balekambang, Pemkot Solo Perketat Patroli Sore

Viral Pasangan di Balekambang, Pemkot Solo Perketat Patroli Sore

by eko
Agustus 17, 2026

Video pasangan diduga berbuat mesum di Balekambang Solo viral. Pemkot memberi teguran dan memperkuat patroli di titik rawan. Tabooo.id: Surakarta...

Next Post
Guru Ngaji Cabuli Murid di Sukabumi, Kepercayaan yang Dikhianati

Guru Ngaji Cabuli Murid di Sukabumi, Kepercayaan yang Dikhianati

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id