Senin, Agustus 24, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Di Desa Lauwa, Buku Tak Cuma Mengajari Anak Membaca

by teguh
Agustus 24, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on Facebook
Share on Twitter
Sabtu punya cerita sendiri bagi anak-anak Desa Lauwa, Kecamatan Belopa Utara, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan.

Tabooo.id – Pagi atau siang itu, sebuah gedung serbaguna milik pemerintah desa Lauwa berubah menjadi ruang belajar. Buku terbuka di beberapa sudut. Pensil warna bergerak di atas kertas.

Ada yang membaca puisi. Sebagian lain mengenal tanaman obat. Diskusi kecil pun muncul di antara anak-anak dan relawan. Tidak ada suasana kelas yang kaku.

Para relawan memilih posisi berbeda. Mereka tidak sekadar mengajari. Kehadiran mereka lebih dekat sebagai teman.

Di ruang itulah Komunitas Baca Rumah Luwu menjalankan gerakan literasi. Namun, cerita ini bukan sekadar tentang buku.

Ada persoalan yang lebih besar di baliknya: bagaimana membuat anak merasa memiliki ruang untuk tumbuh.

Ini Belum Selesai

81 Tahun Merdeka, Kenapa SDN 3 Kacamarga Masih Berdinding Papan?

Negara Menguasai Sumber Daya, Rakyat Dapat Apa?

Ketika Buku Mendatangi Masyarakat

Rumah Luwu lahir dari keresahan sejumlah mahasiswa asal Luwu yang kuliah di Makassar.

Pada 2017, Nurfadilla bersama rekan-rekannya mulai mencari cara agar bahan bacaan lebih dekat dengan masyarakat.

Masalahnya sederhana, Akses terhadap buku belum selalu mudah. Karena itu, mereka tidak menunggu perpustakaan berdiri. Buku justru mereka bawa keluar.

“Tujuan utamanya bagaimana mendekatkan bacaan kepada masyarakat. Jadi, tidak melulu harus ada gedung,” kata Nurfadilla.

Konsep “ngelapak” kemudian lahir yaitu, Buku berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Lapak baca pernah hadir di Lapangan Andi Djemma hingga kawasan Pantai Ponori.

Model tersebut membuat literasi lebih dekat dengan ruang publik. Pada awalnya, kegiatan berpusat di Kecamatan Larompong. Perjalanan waktu kemudian membawa koleksi Rumah Luwu ke Desa Lauwa.

Desa Memberi Rumah bagi Gerakan

Tahun 2025 menjadi fase baru bagi Rumah Luwu. Koleksi komunitas berpindah ke Desa Lauwa, Kecamatan Belopa Utara.

Pemerintah Desa Lauwa menyediakan gedung serbaguna sebagai ruang membaca dan berkegiatan. Kolaborasi itu juga menghasilkan NPP untuk perpustakaan desa dan komunitas.

Ruang tersebut tidak hanya melayani kegiatan literasi. Setiap bulan, posyandu juga menggunakan gedung yang sama. Orang tua yang menunggu layanan dapat melihat koleksi buku.

Anak-anak pun mendapat kesempatan membaca. Dari sini muncul satu pertanyaan penting.

Apakah perpustakaan harus selalu identik dengan gedung khusus? Pengalaman Lauwa menunjukkan kemungkinan lain.

Satu ruang bisa menjadi tempat membaca, berkumpul, belajar, sekaligus membangun hubungan sosial.

Anak yang Disebut “Nakal”

Cerita paling kuat justru muncul dari seorang anak. Teman-temannya mengenal dia sebagai anak “nakal”. Ia sering mengganggu anak lain.

Nurfadilla tidak berhenti pada label tersebut. Pendekatan personal kemudian membuka cerita berbeda.

Anak itu ternyata membutuhkan perhatian. Ia hanya ingin seseorang mendengarkan.

“Setelah kami dekati secara personal, ternyata anak ini cuma ingin diperhatikan, hanya butuh didengarkan,” ujar Nurfadilla.

Temuan tersebut mengubah cara relawan membaca perilaku anak. Label ternyata tidak selalu menjelaskan persoalan.

Kadang, perilaku yang dianggap mengganggu menyimpan kebutuhan yang belum terlihat.

Di sinilah literasi mulai bergerak keluar dari halaman buku. Anak belajar membaca kata. Relawan belajar membaca manusia.

Dari Mengeja Menuju Percaya Diri

Perubahan juga terlihat pada kemampuan membaca. Beberapa anak datang ketika mereka belum mampu membaca dengan lancar. Bahkan, ada yang masih mengeja setiap huruf.

Relawan tidak langsung memberikan buku dengan teks panjang. Bahan bacaan mereka sesuaikan dengan kemampuan anak.

Buku bergambar dan sedikit tulisan menjadi pilihan bagi pembaca pemula. Setelah kemampuan meningkat, tingkat kesulitan bacaan ikut bertambah.

“Kalau sudah agak lancar, kami kasih bahan bacaan yang lebih panjang dan lebih banyak tulisan dibanding gambar,” kata Nurfadilla.

Pendekatan itu menunjukkan satu hal. Setiap anak memiliki ritme belajar yang berbeda.

Karena itu, keberhasilan tidak selalu harus muncul dalam angka. Seorang anak yang mulai berani membaca sudah menunjukkan perubahan.

Buku Berhadapan dengan Layar

Tantangan lain datang dari gawai. Anak-anak kini mendapatkan informasi melalui telepon genggam. Hiburan digital juga menawarkan pilihan yang jauh lebih cepat.

Buku harus bersaing dengan kondisi tersebut. Rumah Luwu memilih jalan berbeda. Larangan bukan menjadi strategi utama.

Kegiatan justru dibuat lebih interaktif. Anak-anak berbicara, berdiskusi, menggambar, membaca puisi, serta mengikuti kelas perilaku hidup bersih dan sehat.

Mereka juga belajar mengenal tanaman obat di sekitar lingkungan. Ruang bercerita turut terbuka.

Menurut Nurfadilla, relawan tidak menempatkan diri lebih tinggi daripada anak-anak.

“Kami menempatkan diri tidak lebih tinggi daripada anak-anak. Kami memfasilitasi belajarnya, tetapi dikemas dengan cara yang menarik,” tuturnya.

Pendekatan tersebut membuat kegiatan membaca terasa lebih cair. Anak tidak datang hanya untuk membaca. Mereka datang untuk mengalami proses belajar.

Seribu Buku, Banyak Tangan

Koleksi Rumah Luwu tidak tumbuh dalam satu malam. Donasi menjadi salah satu sumber utama.

Ketika masih berada di Makassar, Nurfadilla dan rekan-rekannya mengajak putra-putri Luwu untuk menyumbangkan buku.

Satu orang menyumbangkan sedikitnya dua buku. Semakin banyak orang bergabung, semakin besar pula koleksinya.

Kemudian, Perpustakaan Nasional melalui kerja sama dengan pemerintah desa menambah sekitar 1.000 buku.

Rak buku pun memiliki cerita. Ibu-ibu Desa Lauwa menyumbangkan rak bekas yang kemudian digunakan untuk menyimpan koleksi.

Namun, jumlah buku bukan akhir dari persoalan. Rak penuh tidak otomatis menciptakan pembaca. Buku juga membutuhkan pendamping.

Anak memerlukan ruang yang membuat mereka betah. Di titik inilah gerakan literasi membutuhkan ekosistem.

Yang Dibangun Bukan Cuma Perpustakaan

Rumah Luwu memang membawa buku. Tetapi yang tumbuh di Lauwa sebenarnya lebih besar dari sekadar koleksi bacaan.

Hubungan sosial ikut terbentuk. Anak mendapat ruang untuk membaca sekaligus bercerita. Orang tua dapat mendekati buku ketika menunggu posyandu.

Pemuda, mahasiswa, tokoh masyarakat, tokoh perempuan, hingga tokoh adat juga memiliki kesempatan untuk terlibat.

Itulah lapisan yang sering luput ketika literasi hanya dihitung melalui jumlah buku. Literasi membutuhkan manusia. Lebih dari itu, literasi membutuhkan hubungan.

Anak Perlu Didengar

Bagi Nurfadilla, literasi memiliki makna yang lebih luas.

“Literasi itu bukan cuma sekadar bisa membaca, tapi bagaimana kita mampu membawa diri, mampu bersikap, memahami orang lain, memahami diri sendiri, dan beradaptasi dengan lingkungan,” ungkapnya.

Kalimat tersebut menjadi inti gerakan Rumah Luwu. Kemampuan mengeja hanyalah awal.

Setelah itu, anak perlu memahami isi bacaan. Mereka juga perlu berkomunikasi, beradaptasi, dan mengenali dirinya.

Karena itu, ruang aman menjadi penting. Anak yang berani bertanya sedang membangun kepercayaan diri.

Anak yang berani bercerita sedang belajar menyampaikan pikiran. Sementara anak yang akhirnya merasa didengar sedang menemukan bahwa dirinya berharga.

Negara Tidak Bisa Hanya Mengandalkan Relawan

Rumah Luwu ingin bergerak lebih jauh. Rekrutmen relawan, penambahan buku, dan program Rumah Luwu Goes to School masuk dalam rencana mereka.

Festival literasi yang mempertemukan komunitas di Luwu Raya juga menjadi gagasan berikutnya. Semua itu membutuhkan keberlanjutan.

Gerakan literasi tidak boleh terus bergantung pada donasi dan tenaga sukarela. Pemerintah desa sudah membuka ruang. Masyarakat juga ikut bergerak.

Selanjutnya, dukungan pemerintah kabupaten dan layanan perpustakaan yang lebih mudah diakses tetap dibutuhkan.

Sebab, komunitas bisa membuka pintu. Tetapi ekosistem harus menjaga pintu itu tetap terbuka.

Buku yang Membuka Masa Depan

Sabtu akan kembali datang, Anak-anak mungkin kembali membuka buku, Ada yang membaca, Ada pula yang menggambar atau bermain.

Tidak semuanya langsung menjadi pembaca yang lancar. Namun, proses tetap berjalan, Satu huruf mulai dikenali, Satu kalimat mulai dibaca, Satu pertanyaan mulai muncul.

Seorang anak yang dulu mendapat label “nakal” mulai menemukan orang yang mau mendengarkan. Di situlah cerita Rumah Luwu menemukan maknanya.

Buku memang membuka halaman. Namun, ruang literasi membuka kemungkinan. Sebab, ketika anak diberi buku, mereka mendapatkan bacaan. Ketika mereka diberi ruang, mereka mendapatkan kesempatan untuk tumbuh. @teguh

Tags: Anak IndonesiaDesa LauwaKomunitas LiterasiLiterasiLiterasi DesaLuwuPendidikanPendidikan IndonesiaRumah LuwuSulawesi Selatan

Kamu Melewatkan Ini

81 Tahun Merdeka, Kenapa SDN 3 Kacamarga Masih Berdinding Papan?

81 Tahun Merdeka, Kenapa SDN 3 Kacamarga Masih Berdinding Papan?

by teguh
Agustus 23, 2026

Dari jalan turun gunung hingga ruang kelas berdinding papan, SDN 3 Kacamarga memperlihatkan satu ironi kemerdekaan pendidikan belum terasa sama...

30 Menit Anak-anak Najaten Melawan Jarak

30 Menit Anak-anak Najaten Melawan Jarak

by teguh
Agustus 21, 2026

Pagi di SDN 2 Najaten, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, dimulai dengan buku. Selama sekitar 30 menit anak-anak Najaten melawan jarak,...

30 Menit Melawan Jarak: Ketika Akses Buku Belum Merata di Sekolah Pelosok

30 Menit Melawan Jarak: Ketika Akses Buku Belum Merata di Sekolah Pelosok

by teguh
Agustus 21, 2026

Pagi di SDN 2 Najaten, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, dimulai dengan aktivitas sederhana. Dibalik akses buku belum merata Sekitar 30...

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id