Pukul 09.00 WIB, aktivitas dimulai di sebuah usaha kecil Jalan Veteran, Kecamatan Serengan, Solo. Kain, spon, benang, dan jok motor menjadi bagian dari keseharian Pak Harsono. Tidak ada target membuka banyak cabang atau mengejar omzet besar.
Tabooo.id – Yang ia perjuangkan jauh lebih sederhana menjaga usaha tetap berjalan dan kebutuhan keluarga tetap terpenuhi. Sekitar 2023, Pak Harsono memulai jasa jahit dan ganti jok motor dengan modal sekitar Rp1 juta. Nilainya memang kecil, tetapi modal tersebut memberinya kesempatan membangun sumber penghasilan sendiri.
Dari Pabrik Mebel ke Usaha Sendiri
Pak Harsono berasal dari Wonogiri dan telah memiliki KTP Solo sejak 1998. Sebelum membuka usaha, ia bekerja di pabrik mebel kawasan Pasar Ngemplak Belibis Solo, dekat kawasan Masjid Sheikh Zayed.
Kemudian, tempat kerja tersebut terbakar. Peristiwa itu mengubah arah hidupnya. Pekerjaan berhenti, sedangkan kebutuhan keluarga terus berjalan. Harsono akhirnya memilih membangun pekerjaan sendiri.
Sekitar 2023, jasa jahit dan ganti jok motor mulai ia jalankan. Servis sofa kemudian ikut menjadi bagian dari pekerjaannya.
Untuk sofa berukuran besar, Harsono mengerjakannya di rumah dengan bantuan sang kakak yang memiliki usaha serupa.
Setiap hari, pintu usaha terbuka pukul 09.00 hingga 17.00 WIB. Dalam kondisi normal, lima sampai tujuh pelanggan datang.
Ketika permintaan meningkat, jumlahnya bisa mencapai 15–20 pelanggan. Sebaliknya, hari sepi hanya menghadirkan tiga sampai empat pelanggan.
Ritme tersebut membuat pendapatan bergerak naik turun. Meski begitu, Harsono tetap menjalankan usahanya.
Dari Rp60 Ribu, Ada Banyak Kebutuhan
Tarif jahit atau ganti jok motor berada di kisaran Rp50.000–Rp100.000.
Pelanggan paling sering memilih layanan sekitar Rp60.000–Rp70.000. Harga itu sudah mencakup bahan kain dan jasa pemasangan.
Harsono membeli kain di kawasan Baturan, Fajar Indah, atau toko sekitar Podomoro dan Kios Santri.
Sementara itu, servis sofa membutuhkan waktu satu sampai tiga hari, bergantung pada tingkat kerusakan dan model.
Sekilas, transaksi tersebut terlihat sederhana. Pelanggan datang, pekerjaan selesai, lalu pembayaran berpindah tangan. Namun, uang yang masuk tidak otomatis menjadi keuntungan.
Pendapatan Harsono sekitar Rp2 juta per bulan. Kebutuhan sehari-hari langsung menyerap sebagian besar pemasukan tersebut.
Token listrik membutuhkan sekitar Rp250.000 setiap bulan, sedangkan Wi-Fi rumah mencapai sekitar Rp210.000.
Masih ada kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi. Karena itu, omzet bagi Pak Harsono bukan sekadar angka. Setiap pemasukan memiliki tujuan.
Ketika “Untung” Berarti Bisa Bertahan
Pak Harsono tinggal bersama istri dan dua anak. Anak pertamanya sudah menikah. Sementara itu, anak kedua merupakan lulusan SMA 7 Solo dan kini bekerja di kedai kopi/kraf Nescafe.
Kondisi keluarga membuat arti keberhasilan usaha terasa berbeda. Perusahaan besar mungkin mengukur pertumbuhan melalui cabang dan omzet. Bagi Harsono, pelanggan yang kembali bulan depan sudah menjadi kabar baik.
Sekitar empat pelanggan tetap datang dari kalangan makelar dan pedagang motor bekas di Solo, Ngruki, serta Cemani.
Permintaan biasanya meningkat menjelang Lebaran. Musim hujan juga mendatangkan lebih banyak jok motor rusak atau basah.
Namun, pasar yang tersedia belum otomatis membuat usaha mudah berkembang.
Pesanan besar terkadang datang ketika modal kerja belum cukup. Dalam situasi seperti itu, Harsono memilih meminjam kepada keluarga.
Pilihan tersebut menunjukkan persoalan yang lebih luas. Akses pembiayaan bukan hanya soal ketersediaan kredit, tetapi juga menyangkut administrasi, keberanian berutang, kemampuan membayar, dan kepastian pendapatan.
Program Ada, Tetapi Jalannya Harus Terlihat
Pemerintah menyediakan berbagai instrumen dukungan bagi UMKM.
OJK melalui POJK Nomor 19 Tahun 2025 mengatur kemudahan akses pembiayaan UMKM dengan prinsip mudah, tepat, cepat, murah, dan inklusif.
Di Solo, Pemkot Surakarta juga meresmikan UMKM Center di PLUT pada 30 April 2025. Fasilitas tersebut menyediakan layanan bantu modal, bantu jual, konsultasi usaha, dan inkubasi bisnis.
Kebijakan itu menunjukkan perhatian terhadap pelaku usaha kecil. Namun, tantangan berikutnya berada di lapangan.
Bagaimana program tersebut menjangkau usaha yang lokasinya agak masuk dari jalan utama?
Pelaku usaha seperti Harsono bekerja sejak pagi hingga sore. Waktu untuk mencari informasi, mengurus administrasi, atau mendatangi pusat layanan tentu tidak selalu longgar.
Kondisi tersebut membuat pendampingan menjadi penting. Modal membuka pintu, sedangkan pendampingan membantu pelaku usaha menemukan jalan setelahnya.
Lokasi Kecil, Dampaknya Tidak Kecil
Harsono pernah mendapat permintaan untuk bergeser dari lokasi usaha oleh pengelola lahan.
Kini, tempat usahanya berada agak masuk dari jalan utama. Kondisi tersebut membuat visibilitas menjadi persoalan.
Bisnis bermodal besar mungkin bisa mengatasi masalah lokasi melalui renovasi dan promosi. Usaha dengan pendapatan sekitar Rp2 juta per bulan memiliki ruang gerak lebih sempit.
Pindah lokasi membutuhkan biaya. Tempat baru memerlukan modal. Promosi pun membutuhkan strategi.
Akibatnya, lokasi bukan sekadar persoalan alamat. Letaknya ikut menentukan peluang pelanggan menemukan usaha.
Tabooo Twist: Ia Bukan Tidak Mau Besar
Harsono punya keterampilan dan pengalaman kerja. Empat pelanggan tetap juga menunjukkan bahwa pasar untuk jasanya masih tersedia.
Setelah kehilangan pekerjaan, ia bahkan memilih menciptakan pekerjaan sendiri. Masalah utamanya bukan kemauan. Ruang tumbuhnya yang terbatas.
Modal kecil membatasi pilihan. Lokasi kurang terlihat menahan pelanggan baru. Pesanan besar membutuhkan tambahan modal.
Pak Harsono bukan tidak mau besar. Ia mungkin terlalu sibuk bertahan untuk sempat tumbuh. Kalimat itu menggambarkan persoalan banyak usaha mikro.
Mereka diminta naik kelas, tetapi tangga menuju kelas tersebut belum tentu berada dalam jangkauan.
Di Balik Satu Jok Ada Satu Rumah
Satu jok motor mungkin hanya bernilai puluhan ribu rupiah. Bagi Harsono, transaksi tersebut ikut menjaga roda rumah tangga tetap bergerak.
Bahan harus dibeli kembali. Listrik perlu dibayar. Kebutuhan keluarga juga menunggu. Besok belum tentu membawa jumlah pelanggan yang sama.
Pekerjaan itu mungkin terlihat kecil dari luar. Namun, martabat kerja tidak pernah bergantung pada besar kecilnya usaha.
Kemampuan memenuhi kebutuhan melalui keterampilan sendiri juga merupakan bentuk kemandirian.
Bertahan Juga Butuh Ruang
Pak Harsono tidak meminta pemerintah menjalankan usahanya. Ia berharap mendapat perhatian, peluang bantuan modal, serta tempat usaha yang lebih layak.
Pemkot Surakarta sudah memiliki program dukungan UMKM. Tantangan berikutnya ialah memastikan program tersebut benar-benar menemukan pelaku usaha di lapisan paling kecil.
Sebab, ekonomi rakyat tidak hanya berbicara tentang pertumbuhan. Ekonomi juga menyangkut rasa aman dan kemampuan mempertahankan kehidupan.
Bagi Pak Harsono, ukuran keberhasilan mungkin sesederhana membuka pintu usaha keesokan pagi. @teguh








