Kamis, Mei 14, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Bayi Menangis Terus, Diangkat atau Dibiarkan? Ini Bukan Soal Tega atau Tidak

by teguh
Mei 8, 2026
in Health, Life
A A
Home Life Health
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Health – Pernah nggak sih, kamu lagi scroll TikTok tengah malam, lalu dengar bayi tetangga menangis tanpa henti? Reaksinya selalu sama: ada yang kasihan, ada yang kesal, dan ada juga yang langsung berkomentar, “Itu bayinya kok nggak digendong, sih?”

Tangisan bayi memang sering memicu perdebatan klasik. Di satu sisi, orang tua ingin anaknya mandiri. Di sisi lain, rasa bersalah datang kalau bayi dibiarkan menangis terlalu lama. Pertanyaannya sederhana, tapi jawabannya nggak sesederhana itu menangis lama, bahaya atau justru wajar?

Tangisan Bukan Drama, Tapi Bahasa Pertama Bayi

Bayi belum bisa ngomel, protes, atau chat orang tuanya. Mereka cuma punya satu alat komunikasi menangis. Saat lapar, popok basah, mengantuk, atau merasa tidak aman, tangisan langsung keluar tanpa sensor.

Karena itu, banyak ahli menyarankan orang tua merespons tangisan bayi dengan cepat. Respons tersebut membantu bayi merasa aman dan dipahami. Rasa aman ini nantinya membentuk dasar keterikatan emosional antara bayi dan orang tua.

Namun, nggak semua pakar sepakat soal ini.

Ini Belum Selesai

Krisis Identitas Gen Z di Tengah Ambisi Indonesia Emas 2045

Berani Speak Up di Depan Juri: Sikap Kritis atau Tanda Mental Anak Makin Sehat?

Studi Bilang Aman, Tapi dengan Catatan

Peneliti dari University of Warwick mencoba melihat dampak membiarkan bayi menangis hingga berhenti sendiri. Hasilnya cukup mengejutkan. Mereka menemukan bahwa kebiasaan ini tidak mengganggu perkembangan bayi hingga usia 18 bulan.

Penelitian yang terbit di Journal of Child Psychology and Psychiatry itu juga mencatat hal menarik. Bayi yang sesekali dibiarkan menangis di usia awal justru menunjukkan durasi menangis yang lebih singkat saat berusia 18 bulan.

Artinya, dalam kondisi tertentu, bayi bisa belajar mengatur diri sendiri. Mereka pelan-pelan mengenali ritme tidur dan emosinya. Namun, kata kuncinya satu kondisi tertentu.

Ketika Tangisan Berubah Jadi Stres

Di sisi lain, pakar tumbuh kembang anak Penelope Leach punya pandangan berbeda. Dalam bukunya Your Baby and Child: From Birth to Age Five, ia menyoroti risiko membiarkan bayi menangis terlalu lama tanpa respons.

Leach menegaskan bahwa stres berkepanjangan bisa memicu pelepasan hormon kortisol. Hormon ini berpotensi mengganggu perkembangan otak bayi yang masih sangat rapuh. Apalagi di masa awal kehidupan, otak bayi tumbuh dengan sangat cepat.

Menurutnya, bayi berhenti menangis bukan karena belajar mandiri, tetapi karena kelelahan dan putus asa. Kondisi ini jelas bukan hal yang ingin dicapai orang tua mana pun.

Jadi, Mana yang Benar?

Jawabannya nggak hitam-putih. Praktisi tidur bayi asal Amerika Serikat, Anastasia Baker, menawarkan pendekatan yang lebih realistis. Ia menyarankan orang tua melihat konteks, bukan mengikuti satu metode secara kaku.

Jika bayi berusia di atas enam bulan, sudah kenyang, sehat, dan tidak menunjukkan tanda sakit, orang tua boleh memberi jeda beberapa menit sebelum merespons. Jeda ini membantu bayi belajar menenangkan diri.

Namun, Baker juga mengingatkan orang tua agar tidak menjadikan metode “cry it out” sebagai alasan untuk abai. Orang tua tetap perlu mengamati, mendengar, dan peka terhadap perubahan tangisan bayi.

Tangisan yang Wajar vs Tangisan Bahaya

Tidak semua tangisan sama. Orang tua perlu mengenali perbedaannya.

Tangisan biasa biasanya muncul karena lapar, mengantuk, atau popok kotor. Sebaliknya, tangisan karena sakit punya ciri lebih intens dan sulit ditenangkan.

Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain:

  • Tangisan terdengar lebih melengking atau menusuk
  • Tubuh bayi tampak kaku atau terlalu lemas
  • Bayi menolak menyusu
  • Pola tidur berubah drastis
  • Bayi tampak gemetar atau demam

Jika tanda-tanda ini muncul, orang tua sebaiknya langsung berkonsultasi ke tenaga medis.

Di Balik Tangisan, Ada Tekanan Sosial

Menariknya, isu bayi menangis juga mencerminkan tekanan sosial pada orang tua modern. Media sosial sering membuat orang tua merasa harus “sempurna”. Bayi harus tenang, tidur cepat, dan nggak rewel.

Padahal, setiap bayi punya karakter berbeda. Setiap keluarga juga punya kondisi emosional dan mental yang nggak sama.

Alih-alih mengikuti standar Instagram, orang tua perlu membangun intuisi sendiri. Mendengarkan bayi sama pentingnya dengan mendengarkan diri sendiri.

Jadi, Apa Dampaknya Buat Kamu?

Kalau kamu orang tua, artikel ini mengingatkan satu hal penting tidak ada pola asuh instan yang cocok untuk semua bayi. Respons yang hangat, peka, dan konsisten jauh lebih penting daripada sekadar metode.

Kalau kamu belum punya anak, isu ini tetap relevan. Empati pada orang tua dan bayi bisa membuat kita lebih manusiawi, bukan sekadar reaktif.

Karena pada akhirnya, tangisan bayi bukan sekadar suara. Ia adalah pesan kecil yang minta dipahami, bukan diperdebatkan. @teguh

Tags: BahayabayiEmosionalPenelitiSensorStres

Kamu Melewatkan Ini

Secangkir Kopi Bisa Turunkan Stres dan Ubah Mood? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Secangkir Kopi Bisa Turunkan Stres dan Ubah Mood? Ini Penjelasan Ilmiahnya

by dimas
Mei 8, 2026

Kopi sekarang bukan cuma soal bangunin mata di pagi hari. Ia sudah jadi bagian dari gaya hidup yang katanya bikin...

Siti Inggil: Sunyi yang Dipercaya, Sejarah yang Dipertanyakan

Siti Inggil: Sunyi yang Dipercaya, Sejarah yang Dipertanyakan

by teguh
Mei 1, 2026

Angin berembus pelan di antara bata-bata tua. Di bawah bayang pohon kesambi, waktu terasa melambat. Namun di ruang yang terasa...

Tirto Dibungkam Kolonial, Ketika Pena dan Krtitik Lebih Ditakuti dari Senjata

Tirto Dibungkam Kolonial, Ketika Pena dan Krtitik Lebih Ditakuti dari Senjata

by teguh
April 18, 2026

Tabooo.id: Deep - Pada awal abad ke-20, Hindia Belanda tak hanya merampas tanah. Mereka juga menguasai suara. Penguasa menentukan siapa...

Next Post
Konsep Otomatis

Tentara Israel Tembak Mati Warga Palestina di Tepi Barat

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Mei 13, 2026

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Mei 12, 2026

MBG Bisa Ditolak, Prabowo Persilakan Anak Orang Kaya Mundur

Mei 12, 2026

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Mei 13, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id