Tabooo.id: Regional – Banjir bandang menerjang Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara, dan meninggalkan duka mendalam. Hingga hari Selasa (6/1/2026), sedikitnya 14 warga meninggal dunia akibat bencana hidrometeorologi tersebut. Empat orang lainnya masih dinyatakan hilang dan terus dicari oleh tim SAR gabungan.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sitaro mencatat, korban meninggal tersebar di beberapa kecamatan. Delapan orang ditemukan di Kecamatan Siau Timur, lima orang di Kecamatan Siau Barat, dan satu orang di Kecamatan Siau Barat Selatan. Banjir datang tiba-tiba saat sebagian warga masih terlelap, membuat banyak korban tidak sempat menyelamatkan diri.
Akses Terputus, Tim SAR Hadapi Medan Sulit
Proses pencarian korban tidak berjalan mudah. Material banjir menutup sejumlah ruas jalan dan membuat beberapa wilayah terisolasi. Tim SAR gabungan harus membuka jalur secara bertahap sambil mencari rute alternatif menuju lokasi terdampak.
Humas Kantor SAR Sulawesi Utara, Nuriadin Gumeleng, menjelaskan bahwa tim masih fokus melakukan orientasi medan.
“Kami terus berupaya membuka akses ke wilayah yang terisolasi agar proses pencarian dan evakuasi bisa dipercepat,” jelasnya, Rabu (7/1/2026).
Untuk mendukung operasi, tim SAR mengerahkan berbagai peralatan, termasuk drone termal. Alat ini membantu pemetaan wilayah terdampak sekaligus mempermudah pencarian korban di area yang sulit dijangkau secara manual.
Pemkab Tetapkan Tanggap Darurat hingga 18 Januari
Di tengah cuaca ekstrem yang masih mengancam, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sitaro menetapkan status tanggap darurat bencana hidrometeorologi. Status ini berlaku sejak Senin (5/1/2026) hingga 18 Januari 2026, sesuai Surat Keputusan Bupati Nomor 1 Tahun 2026.
Bupati Sitaro Chyntia Ingrid Kalangit menegaskan, kebijakan ini bertujuan mempercepat penanganan dan memastikan seluruh unsur pemerintah bergerak terpadu.
“Status tanggap darurat memberi dasar hukum untuk mobilisasi personel, peralatan, dan logistik secara cepat,” tegasnya.
Pemerintah daerah juga menginstruksikan seluruh organisasi perangkat daerah, TNI-Polri, pemerintah kecamatan, hingga relawan kebencanaan untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana lanjutan, seperti tanah longsor, angin kencang, dan gelombang tinggi.
Warga Jadi Pihak Paling Terdampak
Banjir bandang ini tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga melumpuhkan aktivitas sosial dan ekonomi warga. Jaringan listrik dan telekomunikasi terputus di sejumlah titik. Akses jalan tertutup, sementara distribusi logistik tersendat akibat keterbatasan transportasi laut menuju wilayah kepulauan.
BNPB menyebut hujan berintensitas tinggi yang mengguyur wilayah Sitaro dalam durasi lama menjadi pemicu utama banjir bandang yang terjadi sekitar pukul 03.00 Wita, Senin (5/1/2026).
Antara Cuaca Ekstrem dan Kesiapsiagaan
Bupati Sitaro mengimbau masyarakat tetap waspada dan mengikuti arahan aparat di lapangan. Ia juga meminta warga tidak mudah terpancing informasi yang belum terverifikasi.
Banjir bandang di Sitaro kembali menegaskan satu hal ketika cuaca ekstrem datang tanpa kompromi, kesiapsiagaan menjadi pembeda antara selamat dan terlambat. Pertanyaannya, apakah sistem peringatan dan mitigasi kita sudah cukup cepat, atau bencana selalu harus lebih dulu memakan korban sebelum negara benar-benar bergerak? @dimas







