Sabtu, Juni 6, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Komdigi: Ruang Online Tak Boleh Jadi Tempat Kekerasan Diam-Diam

by teguh
April 17, 2026
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Nasional – Ruang digital makin ramai. Namun di balik notifikasi, unggahan, dan pesan singkat, sisi gelap terus tumbuh: kekerasan seksual terhadap perempuan secara online. Kini, pemerintah memilih bertindak, bukan sekadar menonton.

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) memperketat pengawasan terhadap platform digital sebagai respons atas maraknya kekerasan seksual di ranah online. Langkah itu muncul setelah audiensi antara Komdigi dan Komnas Perempuan.

Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menegaskan bahwa platform digital tak bisa lepas tangan ketika kejahatan muncul di dalam sistem mereka.

“Ketika kejahatan itu terjadi di platform, itu rumah mereka. Artinya yang melakukan penanganan di dalam adalah mereka. Kami tidak bisa masuk kecuali dengan kewenangan tertentu,” ujar Meutya dalam keterangan resmi, Rabu, 15/03/2026.

Kalimat itu tajam. Pesannya jelas perusahaan teknologi wajib menjaga rumah digital mereka sendiri.

Sanksi Bisa Sampai Penutupan

Komdigi juga membuka opsi sanksi keras bila platform lalai dan membiarkan ancaman terhadap publik terus berjalan.

Ini Belum Selesai

Harley, Valas, dan Uang Rp145 Miliar: Jejak Korupsi Silmy Karim

Timnas Indonesia Hajar Oman 3-0, Herdman: Ini Kemenangan Kami Tunggu 38 Tahun

“Kalau memang membahayakan sekali, kami bisa kenakan sanksi sampai pada penutupan. Mereka harus bertanggung jawab karena itu ranah mereka,” lanjut Meutya.

Ini bukan sekadar peringatan administratif. Ini sinyal bahwa negara mulai menuntut tanggung jawab digital secara nyata.

Di era ketika perusahaan teknologi melaju lebih cepat daripada regulasi, pertanyaan besarnya sederhana siapa melindungi pengguna saat algoritma sibuk mengejar trafik?

2.000 Laporan per Tahun, dan Itu Belum Semua

Menurut data Komdigi, kasus kekerasan terhadap perempuan di ruang digital terus naik dalam beberapa tahun terakhir. Rata-rata ada sekitar 2.000 laporan setiap tahun.

Kekerasan seksual online menjadi bentuk yang paling dominan. Dalam kajian terbaru, jumlahnya bahkan menembus lebih dari 1.600 kasus.

Namun angka itu belum menggambarkan kenyataan sesungguhnya.

Ketua Komnas Perempuan, Maria Ulfah Anshor, menyebut banyak korban memilih diam karena akses bantuan belum merata.

“Keterbatasan infrastruktur dan layanan penanganan di sejumlah wilayah, khususnya daerah kepulauan dan 3T, turut menghambat korban dalam mengakses bantuan, termasuk untuk pelaporan dan pendampingan hukum maupun psikologis,” kata Maria.

Artinya, data resmi hanya menangkap puncak gunung es. Di bawahnya, banyak cerita tenggelam tanpa saksi.

Pengamat: Platform Terlalu Nyaman

Direktur Eksekutif Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFEnet), Nenden Sekar Arum, dalam forum literasi digital pada 08/03/2025 menilai kekerasan berbasis gender online tumbuh karena sistem pelaporan platform sering lambat dan rumit.

“Korban sering diminta membuktikan trauma mereka, sementara pelaku hanya butuh satu akun baru,” ujarnya.

Pendapat itu menggambarkan paradoks digital hari ini korban bekerja keras mencari keadilan, pelaku cukup klik “buat akun baru”.

Akademisi: Aturan Harus Jalan Bersama Edukasi

Pakar komunikasi digital dari Universitas Indonesia, Ade Armando, dalam diskusi publik 22/11/2024 menilai penindakan saja tidak cukup.

“Penegakan aturan penting, tapi literasi digital harus berjalan bersamaan. Banyak orang belum sadar bahwa membagikan konten intim tanpa izin adalah kejahatan.”

Karena di internet, satu tombol “share” sering terasa sepele, padahal dampaknya bisa menghancurkan hidup seseorang.

Budayawan: Akar Masalah Ada di Cara Pandang

Budayawan Butet Kartaredjasa, dalam seminar budaya gender 17/08/2025, menyebut teknologi hanyalah alat. Masalah utamanya tetap mentalitas.

“Kalau perempuan masih dianggap objek, maka ruang digital hanya mempercepat kekerasan yang sudah lama hidup di kepala.”

Pernyataan itu menohok. Server bisa diperbarui, tetapi budaya tak bisa berubah lewat satu tombol.

Kolaborasi Take Down dan Literasi Publik

Komnas Perempuan menyambut kerja sama dengan Komdigi untuk memperkuat mekanisme take down terhadap konten berbahaya, termasuk eksploitasi seksual.

“Kondisi ini membutuhkan langkah bersama, termasuk peningkatan tanggung jawab platform digital dalam menjaga ruang aman bagi pengguna, khususnya perempuan dan kelompok rentan,” kata Maria.

Selain itu, kedua lembaga akan memperkuat kampanye literasi digital dan menyiapkan kebijakan yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Bukan Sekadar Urusan Internet

Masalah ini bukan cuma soal aplikasi, server, atau moderasi konten. Ini soal rasa aman. Soal hak untuk hadir di ruang digital tanpa teror, pemerasan, penghinaan, atau perburuan.

Jika jalan raya punya lampu dan polisi, maka ruang digital juga butuh penjaga.

Karena internet seharusnya menjadi tempat bertumbuh, bukan tempat trauma tumbuh diam-diam. @teguh

Tags: algoritmaBudayawanDigitalEdukasiinternetketatKomdigikomnas perempuanKomunikasiKontenkorbanlaporanLiterasiOnlinePakarPengawasanPlatformRuangSanksiSosial & Publik

Kamu Melewatkan Ini

Sebelum Menyalahkan Negara, Pernahkah Kita Berkaca?

Sebelum Menyalahkan Negara, Pernahkah Kita Berkaca?

by jeje
Mei 24, 2026

Lucu, ya. Kita hidup di zaman ketika semua orang tampak marah. Timeline penuh kritik. Warung kopi berubah jadi ruang debat...

Socrates Tidak Mati, Kita yang Berhenti Bertanya

Filsafat Socrates: Mengapa Berpikir Kritis Semakin Langka di Era Digital

by jeje
Mei 22, 2026

Ada sesuatu yang terasa janggal di zaman ini. Informasi datang tanpa henti. Namun, manusia justru semakin sulit membedakan mana pengetahuan...

“Jangan Kau Minta Saja Terus”: Pesan Prabowo ke Buruh Bikin Publik Terbelah

“Jangan Kau Minta Saja Terus”: Pesan Prabowo ke Buruh Bikin Publik Terbelah

by jeje
Mei 20, 2026

Buruh diminta jangan terlalu banyak menuntut. Pengusaha jangan diperas. Itulah pesan blak-blakan Presiden Prabowo Subianto saat berbicara di Rapat Paripurna...

Next Post
Garuda Muda di Ujung Tali: Lawan Vietnam, Tekanan, Lawan Nasib

Garuda Muda di Ujung Tali: Lawan Vietnam, Tekanan, Lawan Nasib

Madilog Series

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026
Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Mei 25, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id