Jumat, September 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Komunitas Membagikan Buku Gratis: Kenapa Akses Literasi Masih Bergantung pada Relawan?

by teguh
Juli 11, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on Facebook
Share on Twitter
Membeli secangkir kopi hari ini jauh lebih mudah daripada menemukan perpustakaan yang hidup. Kedai-kedai baru bermunculan di hampir setiap sudut kota, sementara ruang baca justru semakin jarang menjadi tujuan masyarakat. Di tengah ironi itu, sekelompok warga di Kota Mojokerto memilih melakukan sesuatu yang sederhana, tetapi dampaknya jauh melampaui sekadar komunitas membagikan buku gratis.

Tabooo.id – Mereka tidak menunggu program besar atau kebijakan baru. Mereka mengumpulkan buku dari koleksi pribadi, mengajak orang lain berdonasi, lalu mengantarkan bacaan ke sekolah, rumah warga, hingga ruang publik. Gerakan komunitas membagikan buku gratis itu lahir bukan karena sistem berjalan baik, melainkan karena masih ada celah yang belum terisi.

Komunitas Kembali Membaca menjadi salah satu contoh bagaimana masyarakat mengambil peran ketika akses literasi belum hadir secara merata. Sejak 2021, komunitas tersebut secara konsisten menjalankan program Berbagi Buku setiap Hari Anak Nasional dan Hari Disabilitas Nasional. Dalam satu kegiatan, mereka mampu menyalurkan lebih dari seribu buku kepada pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum.

“Saat ini yang masih berjalan adalah program Berbagi Buku sejak 2021. Rutin tiap tahun dua kali, setiap Hari Anak dan Hari Disabilitas. Dibagikan rata-rata 1.000 buku per kegiatan. Ini sudah berjalan lima tahun,” ujar Dinamisator Komunitas Kembali Membaca, Galunggung Pamungkas, kepada Kompas.com saat ditemui pada Jumat, 10/06/2026.

Namun, angka ribuan buku itu bukan inti persoalannya. Yang jauh lebih penting adalah alasan mengapa gerakan seperti ini harus terus hadir.

Literasi Tidak Kekurangan Semangat, tetapi Masih Kekurangan Akses

Galunggung mulai menggerakkan lapak baca gratis sejak 2015 melalui Gerobak Impian di depan Taman Makam Pahlawan Kota Mojokerto. Antusiasme masyarakat saat itu cukup tinggi. Pandemi Covid-19 memang menghentikan aktivitas lapak baca, tetapi tidak memadamkan semangat komunitas.

Ini Belum Selesai

Anggaran BGN 2027 Turun Rp30 Triliun, MBG Tetap Dominan

Patungan Rp10 Ribu, Massa Datangi Kemensos Gugat Desil Bansos

Alih-alih berhenti, mereka mengubah strategi. Buku tidak lagi menunggu pembaca datang. Komunitas justru mendekatkan buku kepada masyarakat melalui program berbagi buku dan Book Hive, rak buku gratis yang kini hadir di empat kedai di Mojokerto dan Jombang.

“Sementara ini baru empat titik karena kami baru memiliki empat rak yang bisa dititipkan di kedai-kedai. Sebenarnya target awal kami adalah fasilitas umum. Kami ingin ada akses untuk masyarakat,” kata Galunggung.

Pernyataan itu memperlihatkan satu persoalan mendasar. Banyak orang berbicara tentang rendahnya minat baca, tetapi jauh lebih sedikit yang membahas mudah atau sulitnya masyarakat memperoleh bahan bacaan. Galunggung sendiri pernah mengalami kondisi tersebut.

“Dulu saya cukup sulit mendapat akses literasi secara gratis. Harus menyewa buku, sementara saya bukan dari golongan mampu. Teman-teman juga merasa bahwa membaca itu penting,” tuturnya.

Pengalaman pribadi itulah yang akhirnya berubah menjadi gerakan sosial.

Ketika Kedai Kopi Menjadi Perpustakaan Kecil

Salah satu Book Hive kini berdiri di Kedai Ramen Saehyo, Kota Mojokerto. Di sana, lebih dari seratus buku tersusun rapi dan dapat dibaca atau dibawa pulang tanpa biaya.

Pemilik kedai, M. Juniar Arfianto, melihat buku bukan sekadar pelengkap interior. Ia ingin menghadirkan ruang percakapan baru di tengah kebiasaan masyarakat yang semakin akrab dengan layar gawai.

“Kami mau kedai ini ditempati rak buku karena agar banyak interaksi dengan orang yang datang ke sini. Dia tidak hectic dengan ponselnya sendiri. Dia bisa menikmati makanannya sambil baca buku,” ujarnya.

Konsep sederhana itu ternyata mendapat respons positif. Hendro, salah seorang pengunjung, mengaku suasana kedai terasa berbeda karena menghadirkan kesempatan membaca di sela aktivitas sehari-hari.

“Apresiasi yang luar biasa, kami ngafe sekaligus bisa menambah literasi juga. Harapannya ini bisa dipertahankan dan dilanjutkan,” katanya.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa literasi tidak selalu membutuhkan gedung besar. Terkadang, sebuah rak buku di sudut kedai mampu menghadirkan ruang belajar yang lebih dekat dengan masyarakat.

Komunitas Tidak Seharusnya Menjadi Penyangga Utama

Gerakan Komunitas Kembali Membaca layak mendapat apresiasi karena berhasil mempertemukan buku dengan orang-orang yang membutuhkan. Akan tetapi, keberhasilan komunitas juga memunculkan pertanyaan yang lebih besar. Mengapa akses membaca masih sangat bergantung pada relawan?

Dalam perspektif pembangunan, literasi bukan sekadar kemampuan mengeja huruf. Literasi merupakan fondasi berpikir kritis, memahami informasi, mengambil keputusan, hingga meningkatkan kualitas hidup. Karena itu, penyediaan akses bacaan semestinya menjadi bagian dari ekosistem pendidikan dan kebijakan publik, bukan semata-mata bergantung pada inisiatif warga.

Komunitas mampu menjadi penggerak. Namun, komunitas tidak bisa memikul seluruh tanggung jawab negara dalam membangun budaya membaca.

Lebih dari Sekadar Membagikan Buku

Gerakan yang tumbuh di Mojokerto membuktikan satu hal. Masyarakat tidak pernah kehilangan kepedulian terhadap literasi. Mereka hanya membutuhkan ruang, akses, dan dukungan agar semangat itu terus berkembang. Pada akhirnya, kisah ini bukan hanya tentang ribuan buku yang berpindah tangan.

Ini adalah cerita tentang warga yang memilih bergerak ketika sistem belum sepenuhnya mampu mendekatkan buku kepada masyarakat. Selama relawan masih menjadi garda terdepan dalam membuka akses membaca, pekerjaan besar membangun budaya literasi Indonesia sesungguhnya belum selesai.

Mungkin persoalan terbesar bangsa ini bukan karena masyarakat enggan membaca. Bisa jadi, kita terlalu lama membiarkan buku berdiri jauh dari tempat orang-orang menjalani kehidupan sehari-hari. @teguh

Tags: Akses LiterasiBook HiveBudaya MembacaBuku Untuk SemuaGerakan LiterasiJawa TimurKomunitas LiterasiLiterasiMojokertoPendidikan IndonesiaRelawan

Kamu Melewatkan Ini

Sound Horeg Diatur Negara, Setelah Tiga Orang Meninggal

Sound Horeg Diatur Negara, Setelah Tiga Orang Meninggal

by dimas
September 17, 2026

Sound horeg mulai diatur pemerintah setelah tiga orang meninggal di Jawa Timur. Regulasi desibel disiapkan untuk menekan risiko kesehatan dan...

Karhutla Menerjang Jatim dan Kaltara, 38 Hektare Lahan Terbakar

Karhutla Menerjang Jatim dan Kaltara, 38 Hektare Lahan Terbakar

by dimas
September 14, 2026

Karhutla menerjang Jawa Timur dan Kalimantan Utara. BNPB mencatat sekitar 38 hektare lahan terbakar di Ponorogo, Pasuruan, dan Bulungan. Tabooo.id...

Smart TV di Sekolah, Listrik Masih Jadi Soal: Negara Sedang Membangun Apa?

Smart TV di Sekolah, Listrik, Internet Masih Jadi Soal: Negara Sedang Membangun Apa?

by teguh
September 12, 2026

Layar interaktif kini masuk ke ruang kelas hingga pelosok Nusa Tenggara Timur dengan hadirnya bantuan Smart TV di sekolah melalui...

Next Post
402 Rumah Sakit Angker Korea, Adaptasi yang Tak Sekadar Remake

402 Rumah Sakit Angker Korea, Adaptasi yang Tak Sekadar Remake

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id