Membeli secangkir kopi hari ini jauh lebih mudah daripada menemukan perpustakaan yang hidup. Kedai-kedai baru bermunculan di hampir setiap sudut kota, sementara ruang baca justru semakin jarang menjadi tujuan masyarakat. Di tengah ironi itu, sekelompok warga di Kota Mojokerto memilih melakukan sesuatu yang sederhana, tetapi dampaknya jauh melampaui sekadar komunitas membagikan buku gratis.
Tabooo.id – Mereka tidak menunggu program besar atau kebijakan baru. Mereka mengumpulkan buku dari koleksi pribadi, mengajak orang lain berdonasi, lalu mengantarkan bacaan ke sekolah, rumah warga, hingga ruang publik. Gerakan komunitas membagikan buku gratis itu lahir bukan karena sistem berjalan baik, melainkan karena masih ada celah yang belum terisi.
Komunitas Kembali Membaca menjadi salah satu contoh bagaimana masyarakat mengambil peran ketika akses literasi belum hadir secara merata. Sejak 2021, komunitas tersebut secara konsisten menjalankan program Berbagi Buku setiap Hari Anak Nasional dan Hari Disabilitas Nasional. Dalam satu kegiatan, mereka mampu menyalurkan lebih dari seribu buku kepada pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum.
“Saat ini yang masih berjalan adalah program Berbagi Buku sejak 2021. Rutin tiap tahun dua kali, setiap Hari Anak dan Hari Disabilitas. Dibagikan rata-rata 1.000 buku per kegiatan. Ini sudah berjalan lima tahun,” ujar Dinamisator Komunitas Kembali Membaca, Galunggung Pamungkas, kepada Kompas.com saat ditemui pada Jumat, 10/06/2026.
Namun, angka ribuan buku itu bukan inti persoalannya. Yang jauh lebih penting adalah alasan mengapa gerakan seperti ini harus terus hadir.
Literasi Tidak Kekurangan Semangat, tetapi Masih Kekurangan Akses
Galunggung mulai menggerakkan lapak baca gratis sejak 2015 melalui Gerobak Impian di depan Taman Makam Pahlawan Kota Mojokerto. Antusiasme masyarakat saat itu cukup tinggi. Pandemi Covid-19 memang menghentikan aktivitas lapak baca, tetapi tidak memadamkan semangat komunitas.
Alih-alih berhenti, mereka mengubah strategi. Buku tidak lagi menunggu pembaca datang. Komunitas justru mendekatkan buku kepada masyarakat melalui program berbagi buku dan Book Hive, rak buku gratis yang kini hadir di empat kedai di Mojokerto dan Jombang.
“Sementara ini baru empat titik karena kami baru memiliki empat rak yang bisa dititipkan di kedai-kedai. Sebenarnya target awal kami adalah fasilitas umum. Kami ingin ada akses untuk masyarakat,” kata Galunggung.
Pernyataan itu memperlihatkan satu persoalan mendasar. Banyak orang berbicara tentang rendahnya minat baca, tetapi jauh lebih sedikit yang membahas mudah atau sulitnya masyarakat memperoleh bahan bacaan. Galunggung sendiri pernah mengalami kondisi tersebut.
“Dulu saya cukup sulit mendapat akses literasi secara gratis. Harus menyewa buku, sementara saya bukan dari golongan mampu. Teman-teman juga merasa bahwa membaca itu penting,” tuturnya.
Pengalaman pribadi itulah yang akhirnya berubah menjadi gerakan sosial.
Ketika Kedai Kopi Menjadi Perpustakaan Kecil
Salah satu Book Hive kini berdiri di Kedai Ramen Saehyo, Kota Mojokerto. Di sana, lebih dari seratus buku tersusun rapi dan dapat dibaca atau dibawa pulang tanpa biaya.
Pemilik kedai, M. Juniar Arfianto, melihat buku bukan sekadar pelengkap interior. Ia ingin menghadirkan ruang percakapan baru di tengah kebiasaan masyarakat yang semakin akrab dengan layar gawai.
“Kami mau kedai ini ditempati rak buku karena agar banyak interaksi dengan orang yang datang ke sini. Dia tidak hectic dengan ponselnya sendiri. Dia bisa menikmati makanannya sambil baca buku,” ujarnya.
Konsep sederhana itu ternyata mendapat respons positif. Hendro, salah seorang pengunjung, mengaku suasana kedai terasa berbeda karena menghadirkan kesempatan membaca di sela aktivitas sehari-hari.
“Apresiasi yang luar biasa, kami ngafe sekaligus bisa menambah literasi juga. Harapannya ini bisa dipertahankan dan dilanjutkan,” katanya.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa literasi tidak selalu membutuhkan gedung besar. Terkadang, sebuah rak buku di sudut kedai mampu menghadirkan ruang belajar yang lebih dekat dengan masyarakat.
Komunitas Tidak Seharusnya Menjadi Penyangga Utama
Gerakan Komunitas Kembali Membaca layak mendapat apresiasi karena berhasil mempertemukan buku dengan orang-orang yang membutuhkan. Akan tetapi, keberhasilan komunitas juga memunculkan pertanyaan yang lebih besar. Mengapa akses membaca masih sangat bergantung pada relawan?
Dalam perspektif pembangunan, literasi bukan sekadar kemampuan mengeja huruf. Literasi merupakan fondasi berpikir kritis, memahami informasi, mengambil keputusan, hingga meningkatkan kualitas hidup. Karena itu, penyediaan akses bacaan semestinya menjadi bagian dari ekosistem pendidikan dan kebijakan publik, bukan semata-mata bergantung pada inisiatif warga.
Komunitas mampu menjadi penggerak. Namun, komunitas tidak bisa memikul seluruh tanggung jawab negara dalam membangun budaya membaca.
Lebih dari Sekadar Membagikan Buku
Gerakan yang tumbuh di Mojokerto membuktikan satu hal. Masyarakat tidak pernah kehilangan kepedulian terhadap literasi. Mereka hanya membutuhkan ruang, akses, dan dukungan agar semangat itu terus berkembang. Pada akhirnya, kisah ini bukan hanya tentang ribuan buku yang berpindah tangan.
Ini adalah cerita tentang warga yang memilih bergerak ketika sistem belum sepenuhnya mampu mendekatkan buku kepada masyarakat. Selama relawan masih menjadi garda terdepan dalam membuka akses membaca, pekerjaan besar membangun budaya literasi Indonesia sesungguhnya belum selesai.
Mungkin persoalan terbesar bangsa ini bukan karena masyarakat enggan membaca. Bisa jadi, kita terlalu lama membiarkan buku berdiri jauh dari tempat orang-orang menjalani kehidupan sehari-hari. @teguh







