Industri horor Indonesia sedang ramai. Hampir setiap bulan, bioskop penuh dengan pocong, kuntilanak, ritual mistis, sampai jumpscare yang datang tanpa aba-aba.
Namun, di tengah tren itu, Charles Gozali mencoba membawa arah berbeda lewat Badut Gendong.
Tabooo.id: Talk – Ia tidak sekadar ingin membuat penonton takut. Ia ingin membuat penonton merasa tidak nyaman secara emosional. Dan itu jauh lebih sulit.
Horor yang Terlalu Sibuk Mengejar Hantu
Selama ini, banyak film horor terlalu fokus mencari makhluk paling menyeramkan. Kamera bergerak cepat. Musik dibuat keras. Hantu muncul tiba-tiba. Penonton kaget. Selesai.
Padahal, rasa takut manusia tidak selalu datang dari sosok gaib.
Kadang, rasa takut terbesar justru lahir dari luka yang terus dipendam.
Namun, horor seperti itu masih jarang muncul di industri film Indonesia.
Charles Gozali Membawa Luka Manusia ke Layar
Charles tampaknya memahami hal tersebut. Karena itu, ia membangun Badut Gendong bukan sebagai monster biasa.
Ia menciptakan sosok yang lahir dari rasa kehilangan, kemarahan, dan ketidakadilan sosial.
Akibatnya, horor dalam film ini terasa lebih manusiawi sekaligus tragis.
Penonton mungkin tidak hanya merasa takut. Mereka juga bisa merasa kasihan pada sosok yang seharusnya menjadi monster.
Dan justru itu yang membuatnya terasa mengganggu.
Ketika Kehidupan Sosial Jadi Sumber Teror
Ironisnya, banyak film lebih nyaman menjual hantu daripada membahas manusia yang hancur karena hidup.
Padahal, realitas sosial hari ini penuh orang yang diam-diam kehilangan harapan. Banyak orang terlihat baik-baik saja, padahal mereka menyimpan tekanan hidup yang terus menumpuk.
Namun, film horor sering lupa membicarakan sisi tersebut.
Karena lebih mudah membuat penonton berteriak ketakutan daripada membuat mereka merasa sedih, marah, sekaligus takut dalam waktu bersamaan.
Monster yang Tidak Hilang Setelah Film Selesai
Badut Gendong mencoba bermain di ruang itu.
Film ini seperti ingin mengatakan bahwa monster paling menyeramkan kadang bukan makhluk gaib. Monster itu bisa lahir dari manusia biasa yang terlalu lama hidup dalam penderitaan.
Dan mungkin, itu alasan kenapa horor emosional terasa lebih membekas daripada sekadar jumpscare.
Sebab setelah lampu bioskop menyala, hantunya mungkin hilang.
Tapi luka manusianya tetap tinggal di kepala.@eko





