Setelah sukses lewat Qodrat, sutradara Charles Gozali kembali memperluas semesta horornya. Kali ini, ia menghadirkan Badut Gendong dengan nuansa yang lebih tragis dan emosional.
Tabooo.id: News – Berbeda dari Qodrat, film ini tidak hanya bicara soal iblis dan pertarungan agama. Sebaliknya, Badut Gendong menggali rasa sakit manusia yang perlahan berubah menjadi teror. Karena itu, horor dalam film ini terasa lebih dekat dan lebih manusiawi.
Qodrat Universe Masuk ke Sisi yang Lebih Kelam
Kesuksesan Qodrat belum membuat Charles Gozali berhenti bereksperimen. Lewat Badut Gendong, ia membuka sisi lain dari Qodrat Universe dengan pendekatan yang lebih gelap dan emosional.
Jika Qodrat menampilkan pertarungan hitam dan putih antara agama melawan iblis, Badut Gendong justru mengangkat penderitaan manusia kecil yang terus kalah melawan hidup.
“Badut Gendong lahir sebagai bentuk apa ya, musuh atau karakter yang berseberangan dari Qodrat. Karena memang kami berusaha menyiapkan semesta Qodrat agar kemudian dia berkembang,” kata Charles dalam keterangan pers.
Melalui pendekatan itu, Charles tidak hanya ingin menghadirkan rasa takut. Ia juga ingin menunjukkan bagaimana tekanan hidup bisa mengubah manusia menjadi sosok yang mengerikan.
Terinspirasi dari Kesenian Tradisional Solo
Untuk membangun karakter Badut Gendong, Charles melakukan riset panjang. Ia mengambil inspirasi dari kesenian tradisional yang sering muncul di wilayah Jawa, terutama Solo.
Lalu, ia mengembangkan karakter itu menjadi sosok yang tidak hanya menyeramkan, tetapi juga tragis.
Di balik kostum badutnya, tersimpan rasa marah, kehilangan, dan ketidakadilan sosial yang terus menumpuk.
Karena itu, Charles tidak menghadirkan Badut Gendong sebagai monster biasa. Ia menjadikan karakter tersebut simbol bagi orang-orang yang hidup di pinggir dan terus kalah melawan keadaan.
Kisah “Wong Kalahan” yang Terus Melawan
Charles menjelaskan bahwa sosok Badut Gendong mewakili “wong kalahan” atau kelompok yang hidup dalam tekanan tanpa henti.
Menurutnya, karakter ini lahir dari perjuangan banyak orang yang terus melawan takdir buruk dan penderitaan hidup.
“Yang kami hadirkan di Badut Gendong adalah entitas jahat baru tetapi ini datang dari sebuah kisah perlawanan dari wong kalahan,” jelas Charles.
Karena itu, film ini tidak hanya mengandalkan gore dan suasana mencekam. Charles juga mengajak penonton memahami rasa sakit yang membentuk karakter tersebut.
Akibatnya, horor dalam film ini terasa lebih emosional sekaligus menyedihkan.
Horor Indonesia Masuk Era Tragic-Romance
Selain membawa nuansa baru, Badut Gendong juga menjadi langkah Magma Entertainment untuk mendorong batas genre horor Indonesia.
Charles menyebut film ini sebagai bagian dari subgenre baru bernama Tragic-Romance.
Subgenre itu menggabungkan horor, tragedi, dan emosi romantis dalam satu cerita yang lebih personal.
“Jadi Badut Gendong adalah sebuah horor yang bisa dibilang mungkin berusaha menghadirkan sebuah subgenre baru,” ujar Charles.
Melalui konsep tersebut, Charles berharap penonton tidak hanya merasa takut. Ia juga ingin penonton merasakan simpati terhadap karakter di dalam cerita.
Ini Bukan Sekadar Film Horor
Di tengah tren horor Indonesia yang semakin ramai, Badut Gendong mencoba menawarkan pendekatan berbeda.
Film ini ingin menunjukkan bahwa rasa takut tidak selalu datang dari hantu atau makhluk gaib.
Sebaliknya, rasa takut terbesar sering lahir dari manusia yang terlalu lama hidup dalam penderitaan.
Dan mungkin, itu yang membuat horor seperti ini terasa jauh lebih mengganggu setelah film selesai diputar.@eko





