• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Senin, Maret 23, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home News

Awal Puasa, Cabai dan Sayur di Ponorogo Sama-Sama Meroket

Februari 20, 2026
in News, Regional
A A
Awal Puasa, Cabai dan Sayur di Ponorogo Sama-Sama Meroket

Ilustrasi pedagang cabai melayani pembeli di pasar tradisional saat lonjakan harga menekan daya beli masyarakat. (Foto ilustrasi Tabooo.id)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Regional – Memasuki awal Ramadhan 1447 Hijriah, dapur warga Ponorogo langsung diuji. Bukan oleh menu sahur atau buka puasa, melainkan oleh harga cabai rawit yang menembus batas psikologis. Di Pasar Legi Ponorogo, Jawa Timur, harga komoditas kecil yang menentukan rasa itu melesat hingga Rp105.000 per kilogram angka yang cukup membuat banyak orang menghela napas sebelum memasak.

Lonjakan harga ini tidak datang tiba-tiba. Permintaan masyarakat meningkat tajam menjelang puasa, sementara pasokan dari luar daerah justru tersendat. Kombinasi klasik ini kembali terulang: stok menipis, harga melambung, dan masyarakat kecil menjadi pihak pertama yang merasakan dampaknya.

Anggraini, pedagang cabai di Pasar Legi, merasakan langsung perubahan itu. Ia menyebut harga cabai rawit bahkan sempat menyentuh Rp100.000 per kilogram sebelum terus merangkak naik.

“Kemarin sudah tembus Rp100.000, sekarang Rp105.000 per kilogram. Barangnya susah dicari, tapi kebutuhan meningkat tajam,” ujarnya di lapak dagangannya, Jumat (20/2/2026).

Kenaikan ini tidak hanya mengubah harga, tetapi juga mengubah perilaku pembeli. Jika dulu pelanggan membeli satu kilogram, kini mereka hanya berani membeli satu ons. Akibatnya, omzet pedagang ikut tergerus.

Anggraini mengaku biasanya mampu menjual hingga 40 kilogram cabai per hari. Kini, ia bersyukur jika bisa menjual 10 kilogram.

“Pembeli sekarang beli sedikit-sedikit. Mereka tetap butuh cabai, tapi tidak sanggup beli banyak,” tambahnya.

Fenomena ini menunjukkan satu pola penting: ketika harga melonjak, konsumsi tidak hilang hanya diperkecil. Masyarakat menyesuaikan diri, bukan berhenti membeli.

Efek Domino: Sayur, Bawang, hingga Ayam Ikut Naik

Kenaikan cabai bukan satu-satunya masalah. Harga sayuran lain ikut merangkak naik. Kangkung dan kenikir, yang biasanya dijual Rp2.000 hingga Rp3.000 per ikat, kini mencapai Rp4.000 sampai Rp5.000. Bawang merah juga naik dari Rp35.000 menjadi Rp40.000 per kilogram.

Artinya, hampir seluruh komponen dapur mengalami tekanan harga secara bersamaan.

Kondisi serupa juga terjadi pada komoditas protein. Sri Widyastuti, pedagang ayam dan telur, mengatakan harga ayam potong naik menjadi Rp40.000 per kilogram, dari sebelumnya Rp36.000.

“Ini sudah seminggu naik. Bahkan lebih mahal dari Ramadhan tahun lalu,” ujarnya.

Harga telur juga ikut terkerek, dari Rp27.000 menjadi Rp29.000 per kilogram.

Kenaikan harga pangan di awal Ramadhan bukan sekadar statistik. Ia langsung menyentuh realitas kehidupan masyarakat.

Warga Bertahan dengan Cara Mereka Sendiri

Di tengah tekanan harga, warga tidak punya banyak pilihan. Mereka tetap harus membeli kebutuhan dapur, meski dengan jumlah yang lebih sedikit.

Lia, warga Ponorogo yang berbelanja di Pasar Legi, mengaku terpaksa mengubah strategi belanja.

RelatedPosts

Pemerintah Siapkan WFH 1 Hari untuk Tekan Konsumsi BBM

Harga Emas Dunia Anjlok di Tengah Tekanan Suku Bunga Tinggi

Ia mengurangi jumlah pembelian agar anggaran tetap cukup hingga akhir bulan.

“Terpaksa beli lebih sedikit. Kalau tidak, pengeluaran dapur bisa membengkak,” katanya.

Bagi keluarga seperti Lia, kenaikan harga bukan hanya soal angka. Ia menyentuh keseimbangan keuangan rumah tangga, memaksa mereka menghitung ulang prioritas.

Ramadhan yang seharusnya menjadi bulan refleksi spiritual justru sering berubah menjadi bulan ujian ekonomi bagi masyarakat kecil.

Ramadhan dan Ujian yang Selalu Berulang

Lonjakan harga pangan menjelang Ramadhan bukan cerita baru. Pola ini berulang setiap tahun, seolah menjadi tradisi yang sulit diputus. Permintaan meningkat, distribusi terganggu, dan harga pun naik.

Pedagang kecil kehilangan volume penjualan. Konsumen kehilangan daya beli. Sementara itu, pasar terus bergerak tanpa kompromi.

Pada akhirnya, cabai bukan sekadar bumbu dapur. Ia menjadi simbol sederhana tentang bagaimana ekonomi bekerja dan siapa yang paling dulu merasakan pedasnya.

Karena di negeri ini, setiap Ramadhan datang dengan dua rasa manisnya harapan, dan pedasnya harga kebutuhan. @dimas

Tags: 2026cabaiDaya BeliEkonomiHargaInflasiKebutuhanKenaikanMahalPanganPasar TradisionalPedagangponorogorakyatRamadan
Next Post
Prabowo dan Trump Sepakat Teken Tarif Dagang Baru

Prabowo dan Trump Sepakati Tarif Resiprokal, Arah Baru Ekonomi RI-AS

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

6 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • SSD Lebih Awet dari HDD? Atau Kita yang Makin Takut Kehilangan Data?

    SSD Lebih Awet dari HDD? Atau Kita yang Makin Takut Kehilangan Data?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kuta Not Crime: Kenapa Muncul di Tembok Poppies?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Harga Bitcoin Melemah di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • KPK Buka Peluang Tahanan Rumah, Kasus Yaqut Jadi Sorotan Publik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Trump Beri Ultimatum 48 Jam ke Iran untuk Buka Selat Hormuz

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.