Tabooo.id: Teknologi – Pernah kepikiran nggak, di tengah harga kopi susu yang makin mahal dan scroll TikTok yang makin panjang, negara ini malah sibuk mikirin roket? Kedengarannya absurd, ya. Tapi faktanya, Indonesia sedang serius menyiapkan Bandar Antariksa Nasional di Pulau Biak, Papua. Bukan buat gaya-gayaan, tapi karena hidup modern termasuk hidup kamu pelan-pelan makin bergantung pada ruang angkasa.
Mulai dari Google Maps, ramalan cuaca, sinyal internet, sampai aplikasi ojek online, semuanya numpang lewat satelit. Jadi, ketika BRIN tancap gas bicara soal bandar antariksa, sebenarnya mereka sedang bicara soal masa depan gaya hidup kita juga.
Roket, Regulasi, dan Rencana Jangka Panjang
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat kerja sama lintas sektor untuk mempercepat pembangunan Bandar Antariksa Nasional di Biak. Langkah ini bukan ide dadakan. Pemerintah menyiapkan fondasi hukumnya sejak lama.
Plt Deputi Bidang Kebijakan Pembangunan BRIN, Anugerah Widiyanto, menjelaskan Indonesia sudah punya Undang-undang Keantariksaan sejak 2013. Selain itu, Perpres tentang Rencana Induk Keantariksaan dan PP soal penguasaan teknologi antariksa ikut mengatur arah mainnya.
BRIN juga hampir merampungkan Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Penyelenggaraan Bandar Antariksa. Artinya, proyek ini tinggal menunggu lampu hijau operasional. Anugerah bahkan mendorong pembaruan rencana induk hingga 2045 supaya sejalan dengan visi Indonesia Emas.
Singkatnya, negara ini nggak sedang bermimpi kosong. Mereka sedang menyiapkan cetak biru.
Kenapa Harus Biak? Ini Bukan Kebetulan
Pulau Biak bukan dipilih karena eksotis atau sekadar simbol pemerataan. Lokasinya dekat garis khatulistiwa, dan itu soal fisika, bukan politik. Roket yang meluncur dari daerah khatulistiwa butuh energi lebih kecil untuk mencapai orbit rendah bumi.
Efeknya sederhana tapi signifikan biaya peluncuran lebih murah dan efisiensi lebih tinggi. Dalam dunia antariksa, selisih kecil bisa berarti jutaan dolar. Jadi, Biak memberi Indonesia keunggulan alami yang jarang dimiliki negara lain.
Kajian soal Biak sendiri sudah berjalan sejak 1990. BRIN kini memperbaruinya agar relevan dengan teknologi mutakhir, kebutuhan nasional, dan kondisi lingkungan terkini.
Ekonomi Antariksa Itu Nyata, Bukan Sci-Fi
Kalau kata “ekonomi antariksa” terdengar terlalu futuristik, coba lihat angkanya. Menurut BRIN, ekonomi antariksa global menyumbang sekitar 5 persen dari PDB dunia. Angka itu bukan kecil.
Bandar antariksa bukan cuma tempat roket lepas landas. Ia membuka pintu ke industri peluncuran, jasa satelit, riset teknologi, hingga diplomasi internasional. Negara yang punya akses mandiri ke antariksa tidak perlu selalu menyewa jasa negara lain.
Dampaknya juga terasa di darat. Pembangunan ini menciptakan lapangan kerja, mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, dan menarik investasi. Bagi Papua, ini peluang besar untuk keluar dari narasi “daerah tertinggal” dan masuk ke percakapan global.
Di Balik Layar Peluncuran Roket
Peluncuran roket bukan acara tekan tombol lalu hitung mundur. BRIN memaparkan prosesnya secara detail, dari desain roket, manufaktur, verifikasi kesiapan, hingga penentuan go atau no go.
Tim juga mengurus notifikasi ruang udara dan laut lewat NOTAM dan NOTMAR, melakukan sosialisasi ke masyarakat, mengatur transportasi roket, sampai menangani fase pascapeluncuran. Semua tahap menuntut koordinasi ketat dan standar keselamatan tinggi.
Bandar antariksa juga butuh infrastruktur serius listrik stabil, jaringan telekomunikasi kuat, fasilitas kesehatan berstandar internasional, serta sistem keamanan dan logistik yang rapi. Ini bukan proyek setengah-setengah.
Antariksa dan Psikologi Bangsa
Di level lifestyle, proyek ini bicara soal cara bangsa memandang dirinya sendiri. Negara yang berani investasi di antariksa biasanya punya kepercayaan diri jangka panjang. Mereka tidak cuma mikirin besok pagi, tapi 20–30 tahun ke depan.
Buat Gen Z dan milenial, ini relevan. Kita hidup di era kecemasan kolektif soal kerja, iklim, masa depan. Proyek seperti bandar antariksa memberi narasi tandingan bahwa negara masih berani bermimpi besar dan membangun fondasinya.
Kepala BRIN Arif Satria menyebut pembangunan bandar antariksa sebagai amanah strategis negara. Ia menegaskan proyek ini sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045 dan penguatan posisi Indonesia di panggung global. BRIN bahkan menargetkan pembukaan lahan di Biak mulai 2026.
Jadi, Apa Dampaknya Buat Kamu?
Mungkin kamu tidak akan melihat roket tiap hari. Tapi internet lebih stabil, sistem navigasi lebih akurat, dan kemandirian teknologi nasional akan langsung menyentuh hidupmu.
Bandar antariksa bukan soal mimpi ke luar angkasa semata. Ia soal keberanian melihat masa depan lebih jauh dari layar ponsel. Pertanyaannya sekarang kamu mau hidup di negara yang cuma jadi pengguna teknologi, atau ikut bangga saat negara sendiri ikut meluncurkannya?. @teguh





