Tabooo.id: Life – “Rp5 ribu ini akan kuberikan untuk stik hockey,” ujar Adi Darmawan Leksono lirih, menatap tabungan yang dikumpulkannya selama sebulan. Bagi keluarga sederhana itu, Rp1 juta untuk membeli alat olahraga bukan angka kecil. Ayahnya bekerja sebagai buruh pabrik harian lepas, sementara ibunya berdagang kecil-kecilan. Namun tekad Adi lebih besar daripada keterbatasan ekonomi yang membelenggu. Setiap hari, ia berjalan kaki ke sekolah, membawa mimpi dan stik pemberian guru olahraganya, Kusnadi, di SMAN 14 Kabupaten Tangerang.
Perjalanan itu tampak sederhana, tapi sesungguhnya ia adalah awal dari kisah perjuangan panjang seorang atlet yang kelak mempersembahkan medali emas untuk Indonesia. Dari tabungan uang jajannya, Adi belajar arti kerja keras, kesabaran, dan pengorbanan. Ia menolak membebani orang tua, memilih mengumpulkan dana sendiri demi membeli alat yang menjadi jembatan menuju prestasi.
Keraguan yang Menjadi Pemacu Semangat
Adi menekuni hockey sejak remaja. Awalnya, kedua orang tuanya ragu. “Hockey itu olahraga apa? Apakah kamu bisa bermain?” tanya mereka. Keraguan itu justru memantik semangatnya. Setiap latihan, setiap tetes keringat di lapangan, ia niatkan untuk membuktikan kemampuan. Dari tingkat daerah hingga provinsi, prestasinya terus menanjak, sampai akhirnya ia menembus Tim Nasional Hockey Indoor Putra Indonesia saat masih berstatus mahasiswa.
Panggilan pertama untuk pemusatan latihan nasional (pelatnas) SEA Games 2019 di Filipina belum mengantarkannya ke skuad utama. Biaya dan kondisi menjadi kendala. Namun kesempatan kedua muncul saat persiapan Kejuaraan Asia Cup 2021. Pelatih asal Malaysia, Dhaarma Raj, menaruh kepercayaan padanya. Laga internasional pertama itu menjadi titik awal kiprah Adi di panggung global. Sejak itu, ia menjadi pilar Timnas Indonesia, termasuk saat SEA Games 2023 di Kamboja.
Air Mata di Tengah Sejarah
Momen SEA Games 2023 menjadi sejarah. Indonesia mengalahkan Malaysia, juara bertahan, untuk pertama kalinya meraih medali emas. Adi yang bertugas sebagai right midfield dan defend meneteskan air mata. Bahagia dan lega bercampur dalam satu rasa. Semua pengorbanan, latihan, dan perjuangan selama bertahun-tahun terasa terbayar.
Keberhasilan itu tidak berhenti di situ. Adi kembali menjadi bagian Timnas untuk Piala Asia 2024 di Kazakhstan dan SEA Games 2025 di Thailand. Di final SEA Games 2025, Indonesia menundukkan Malaysia melalui adu penalti dramatis setelah skor 4-4 di waktu normal. Kemenangan 2-0 di penalti bukan hanya soal angka di papan skor, tapi simbol kerja keras, solidaritas tim, dan dukungan berbagai pihak.
Kolaborasi di Balik Medali
“Prestasi ini bukan hanya perjuangan atlet dan pelatih,” tambah Adi, menatap rekan-rekannya. “PP FHI dan Kemenpora memfasilitasi training camp dan uji coba di Eropa. Tanpa dukungan mereka, sejarah emas ini takkan terukir.”
Cerita Adi Darmawan adalah cermin bahwa prestasi lahir dari latar belakang apa pun. Ia mengajarkan bahwa impian bisa diraih dengan kesungguhan, disiplin, dan keberanian menempuh jalan sendiri ketika fasilitas terbatas. Dari anak yang berjalan kaki dengan tabungan lima ribu rupiah, kini ia menjadi bagian dari sejarah emas hockey Indonesia.
Lebih dari Sekadar Medali
Di balik medali, ada cerita tentang ketekunan, pengorbanan, dan tekad melawan keterbatasan. Kisah Adi menegaskan bahwa prestasi sejati tidak hanya diukur dari kemenangan di lapangan, tetapi dari proses panjang yang ditempuh dengan hati. Pertanyaan yang tersisa adalah berapa banyak potensi lain yang masih tersembunyi, menunggu kesempatan dan dukungan yang tepat untuk bersinar? @dimas




