Tabooo.id: Bisnis – CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani membuka peluang bagi institusi asing untuk menjadi pemegang saham Bursa Efek Indonesia (BEI) setelah proses demutualisasi rampung. Pernyataan ini menandai babak baru perubahan struktur kepemilikan bursa yang selama puluhan tahun dikuasai perusahaan sekuritas domestik.
Demutualisasi mengubah BEI dari lembaga milik anggota bursa menjadi perusahaan berbadan hukum yang berorientasi korporasi. Skema tersebut memisahkan keanggotaan perdagangan dari kepemilikan saham, dua fungsi yang selama ini melekat dalam satu entitas.
“Sekarang anggota dan kepemilikan itu gabung dan sebagian besar dimiliki sekuritas. Ke depan kami pisahkan supaya pengelolaan lebih baik dan transparan,” ujar Rosan di Gedung BEI, Jakarta, Minggu (1/2/2026).
Melalui skema baru ini, BEI tidak lagi membatasi kepemilikan hanya untuk perusahaan efek. Investor institusional lain, termasuk dari luar negeri, bisa masuk sebagai pemegang saham.
Danantara Bersiap Ambil Porsi
Rosan menegaskan, Danantara Indonesia sebagai sovereign wealth fund (SWF) nasional tertarik mengambil porsi kepemilikan BEI. Ia menilai keterlibatan SWF dalam kepemilikan bursa sebagai praktik lazim di berbagai negara.
Selain Danantara, Rosan menyebut SWF asing juga berpeluang masuk. Menurutnya, keterbukaan ini justru memperkuat daya tarik BEI di mata investor global.
“Yang masuk nanti bukan hanya Danantara, tetapi juga bisa SWF lainnya,” tambahnya.
Pemerintah memandang keterlibatan SWF dapat memperkuat struktur permodalan BEI sekaligus meningkatkan kredibilitas pasar modal nasional.
Regulasi Dipercepat, Target Semester I 2026
Saat ini pemerintah merampungkan Peraturan Pemerintah (PP) sebagai dasar hukum demutualisasi BEI. Proses tersebut melibatkan Kementerian Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), BEI, serta para pelaku pasar modal.
Pemerintah menyelaraskan regulasi ini dengan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK). Melalui payung hukum tersebut, pemerintah menargetkan demutualisasi selesai pada semester pertama 2026.
Langkah ini menunjukkan komitmen kuat negara untuk mereformasi tata kelola bursa.
Sekuritas Bergeser, Ritel Menanti Manfaat
Perubahan struktur kepemilikan berpotensi menggeser posisi perusahaan sekuritas yang selama ini berperan sebagai pemilik sekaligus pengguna utama BEI. Ke depan, mereka tidak lagi otomatis menguasai bursa.
Sebaliknya, investor ritel dan emiten berpeluang menikmati manfaat berupa tata kelola yang lebih transparan, profesional, dan berorientasi pada kepentingan pasar secara luas.
Namun, rencana membuka kepemilikan bagi investor asing juga memunculkan pertanyaan tentang seberapa besar kendali nasional atas infrastruktur pasar keuangan strategis.
Demutualisasi BEI memang menjanjikan modernisasi. Tetapi di balik semangat keterbukaan, publik patut mengingat satu hal bursa bukan sekadar tempat transaksi, melainkan jantung kedaulatan ekonomi. Apakah jantung itu akan semakin kuat, atau justru bergantung pada pompa dari luar negeri? @dimas




