Selasa, November 3, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Nasi Jemblung, Warisan Raja Solo yang Kembali Populer

by eko
Mei 8, 2026
in Culture, Food
A A
Home Culture

Tabooo.id: Lifestyle – Pernah nggak kamu lagi scroll media sosial, lalu berhenti karena melihat nasi dengan lubang di tengahnya? Bukan donat nasi. Bukan juga eksperimen dapur anak kos. Itu Nasi Jemblung kuliner klasik asal Solo yang kini mulai mencuri perhatian generasi Z dan Milenial. Lucunya, makanan yang dulu jadi favorit raja sekarang pelan-pelan naik kelas jadi konten Instagram.

Iya, serius. Dari meja bangsawan ke feed medsos.

Kuliner Favorit Pakubuwono X

Nasi Jemblung bukan makanan sembarangan. Konon, hidangan ini menjadi favorit Pakubuwono X, salah satu raja besar Keraton Surakarta Hadiningrat. Sejak awal, Nasi Jemblung sudah membawa status sosial sebagai kuliner elite, bukan menu harian rakyat biasa.

Bentuknya ikonik. Nasi dicetak melingkar dengan lubang di tengah asal mula nama “jemblung”. Lubang itu kemudian diisi bistik atau semur lidah sapi yang dimasak sampai empuk. Aromanya keluar dari campuran pala, cengkeh, dan saus kenari. Rasanya manis dan gurih, khas Jawa, dengan sentuhan Eropa yang samar.

Cara makannya pun punya aturan sendiri. Kamu harus membelah nasi menjadi dua, lalu menyantapnya perlahan sambil menyiram semur dari bagian tengah. Tidak bisa asal suap. Ada ritme, ada etika kecil.

Ini Belum Selesai

Sembilan Dewa Gitar di Panggung Guns N’ Roses: Rock Indonesia Bukan Sekadar Nostalgia

Tesla Pamerkan Mobil Terbang, Benarkah Siap Meluncur pada 2028?

Meski mendapat pengaruh kuliner Belanda, Nasi Jemblung tetap menjaga akar Jawa. Sambal bawang, lalapan mentimun dan tomat, plus kerupuk selalu menemani sajian ini.

Dari Kuliner Keraton ke Tren Anak Kota

Di era berburu hidden gem dan makanan otentik, Nasi Jemblung terasa relevan lagi. Banyak anak muda kini tidak sekadar mencari rasa, tapi juga cerita. Mereka ingin tahu asal-usul makanan, filosofi di baliknya, bahkan siapa yang dulu menikmatinya.

Fenomena ini sejalan dengan tren kebangkitan kuliner tradisional. Gen Z dan Milenial hari ini tidak cuma makan. Mereka ingin terkoneksi dengan masa lalu.

Ada faktor psikologis di balik itu. Di tengah burnout kerja, tekanan sosial, dan hidup serba cepat, banyak orang mencari kenyamanan lewat hal-hal yang berakar. Makanan tradisional memberi rasa aman. Ia menghadirkan nostalgia kolektif, meski kita sendiri tidak hidup di zamannya Pakubuwono X.

Nasi Jemblung pun berubah jadi comfort food bersejarah. Ia tidak cuma mengenyangkan perut, tapi juga memberi sensasi pulang. Ditambah tampilannya yang unik, hidangan ini terasa seperti memang diciptakan untuk kamera.

Lebih dari Sekadar Makan, Ini Soal Identitas

Kebangkitan Nasi Jemblung juga bicara soal identitas. Banyak anak muda kota besar merasa jauh dari akar budaya. Hidup di apartemen, kerja remote, makan serba pesan online. Ketika mereka sengaja mencari makanan tradisional, itu bukan sekadar lapar. Itu usaha kecil untuk menyentuh kembali akar.

Ironisnya, di Solo sendiri Nasi Jemblung belum mudah ditemukan. Biasanya hidangan ini muncul dalam acara adat atau perayaan keagamaan. Beberapa restoran memang masih menyajikannya, tapi jumlahnya terbatas.

Artinya, makanan bersejarah ini justru sering diburu wisatawan, bukan generasi lokal. Padahal, pelestarian budaya tidak cukup lewat museum. Kadang, piring makan bekerja lebih efektif.

Apa Dampaknya Buat Kamu?

Mungkin kamu belum pernah mencicipi Nasi Jemblung. Bisa jadi kamu baru dengar namanya hari ini. Tapi ceritanya relevan untuk siapa pun yang hidup di era serba instan. Bangkitnya kuliner tradisional menunjukkan satu hal: kita sedang mencari makna di tengah rutinitas. Kita rindu koneksi dengan budaya, dengan cerita, dengan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar “enak”.

Jadi, lain kali kamu menemukan makanan unik dengan sejarah panjang, coba berhenti sebentar. Nikmati perlahan. Dengarkan kisahnya. Karena bisa jadi, di balik satu porsi nasi, ada perjalanan ratusan tahun yang diam-diam ingin kamu kenal.

Sekarang pertanyaannya buat kamu: di tengah hidup yang makin cepat ini, kapan terakhir kali kamu benar-benar merasakan makananmu bukan cuma memakannya? @eko

Tags: foodKraton SoloKulinerMakananRaja Solo

Kamu Melewatkan Ini

Lima Tahun Menjaga Rasa, Lontong Kikil Bang J Melawan Ketidakpastian

Lima Tahun Menjaga Rasa, Lontong Kikil Bang J Melawan Ketidakpastian

by teguh
September 7, 2026

Semangkuk lontong kikil bang J seharga Rp18 ribu tampak sederhana. Lontong, kikil, tahu, dan kuah kaldu tersaji dalam satu mangkuk...

Akses Kraton Ditutup Seng, Konflik Kembali Mengemuka

Akses Kraton Ditutup Seng, Konflik Kembali Mengemuka

by eko
September 3, 2026

Akses Pelataran Kraton ditutup seng. Kubu PB XIV Purbaya mempertanyakan penutupan, sementara LDA menyebut revitalisasi sebagai jawaban. Tabooo.id: Surakarta -...

Lontong Kikil Bang J: Dari Pinggir Jalan, Sampai Pelanggan Luar Kota

Lontong Kikil Bang J: Dari Pinggir Jalan, Sampai Pelanggan Luar Kota

by teguh
September 3, 2026

Di pinggir jalan Dusun Gedang Klutuk, Mojokerto, semangkuk lontong kikil bang J punya cara sendiri untuk memanggil orang datang. Bukan...

Next Post
Jokowi di Rakernas PSI: Saya Akan Bekerja Mati-matian untuk PSI

Jokowi di Rakernas PSI: Saya Akan Bekerja Mati-matian untuk PSI

Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id