Tabooo.id: Lifestyle – Pernah nggak sih kamu tiba-tiba kepikiran jajanan SD gara-gara satu video viral? Lagi scroll santai, eh yang muncul bukan OOTD atau coffee shop baru, tapi es gabus iya, jajanan warna-warni yang dulu sering kita beli pakai uang receh. Bedanya, kali ini es gabus viral bukan karena nostalgia manis, tapi karena kisah pahit penjualnya.
Beberapa waktu terakhir, media sosial ramai membahas Sudrajat, penjual es gabus di kawasan Kemayoran, Jakarta. Ia dianiaya dan diinterogasi oleh oknum Babinsa TNI dan Bhabinkamtibmas Polri. Mengapa? Oknum aparat menuduh dagangan es gabusnya mengandung bahan berbahaya, bahkan menyamakannya dengan spons. Video interogasi itu menyebar cepat dan bikin publik geram.
Padahal setelah memeriksa, pihak berwenang menyatakan es gabus aman dikonsumsi dan tidak mengandung zat berbahaya. Yang “berbahaya” justru perlakuan aparat terhadap pedagang kecil seperti Sudrajat.
Es Gabus: Jajanan Lawas yang Tiba-tiba Viral Lagi
Di luar kontroversi, es gabus sebenarnya sudah akrab bagi generasi milenial. Buat yang lahir di era 1990-an, es gabus adalah bagian ritual masa kecil: menunggu penjual keliling lewat depan rumah, dengar suara sepeda atau langkah kaki, lalu beli satu batang es warna pink-hijau-putih yang dingin dan manis.
Jajanan ini punya banyak nama. Ada yang menyebutnya es gabus karena teksturnya padat tapi empuk dan berongga seperti spons. Di beberapa daerah, orang menyebutnya es kue atau es pelangi karena tampilannya berlapis-lapis warna. Apa pun namanya, sensasinya sama: sederhana, dingin, dan penuh kenangan.
Bahan es gabus pun sebenarnya jauh dari tuduhan aneh-aneh. Pedagang memasak tepung hunkwe atau pati kacang hijau bersama santan, gula, dan sedikit garam untuk membuat es gabus. Tepung hunkwe ini kuncinya memberi tekstur kenyal yang lumer di mulut. Tidak ada spons, tidak ada bahan kimia misterius. Yang ada cuma resep tradisional dan keterampilan tangan.
Kenapa Es Gabus Bisa Meredup?
Kalau es gabus se-enak dan se-ikonik itu, kenapa sekarang jarang ditemui? Jawabannya cukup klasik: gaya hidup berubah. Sejak era 2000-an, jajanan pabrikan dan makanan kekinian membanjiri pasar. Anak-anak lebih akrab dengan es krim kemasan, minuman boba, atau snack viral TikTok. Akibatnya, jajanan tradisional yang dijual keliling perlahan tersingkir.
Selain itu, standar “kebersihan” versi modern juga memengaruhi persepsi. Banyak orang langsung curiga pada jajanan kaki lima, tanpa benar-benar memahami proses atau bahannya. Ironisnya, kita mudah percaya label kemasan, tapi cepat curiga pada makanan tradisional yang diwariskan turun-temurun.
Sudrajat adalah contoh nyata dari mereka yang bertahan. Ia sudah puluhan tahun menjajakan es gabus, menjaga resep lama tetap hidup di tengah arus zaman. Sayangnya, alih-alih dihargai, ia justru mengalami kekerasan dan stigma.
Lebih dari Sekadar Jajanan: Isu Sosial di Baliknya
Kasus es gabus ini sesungguhnya bukan hanya soal makanan. Ia membuka diskusi lebih luas tentang relasi kuasa, prasangka, dan cara aparat memandang warga kecil.
Secara psikologis, nostalgia punya daya tarik besar bagi milenial dan Gen Z. Kita rindu masa sederhana, rindu jajanan murah, rindu hidup yang terasa lebih “pelan”. Namun di saat yang sama, nostalgia itu berbenturan dengan realitas sosial hari ini di mana pedagang kecil sering berada di posisi paling rentan.
Reaksi publik di media sosial menunjukkan satu hal: banyak orang merasa “terpanggil” karena es gabus menjadi bagian memori kolektif. Ketika orang menyerang jajanan masa kecil kita, hati kita nggak cuma mikir, tapi juga ikut tergelitik dan tersentuh.
Jadi, Apa Dampaknya Buat Kamu?
Mungkin kamu nggak pernah lagi beli es gabus. Mungkin kamu lebih sering pesan minuman literan lewat aplikasi. Namun kasus ini mengingatkan satu hal penting gaya hidup bukan cuma soal apa yang kita konsumsi, tapi juga nilai yang kita dukung.
Apakah kita masih mau memberi ruang bagi yang kecil dan sederhana? Atau kita lebih nyaman percaya pada label mahal dan seragam?
Es gabus hari ini bukan cuma soal dingin dan manis. Ia jadi simbol tentang nostalgia, tentang ketimpangan, dan tentang bagaimana masyarakat bereaksi ketika yang lemah diperlakukan tidak adil. Jadi, lain kali kalau kamu lihat penjual jajanan lawas di pinggir jalan, mungkin yang perlu kita lakukan bukan curiga tapi berhenti sebentar, beli satu, dan ingat: kita semua pernah tumbuh dari hal-hal sederhana. (red)




