Sabtu, Mei 16, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Es Gabus Viral: Jajanan SD yang Tiba-Tiba Jadi Isu Serius

by sigit
Mei 8, 2026
in Culture, Food
A A
Home Culture
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Lifestyle – Pernah nggak sih kamu tiba-tiba kepikiran jajanan SD gara-gara satu video viral? Lagi scroll santai, eh yang muncul bukan OOTD atau coffee shop baru, tapi es gabus iya, jajanan warna-warni yang dulu sering kita beli pakai uang receh. Bedanya, kali ini es gabus viral bukan karena nostalgia manis, tapi karena kisah pahit penjualnya.

Beberapa waktu terakhir, media sosial ramai membahas Sudrajat, penjual es gabus di kawasan Kemayoran, Jakarta. Ia dianiaya dan diinterogasi oleh oknum Babinsa TNI dan Bhabinkamtibmas Polri. Mengapa? Oknum aparat menuduh dagangan es gabusnya mengandung bahan berbahaya, bahkan menyamakannya dengan spons. Video interogasi itu menyebar cepat dan bikin publik geram.

Padahal setelah memeriksa, pihak berwenang menyatakan es gabus aman dikonsumsi dan tidak mengandung zat berbahaya. Yang “berbahaya” justru perlakuan aparat terhadap pedagang kecil seperti Sudrajat.

Es Gabus: Jajanan Lawas yang Tiba-tiba Viral Lagi

Di luar kontroversi, es gabus sebenarnya sudah akrab bagi generasi milenial. Buat yang lahir di era 1990-an, es gabus adalah bagian ritual masa kecil: menunggu penjual keliling lewat depan rumah, dengar suara sepeda atau langkah kaki, lalu beli satu batang es warna pink-hijau-putih yang dingin dan manis.

Jajanan ini punya banyak nama. Ada yang menyebutnya es gabus karena teksturnya padat tapi empuk dan berongga seperti spons. Di beberapa daerah, orang menyebutnya es kue atau es pelangi karena tampilannya berlapis-lapis warna. Apa pun namanya, sensasinya sama: sederhana, dingin, dan penuh kenangan.

Ini Belum Selesai

Saat Orang Cari Gluten-Free, Papua Sudah Punya dari Sagu

Film “Timur” : Iko Uwais Membuka Luka Masa Lalu

Bahan es gabus pun sebenarnya jauh dari tuduhan aneh-aneh. Pedagang memasak tepung hunkwe atau pati kacang hijau bersama santan, gula, dan sedikit garam untuk membuat es gabus. Tepung hunkwe ini kuncinya memberi tekstur kenyal yang lumer di mulut. Tidak ada spons, tidak ada bahan kimia misterius. Yang ada cuma resep tradisional dan keterampilan tangan.

Kenapa Es Gabus Bisa Meredup?

Kalau es gabus se-enak dan se-ikonik itu, kenapa sekarang jarang ditemui? Jawabannya cukup klasik: gaya hidup berubah. Sejak era 2000-an, jajanan pabrikan dan makanan kekinian membanjiri pasar. Anak-anak lebih akrab dengan es krim kemasan, minuman boba, atau snack viral TikTok. Akibatnya, jajanan tradisional yang dijual keliling perlahan tersingkir.

Selain itu, standar “kebersihan” versi modern juga memengaruhi persepsi. Banyak orang langsung curiga pada jajanan kaki lima, tanpa benar-benar memahami proses atau bahannya. Ironisnya, kita mudah percaya label kemasan, tapi cepat curiga pada makanan tradisional yang diwariskan turun-temurun.

Sudrajat adalah contoh nyata dari mereka yang bertahan. Ia sudah puluhan tahun menjajakan es gabus, menjaga resep lama tetap hidup di tengah arus zaman. Sayangnya, alih-alih dihargai, ia justru mengalami kekerasan dan stigma.

Lebih dari Sekadar Jajanan: Isu Sosial di Baliknya

Kasus es gabus ini sesungguhnya bukan hanya soal makanan. Ia membuka diskusi lebih luas tentang relasi kuasa, prasangka, dan cara aparat memandang warga kecil.

Secara psikologis, nostalgia punya daya tarik besar bagi milenial dan Gen Z. Kita rindu masa sederhana, rindu jajanan murah, rindu hidup yang terasa lebih “pelan”. Namun di saat yang sama, nostalgia itu berbenturan dengan realitas sosial hari ini di mana pedagang kecil sering berada di posisi paling rentan.

Reaksi publik di media sosial menunjukkan satu hal: banyak orang merasa “terpanggil” karena es gabus menjadi bagian memori kolektif. Ketika orang menyerang jajanan masa kecil kita, hati kita nggak cuma mikir, tapi juga ikut tergelitik dan tersentuh.

Jadi, Apa Dampaknya Buat Kamu?

Mungkin kamu nggak pernah lagi beli es gabus. Mungkin kamu lebih sering pesan minuman literan lewat aplikasi. Namun kasus ini mengingatkan satu hal penting gaya hidup bukan cuma soal apa yang kita konsumsi, tapi juga nilai yang kita dukung.

Apakah kita masih mau memberi ruang bagi yang kecil dan sederhana? Atau kita lebih nyaman percaya pada label mahal dan seragam?

Es gabus hari ini bukan cuma soal dingin dan manis. Ia jadi simbol tentang nostalgia, tentang ketimpangan, dan tentang bagaimana masyarakat bereaksi ketika yang lemah diperlakukan tidak adil. Jadi, lain kali kalau kamu lihat penjual jajanan lawas di pinggir jalan, mungkin yang perlu kita lakukan bukan curiga tapi berhenti sebentar, beli satu, dan ingat: kita semua pernah tumbuh dari hal-hal sederhana. (red)

Tags: Es GabusMakananOOTD

Kamu Melewatkan Ini

Cireng Murah Menyembunyikan Biaya yang Tidak Pernah Kamu Lihat

Cireng Murah Menyembunyikan Biaya yang Tidak Pernah Kamu Lihat

by Anisa
Mei 3, 2026

Harga murah menggoda kamu untuk menggigit tanpa pikir panjang, tetapi satu porsi cireng langsung memindahkan biaya dari dompet ke tubuh...

Cireng dan Cara Halus Mengubah Kebiasaan Makan Generasi Muda

Cireng dan Cara Halus Mengubah Kebiasaan Makan Generasi Muda

by Anisa
Mei 8, 2026

Cireng terlihat sederhana, tetapi cara orang mengonsumsinya hari ini tidak lagi sesederhana itu. Dari gorengan pinggir jalan, ia berubah menjadi...

Singkong Keju: Dari Pangan Krisis ke Gaya Hidup Siapa Mengubah, Siapa Tertinggal?

Singkong Keju: Dari Pangan Krisis ke Gaya Hidup Siapa Mengubah, Siapa Tertinggal?

by Anisa
Mei 8, 2026

Singkong keju terlihat seperti camilan sederhana. Namun, di balik taburan keju dan tekstur renyahnya, tersimpan ironi panjang tentang kelas, rekayasa...

Next Post
KUHP Baru dan Kasus Hogi Minaya: Naluri Melindungi Keluarga vs Hukum

KUHP Baru dan Kasus Hogi Minaya: Naluri Melindungi Keluarga vs Hukum

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Jurnalis Kalteng Diteror Usai Ajakan Nobar “Pesta Babi”, Diancam Disiram Air Keras

Jurnalis Kalteng Diteror Usai Ajakan Nobar “Pesta Babi”, Diancam Disiram Air Keras

Mei 15, 2026

Disekap dan Diperkosa: Ironi Mahasiswi Makassar Saat Mencari Pekerjaan

Mei 15, 2026

“Sepatu Kekecilan” dan Tragedi Siswa SMK Samarinda yang Mengguncang Publik

Mei 15, 2026

300 Rumah Terendam Saat Warga Tidur: Banjir Lumajang Datang dari Hulu

Mei 15, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id