Rabu, Mei 13, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Tekanan AS ke Iran Meningkat, Trump Dukung Aksi Demonstran

by dimas
Januari 14, 2026
in Global, Reality
A A
Home Reality Global
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Global – Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka menyerukan warga Iran untuk terus turun ke jalan di tengah gelombang penindakan aparat keamanan yang menewaskan ribuan orang. Seruan itu muncul saat situasi dalam negeri Iran kian genting, baik secara politik maupun ekonomi, dengan demonstrasi besar dipicu anjloknya nilai mata uang dan krisis biaya hidup.

Dalam pernyataan terbarunya, Trump bahkan menjanjikan bahwa “bantuan sedang dalam perjalanan” bagi para demonstran. Sikap tersebut menandai eskalasi tajam tekanan Amerika Serikat terhadap Teheran, di tengah laporan kredibel tentang meningkatnya jumlah korban tewas akibat penindasan protes.

Seruan Terbuka Trump dari Media Sosial

Trump menyampaikan dukungannya secara langsung melalui platform Truth Social pada Selasa (13/1/2026). Ia mendorong warga Iran untuk terus berdemo dan merebut kembali institusi negara. “Para patriot Iran, teruslah berdemo ambil alih institusi-institusi kalian!!! Bantuan sedang dalam perjalanan,” tulisnya.

Pernyataan ini muncul sehari setelah juru bicara Gedung Putih mengakui bahwa serangan udara termasuk dalam “banyak, banyak opsi” yang tengah dipertimbangkan pemerintahan AS. Trump juga mengumumkan pembatalan seluruh pertemuan dengan pejabat Iran hingga apa yang ia sebut sebagai “pembunuhan tanpa alasan” terhadap demonstran dihentikan.

Korban Tewas Membengkak, Dunia Sulit Memverifikasi

Seruan Trump datang di tengah laporan yang menunjukkan lonjakan tajam jumlah korban. Kelompok pemantau hak asasi manusia memperkirakan sedikitnya 2.000 warga Iran tewas dalam gelombang protes terbaru. Sebelumnya, otoritas Iran hanya mengakui sekitar 600 korban.

Ini Belum Selesai

Sekolah Rakyat di Kupang: Jalan Baru Anak Miskin Keluar dari Batas Pendidikan?

MBG Bisa Ditolak, Prabowo Persilakan Anak Orang Kaya Mundur

Pembatasan internet dan pengetatan media membuat verifikasi independen nyaris mustahil. Namun, bocoran gambar kamar jenazah yang dipenuhi tubuh demonstran memperkuat laporan tentang skala kekerasan. Associated Press mengutip Human Rights Activists in Iran yang menyebut setidaknya 135 korban berasal dari kelompok yang berafiliasi dengan pemerintah.

Tekanan Ekonomi Jadi Bahan Bakar Protes

Aksi protes di Iran bermula dari kesulitan ekonomi yang semakin parah. Nilai tukar riyal Iran anjlok ke titik terendah, memicu lonjakan harga kebutuhan pokok dan menggerus daya beli masyarakat. Sejak 28 Desember 2025, tekanan ekonomi itu berubah menjadi tuntutan politik terbuka untuk menjatuhkan pemerintahan ulama yang telah lama berkuasa.

Rezim Iran merespons dengan penangkapan massal, pemadaman internet, dan ancaman hukuman berat, termasuk hukuman mati, bagi peserta demonstrasi. Pendekatan keras ini justru memperlebar jurang antara negara dan warganya.

Ancaman Tarif dan Isolasi Global

Trump tidak hanya menekan Iran secara politik, tetapi juga ekonomi. Ia mengumumkan tarif 25 persen terhadap negara mana pun yang tetap berdagang dengan Iran. Kebijakan itu berlaku segera dan menyasar seluruh transaksi bisnis negara tersebut dengan Amerika Serikat.

China, sebagai mitra dagang terbesar Iran, langsung bereaksi. Juru bicara Kedutaan Besar China di Washington, Liu Pengyu, menyatakan Beijing akan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk melindungi kepentingannya. Irak, Uni Emirat Arab, dan Turki mitra dagang utama Iran lainnya juga berpotensi terdampak kebijakan ini.

Rusia mengkritik keras langkah AS. Moskow menilai kekuatan eksternal tengah memanfaatkan ketegangan publik di Iran untuk mengguncang stabilitas negara tersebut. Sementara itu, negara-negara Eropa seperti Inggris, Perancis, Jerman, dan Italia memilih jalur diplomatik dengan memanggil duta besar Iran, sambil berupaya menjauh dari skenario intervensi militer AS.

Iran di Persimpangan Krisis

Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper mendesak Iran mempertanggungjawabkan laporan kekerasan terhadap demonstran. Kanselir Jerman Friedrich Merz bahkan menyatakan keyakinannya bahwa rezim Iran berada di ambang kejatuhan. Menurutnya, pemerintahan yang hanya bertahan dengan kekerasan sejatinya sudah kehilangan legitimasi.

Bagi warga Iran, krisis ini bukan sekadar pertarungan geopolitik. Mereka menjadi pihak paling terdampak terjepit di antara represi negara, tekanan ekonomi, dan manuver kekuatan global.

Di panggung dunia, seruan Trump mungkin terdengar sebagai dukungan kebebasan. Namun, bagi warga di jalanan Teheran, janji “bantuan sedang dalam perjalanan” masih terasa seperti gema jauh keras di media sosial, tetapi belum tentu tiba sebelum korban kembali berjatuhan. @dimas

Tags: DemoDonald TrumpEkonomi IndonesiaGeopolitikGlobalInternasionalKrisis GlobalPerang IranPolitik IndonesiaStabilitasTekanan

Kamu Melewatkan Ini

Profil Dandhy Laksono: Jurnalis yang Memilih Bertanya Saat Banyak Orang Diam

Profil Dandhy Laksono: Jurnalis yang Memilih Bertanya Saat Banyak Orang Diam

by jeje
Mei 12, 2026

Dandhy Laksono kembali jadi sorotan. Bukan karena kontroversi biasa, tetapi karena film dokumenternya, Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita, memicu rasa...

Amir Syarifuddin: Tokoh Komunis yang Membawa Injil saat Eksekusi

Amir Syarifuddin: Tokoh Komunis yang Membawa Injil saat Eksekusi

by Tabooo
Mei 12, 2026

Amir Syarifuddin pernah menjadi Perdana Menteri Republik Indonesia, tetapi namanya lebih sering muncul dalam bayang-bayang PKI dan Peristiwa Madiun 1948....

Rupiah Anjlok ke Rp 17.500 per Dolar AS, Investor Mulai Kehilangan Kepercayaan

Rupiah Anjlok ke Rp 17.500 per Dolar AS, Investor Mulai Kehilangan Kepercayaan

by dimas
Mei 12, 2026

Rupiah anjlok menyentuh angka Rp 17.500 per dolar AS. Tekanan global dan turunnya kepercayaan investor disebut jadi penyebab utama. Di...

Next Post
Wapres Gibran Sambangi Pasar Ikan Biak, Papua

Wapres Gibran Sambangi Pasar Ikan Biak, Papua

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Mei 12, 2026

Rupiah Anjlok ke Rp 17.500 per Dolar AS, Investor Mulai Kehilangan Kepercayaan

Mei 12, 2026

Kuota Tanpa Batas? Nyaman Buat Kamu, Tapi Jaringan Bisa Kewalahan

Mei 8, 2026

Sekolah Rakyat di Kupang: Jalan Baru Anak Miskin Keluar dari Batas Pendidikan?

Mei 12, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id